

Halaman 1
Di sebuah desa di Jepang, tinggallah kakek dan nenek bersama anjing putih bernama Shiro. Mereka sangat menyayangi Shiro. Di sebelah rumah mereka, tinggal seorang tetangga yang pemarah dan iri hati.

Halaman 2
Suatu hari di kebun, Shiro menggonggong sambil mencakar-cakar tanah. «Guk! Guk! Di sini, di sini!» Kakek pun menggali. Trang! Cangkulnya membentur sesuatu: sebuah guci penuh kepingan emas! «Wah! Terima kasih, Shiro!»
Halaman 3
Tetangga iri melihat dari balik pagar. «Pinjamkan anjing itu!» Ia menyeret Shiro ke kebunnya. «Cari emas!» Shiro mencakar tanah, tetangga menggali cepat-cepat... tapi yang keluar hanya pecahan periuk. «Anjing tak berguna!» Ia mengusir Shiro pulang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Shiro menarik-narik baju kakek, mengajaknya ke lereng bukit. Di sana berdiri pohon sakura tua yang sudah lama kering. Shiro menggonggong ke sebatang dahan besar yang jatuh. «Kau ingin aku membuat sesuatu dari kayu ini?» tanya kakek.
Halaman 5
Kakek membuat lesung — alat penumbuk beras — dari kayu itu. Ketika nenek menumbuk beras untuk mochi, kue beras yang kenyal, terjadi keajaiban: berasnya bertambah dan harum! Mochi mereka jadi yang terenak di desa, dan mereka membaginya ke tetangga.
Halaman 6
Tetangga iri datang lagi. «Pinjamkan lesung itu!» Tapi di rumahnya, beras malah berubah jadi lumpur. «Lesung jelek!» Ia melempar lesung itu ke perapian sampai jadi abu. Kakek datang dan menghela napas. «Kalau begitu, abunya saja kubawa pulang, ya.»
Halaman 7
Kakek membawa abu itu dengan hati-hati. Tiba-tiba angin bertiup, dan abu beterbangan ke pohon sakura kering di lereng bukit. Ajaib! Sekejap saja pohon itu berbunga! Merah muda, lembut, seperti awan senja. «Pohon kering bisa berbunga!» seru kakek.
Halaman 8
Kabar itu sampai ke raja daerah yang sedang lewat. «Kakek, tunjukkan padaku!» Kakek memanjat pohon kering di tepi jalan dan menebarkan abu. Fuuh! Bunga sakura bermekaran memenuhi dahan. Raja bersorak. «Luar biasa! Kuberi nama Kakek Penyebar Bunga!»
Halaman 9
Tetangga iri merebut sisa abu dan menebarkannya sembarangan. Abu masuk ke matanya. «Aduh, perih!» Raja menggeleng-geleng. Akhirnya ia menunduk malu. «Maafkan aku.» Kakek tersenyum dan membagi mochi untuknya juga. Sejak itu ia berhenti iri.
Halaman 10
Musim semi tiba, bukit pun penuh bunga sakura, merah muda sejauh mata memandang. Shiro tidur melingkar di bawah pohon, kenyang mochi. Bayangkan kelopak sakura jatuh pelan... satu... dua... tiga... Pejamkan mata, tidurlah selembut kelopak bunga.
"Hanasaka Jiisan", kakek yang membuat bunga bermekaran, adalah dongeng rakyat Jepang yang sangat dikenal sejak zaman Edo dan termasuk lima dongeng klasik yang diajarkan kepada anak-anak di sana. Anjing setia, lesung ajaib, dan abu yang membuat pohon berbunga adalah gambarnya yang paling terkenal. Sakura yang mekar serentak lalu cepat gugur adalah bagian penting budaya Jepang.
Sakura sungguhan bisa dilihat di Indonesia: Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat menanam sakura dataran tinggi yang berbunga sekitar awal dan pertengahan tahun. Mochi pun akrab di sini: kue moci Sukabumi yang kenyal berasal dari resep serupa. Lesung kayu masih ada di desa-desa.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Dalam versi asli tetangga iri membunuh anjing itu, dan pohon tumbuh dari kuburnya; versi kami membiarkan Shiro hidup dan memberi tetangga kesempatan meminta maaf. Bahan ngobrol: kenapa keajaiban tidak bekerja di tangan tetangga? Bagaimana rasanya iri, dan apa yang membantu menghilangkannya?
Hati yang iri merusak, hati yang murah hati membuat segalanya berbunga.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.