

Halaman 1
Dahulu kala, di sebuah gua di gunung Kyllene, lahirlah bayi dewa bernama Hermes, putra Zeus dan Maia. Bayi biasa hanya bisa menangis dan tidur. Tapi Hermes? Baru lahir pagi hari, siangnya ia sudah bisa berjalan, dan matanya berbinar penuh akal.

Halaman 2
Sore itu, sambil ibunya tertidur, Hermes kecil merangkak keluar gua. Di dekat gua ia menemukan tempurung kura-kura kosong, lalu memasang senar-senar halus — jadilah kecapi pertama di dunia! Ia memetiknya: tring... indah sekali.
Halaman 3
Puas bermain musik, Hermes berjalan-jalan lebih jauh dan tiba di padang rumput para dewa. Di sana merumput lima puluh sapi putih milik Apollo, dewa musik dan cahaya. «Wah,» pikir Hermes sambil tersenyum nakal, «sepertinya seru menggiring sapi.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Hermes punya akal jenaka: ia menggiring sapi-sapi berjalan mundur, supaya jejaknya menghadap arah yang salah! Kakinya sendiri dibungkus daun supaya jejaknya aneh. Lalu ia menyembunyikan sapi-sapi di gua kecil dan pulang.
Halaman 5
Di rumah, Hermes menyelinap ke keranjang bayinya dan pura-pura tidur pulas. Sementara itu Apollo menghitung sapinya: «Empat puluh delapan, empat puluh sembilan... kurang!» Ia mengikuti jejak — dan jejaknya menuju arah yang salah!
Halaman 6
«Jejak sapi mundur? Jejak aneh berdaun?» Apollo menggaruk kepala. Tapi Apollo tahu banyak hal. Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum tipis. «Kenakalan sejenaka ini... pasti ulah anak Maia yang baru lahir itu.» Ia terbang ke gunung Kyllene.
Halaman 7
«Maia! Bayimu mengambil sapi-sapiku!» seru Apollo. Maia menunjuk keranjang: bayi mungil tidur manis sambil memeluk selimut. «Bayi umur sehari menggiring lima puluh sapi?» Tapi Apollo melihat sudut mulut bayi itu tersenyum. «Aha! Ketahuan!»
Halaman 8
Apollo membawa Hermes menghadap Zeus. Raja para dewa berusaha memandang tegas... tapi kumisnya bergerak-gerak menahan tawa. «Hermes, kembalikan sapi-sapi itu.» «Baik, Ayah. Aku minta maaf, Apollo. Ikutlah, kutunjukkan guanya.»
Halaman 9
Sapi-sapi kembali lengkap. Tapi Apollo masih cemberut — sampai Hermes mengeluarkan kecapinya dan mulai bermain. Tring... tring... Musik selembut itu belum pernah ada. Mata Apollo terbelalak. «Indahnya! Aku dewa musik, tapi alat ini belum kukenal!»
Halaman 10
«Ambillah, ini hadiah untukmu,» kata Hermes. «Tanda maaf dan tanda sahabat.» Apollo memeluk kecapi itu dengan gembira — kelak kecapi inilah yang diwariskan kepada para pemusik dunia. Sejak hari itu Hermes dan Apollo bersahabat karib selamanya.
Halaman 11
Zeus memberi Hermes tugas istimewa: menjadi utusan para dewa, dengan topi dan sandal bersayap. Tapi itu nanti, setelah ia besar. Malam ini Maia menyelimuti bayinya yang lelah. Tidurlah, si kecil penuh akal. Selamat tidur.
Kisah bayi Hermes datang dari himne-himne Yunani kuno yang berusia sekitar dua setengah ribu tahun — mitos paling jenaka tentang dewa utusan waktu masih bayi, lengkap dengan kecapi pertama di dunia dari tempurung kura-kura.
Orang Romawi menyebut Hermes "Mercurius", dan nama itu kini melekat pada planet yang paling cepat mengelilingi matahari: Merkurius, yang kadang terlihat rendah di langit fajar atau senja — pas untuk si dewa tercepat. Gunung Kyllene tempat ia lahir pun gunung sungguhan di Yunani.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini cerita paling ringan di seri mitos Yunani kami — kenakalannya jenaka dan hampir tidak ada yang perlu dilunakkan. Bahan ngobrol: yang membereskan semuanya bukan hukuman, melainkan tiga langkah Hermes — mengaku, minta maaf, dan memberi sesuatu untuk menebus. Resep yang sama persis berlaku untuk kenakalan di rumah, dan Zeus yang menahan tawa akan sangat dikenali para orang tua.
Kalau berbuat salah, akuilah dan perbaiki — kejujuran mengubah masalah menjadi persahabatan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.