

Halaman 1
Dahulu kala, Mesir dipimpin raja yang murah hati bernama Osiris. Ia berkeliling negeri, mengajari orang menanam gandum dan membuat roti. Adiknya, Isis yang bijaksana, selalu membantunya. Rakyat menyayangi mereka.

Halaman 2
Osiris punya adik lain bernama Set. Set kuat dan lincah, tapi hatinya sering panas. «Semua orang menyanyikan lagu tentang kakakku,» gerutunya. «Tidak ada satu lagu pun tentang aku.» Rasa iri itu tumbuh seperti duri kecil.
Halaman 3
Suatu hari Set mengadakan pesta. Ia membawa peti kayu indah berukir bintang emas. «Ayo main!» serunya. «Siapa yang badannya pas berbaring di peti ini, boleh memilikinya!» Para tamu mencoba. Ada yang terlalu tinggi, ada yang terlalu kecil.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Osiris mencoba paling akhir. Pas sekali! «Aku menang!» tawanya. Tapi — klik! Set menutup peti dan menguncinya. «Kakak suka berkeliling negeri, kan?» katanya jahil. «Sekarang giliran kakak berlayar!» Ia mendorong peti itu ke sungai Nil.
Halaman 5
Peti itu hanyut dibawa arus, jauh... jauh sekali, sampai ke negeri asing bernama Byblos. Osiris tetap tenang, sebab peti itu empuk dan ada celah angin. «Isis pasti mencariku,» bisiknya. Di pantai, akar sebuah pohon besar memeluk peti itu erat-erat.
Halaman 6
Di Mesir, Isis mencari ke mana-mana. Ia bertanya pada angin — angin tidak tahu. Ia bertanya pada sungai — sungai hanya bergumam. Lalu anak-anak yang bermain di tepi Nil berseru: «Kami lihat! Peti berukir bintang, hanyut ke arah laut!»
Halaman 7
«Terima kasih, anak-anak baik!» Isis berlayar mengikuti arus, bertanya di setiap pantai, sampai tiba di Byblos. Di sana ia melihat pohon besar yang harum dan berkilau aneh. Jantungnya berdebar. «Kakakku ada di sini.»
Halaman 8
Isis membisikkan nama rahasia Ra yang dahulu dipercayakan kepadanya. Akar-akar pohon perlahan mengendur dan membuka. Klik! Kunci peti terbuka. Osiris keluar sambil menggeliat. «Aduh... tidurku panjang sekali!» Kakak dan adik berpelukan lama.
Halaman 9
Mereka pulang ke Mesir. Set bersembunyi di balik tiang istana, malu sekali. Osiris menemukannya. «Aku cuma ingin dilihat juga,» bisik Set. Osiris memeluknya. «Kalau begitu, jadilah penjaga jalan gurun. Itu tugas untuk orang kuat sepertimu.»
Halaman 10
Set pun menjaga jalan gurun bagi para musafir, dan akhirnya orang-orang menyanyikan lagu tentang Set juga. Malam ini Nil mengalir tenang, seluruh istana terlelap. Kamu juga, ya. Tidur nyenyak sampai pagi.
Kisah Isis dan Osiris adalah mitos terbesar Mesir kuno; potongan-potongannya terukir di dalam piramida lebih dari empat ribu tahun lalu, dan versi utuhnya dituliskan penulis Yunani Plutarkhos pada abad pertama Masehi. Peti yang pas badan dan pohon di Byblos — semuanya dari catatan Plutarkhos.
Byblos adalah kota nyata di pantai Lebanon, salah satu yang tertua di dunia; kapal Mesir memang berlayar ke sana membeli kayu cedar. Peran Osiris sebagai pengajar bertani punya kembaran di rumah: Dewi Sri dalam cerita rakyat Jawa dan Bali juga dikenang sebagai pembawa padi. Ajak anak menaruh biji padi di kapas basah dan menunggu tunasnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Aslinya jauh lebih gelap: Osiris meninggal di dalam peti, jasadnya dipotong-potong Set, lalu ia menjadi raja alam orang mati. Versi kami berhenti pada peti yang ditemukan, dan Set menerima maaf serta tugas, bukan hukuman. Bahan ngobrol: Set iri karena tidak ada lagu tentangnya — apa yang bisa ia lakukan selain mengunci kakaknya?
Kesetiaan menemukan jalan pulang, dan rasa iri sembuh oleh maaf serta tugas yang berarti.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.