

Halaman 1
Di tepi laut biru tinggal seorang kakek nelayan dan istrinya. Rumah mereka gubuk tua. Setiap hari kakek menjala ikan. Suatu pagi, jalanya terasa berat. Di dalamnya ada seekor ikan kecil — ikan mas yang bersinar seperti emas sungguhan!

Halaman 2
"Lepaskan aku, Kek," kata ikan itu. Ia bisa bicara! "Aku akan mengabulkan permintaanmu." Kakek terkejut, lalu tersenyum. "Aku tidak butuh apa-apa, ikan kecil. Berenanglah, sana." Ia melepasnya ke laut, lalu pulang dengan tangan kosong.
Halaman 3
Istrinya marah mendengarnya. "Dasar tidak berguna! Bak cuci kita sudah pecah! Kembali ke laut, minta bak baru!" Kakek pun kembali. "Ikan mas ajaib, tolonglah!" Laut beriak pelan. "Jangan sedih, Kek. Pulanglah." Di rumah, bak cuci baru sudah ada.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tapi istrinya belum puas. "Bak saja? Minta rumah baru!" Kakek kembali ke laut yang mulai berombak. Ikan mas muncul. "Pulanglah, Kek." Dan di tempat gubuk tua itu kini berdiri rumah kayu yang bagus dengan jendela berukir.
Halaman 5
"Rumah? Aku mau jadi nyonya bangsawan!" seru istrinya keesokan harinya. Laut berwarna kelabu saat kakek memanggil ikan mas. Sekali lagi permintaan dikabulkan. Istrinya kini memakai gaun mewah dan menyuruh-nyuruh pelayan dengan suara keras.
Halaman 6
Seminggu kemudian, istrinya memanggil kakek. "Aku mau jadi ratu!" Kakek memohon, "Cukuplah, Bu..." "Cepat pergi!" Laut sudah gelap dan bergelombang. Ikan mas mendengarkan, lalu menyelam tanpa berkata apa-apa. Dan istrinya... menjadi ratu di istana.
Halaman 7
Menjadi ratu pun belum cukup. "Aku mau jadi penguasa laut! Ikan mas itu harus melayaniku!" Kakek berjalan ke pantai dengan hati berat. Badai bertiup, ombak setinggi rumah. "Ikan mas ajaib..." panggilnya. Ikan mas muncul dan menatapnya lama.
Halaman 8
Ikan mas tidak menjawab apa-apa. Ekornya berkecipak — plas! — lalu ia hilang ke dalam laut. Badai pun reda. Laut menjadi tenang seperti kaca. Kakek berdiri lama di pantai, lalu berjalan pulang pelan-pelan.
Halaman 9
Di tempat istana megah, berdiri gubuk tua mereka. Istrinya duduk di depan pintu, memandangi bak yang pecah. "Aku terlalu serakah," bisiknya. "Padahal dulu kita sudah punya yang kita perlukan." Kakek duduk di sampingnya, menggenggam tangannya.
Halaman 10
Malam itu mereka makan sup ikan sederhana, dan rasanya cukup. Di luar, ombak berbisik pelan di pasir: shhh... shhh... seperti laut yang menyanyikan lagu tidur. Dengarkan ombak itu bersama mereka. Pelan... pelan... dan tidurlah.
"Ikan Mas Ajaib" adalah dongeng bersajak Alexander Pushkin, penyair terbesar Rusia, ditulis 1833 dengan judul "Kisah Nelayan dan Ikan" dari motif rakyat yang juga dicatat Grimm bersaudara. Di Rusia baris-barisnya dihafal anak sekolah, dan "tinggal bak pecah" jadi ungkapan untuk orang serakah yang kehilangan segalanya.
Ikan mas dalam cerita ini mudah dihadirkan: ikan mas koki di akuarium adalah kerabat dekatnya, dan ikan mas goreng atau pepes di dapur masih satu keluarga ikan karp. Laut yang berubah tiap permintaan, dari biru tenang sampai badai, juga nyata: di pantai anak bisa melihat warna laut berubah menjelang hujan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Pada Pushkin cerita berhenti di bak pecah tanpa penyesalan; istrinya kasar sampai memukul suaminya. Versi kami membuang kekerasan itu dan menambahkan pengakuan "aku terlalu serakah" serta tangan yang bergenggaman. Bahan ngobrol: permintaan mana yang masih wajar, dan mulai kapan jadi berlebihan? Apa yang sudah cukup di rumah kita?
Yang serakah akhirnya kehilangan segalanya — bersyukur membuat hati merasa cukup.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.