

Halaman 1
Di sebuah desa hiduplah Kakek dan Nenek. Mereka tidak punya anak, dan rumah mereka sepi. Suatu hari salju turun tebal sekali. Anak-anak tetangga bermain di halaman. "Nek," kata Kakek tiba-tiba, "ayo kita buat anak dari salju!"

Halaman 2
Mereka menggulung salju bersama. Kakek membentuk badannya, Nenek membentuk wajahnya: pipi bulat, senyum manis. Lalu terjadilah keajaiban. Pipi salju itu memerah, matanya berkedip, dan gadis kecil itu tersenyum. "Halo, Kakek! Halo, Nenek!"
Halaman 3
"Snegurochka! Gadis Salju kami!" seru Nenek gembira sampai menangis. Gadis Salju masuk ke rumah dan tinggal bersama mereka. Kulitnya seputih salju, rambutnya seperti embun beku. Ia riang, suka menyanyi, dan tertawanya seperti lonceng kecil.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sepanjang musim dingin Gadis Salju bermain di luar. Ia meluncur di es, membuat benteng salju, dan menari di bawah bulan. "Dinginnya enak sekali!" katanya. Kakek dan Nenek memandanginya dari jendela, dan rumah mereka tidak pernah sepi lagi.
Halaman 5
Tapi musim berganti. Salju mulai mencair, sungai mengalir lagi, dan matahari bersinar makin hangat. Gadis Salju menjadi pendiam. Ia lebih suka duduk di tempat teduh. "Kamu kenapa, Nak?" tanya Nenek cemas. "Matahari itu terlalu terang untukku, Nek."
Halaman 6
Musim panas tiba. Teman-teman mengajaknya ke padang. "Ayo ikut! Kami mau memetik bunga dan menari!" Gadis Salju ragu. Kakek berkata lembut, "Pergilah, tapi jangan lama di bawah matahari." Gadis Salju mengangguk dan memakai topi lebar.
Halaman 7
Di padang, semua menari mengelilingi api unggun sambil tertawa. "Ayo, Snegurochka, giliranmu!" seru teman-temannya. Gadis Salju tersenyum. Ia berlari, lalu melompat — dan pada saat itu, ia berubah menjadi kabut putih yang lembut.
Halaman 8
Kabut itu naik pelan-pelan ke langit, dan dari atas terdengar suaranya, "Jangan sedih, teman-teman. Aku pulang dulu ke awan. Nanti, kalau salju pertama turun, aku datang lagi." Teman-temannya melambaikan tangan ke langit yang biru.
Halaman 9
Kakek dan Nenek mendengar kabar itu dan merindukannya. Tapi mereka teringat janjinya. Setiap musim dingin, salju pertama turun di halaman mereka — lembut, berkilau, dan hangat di hati. "Selamat datang kembali, Snegurochka," bisik Nenek setiap kali.
Halaman 10
Malam ini pun, di suatu tempat, awan sedang menyiapkan salju baru. Kakek dan Nenek terlelap di dekat tungku, tersenyum dalam tidur. Di luar, langit tenang dan sabar menunggu musim dingin. Pejamkan matamu juga, sayang. Sampai jumpa di dalam mimpi.
Gadis Salju, Snegurochka, hidup dalam dongeng rakyat Rusia tentang kakek-nenek yang membuat anak dari salju; tercatat pada abad ke-19, lalu dijadikan lakon oleh Alexander Ostrovsky (1873) dan opera oleh Nikolai Rimsky-Korsakov. Kini Snegurochka juga dikenal sebagai cucu Ded Moroz yang membagikan hadiah Tahun Baru.
Satu-satunya salju abadi di negeri kita ada di Puncak Jaya, Papua, dan esnya terus menyusut karena bumi menghangat. Percobaan di rumah lebih mudah: letakkan dua es batu, satu di bawah matahari dan satu di tempat teduh, lalu amati bersama — begitulah yang dirasakan Gadis Salju saat musim panas datang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Aslinya Gadis Salju meleleh saat melompati api unggun dan tidak kembali; kesedihan itu kami pertahankan, tapi dijadikan perpisahan dengan janji: ia pulang ke awan dan datang lagi bersama salju pertama. Bahan ngobrol: kenapa Gadis Salju tetap ikut ke padang walau tahu matahari terik? Ke mana air es batu pergi setelah mencair?
Yang kita sayangi bisa pergi untuk sementara, tapi kenangan dan janji untuk bertemu lagi tetap menghangatkan hati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.