

Halaman 1
Dahulu kala di pulau Kreta, hiduplah Daedalus, ahli bangunan paling pintar di dunia, bersama putranya Ikarus. Daedalus-lah yang dulu membangun labirin Raja Minos. Tapi raja tidak mengizinkan mereka pulang — mereka dikurung di menara tinggi.

Halaman 2
«Raja menjaga semua kapal di laut,» kata Daedalus sambil memandang jendela. «Tapi ia tidak bisa menjaga langit.» Setiap hari burung camar hinggap di menara. Setiap hari bulu-bulu kecil jatuh ke lantai. Dan Daedalus mulai mendapat akal.
Halaman 3
Diam-diam Daedalus mengumpulkan bulu demi bulu. Ia menyusunnya dari yang kecil sampai yang besar, mengikatnya dengan benang, dan merekatkannya dengan lilin lebah. Lama-lama terbentuklah dua pasang sayap yang lebar dan indah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
«Dengar baik-baik, Ikarus,» kata Daedalus. «Terbanglah di tengah. Jangan terlalu rendah — busa laut membuat sayap basah dan berat. Jangan terlalu tinggi — panas matahari melelehkan lilinnya. Ikuti aku, jangan jauh-jauh.» Ikarus mengangguk.
Halaman 5
Mereka berdiri di jendela menara. Angin laut bertiup kencang. Daedalus melompat lebih dulu — dan terbang! Ikarus menyusul, mengepakkan sayapnya. «Ayah, aku terbang!» serunya. Di bawah, para penjaga hanya bisa melongo ke langit.
Halaman 6
Mereka terbang di atas laut yang biru berkilauan. Pulau-pulau kecil lewat di bawah seperti batu loncatan. Ikarus tertawa gembira. Terbang ternyata menyenangkan sekali! Ia berputar, meluncur, naik sedikit... lalu naik lagi sedikit.
Halaman 7
«Ikarus! Jangan terlalu tinggi!» seru Daedalus. Tapi angin membawa suaranya pergi. Ikarus terus naik menuju matahari yang hangat. Ia lupa pesan ayahnya. Di sayapnya, tetes demi tetes, lilin lebah mulai meleleh karena panas.
Halaman 8
Bulu-bulu terlepas satu per satu. Tiba-tiba sayap Ikarus tidak bisa menahan angin lagi! Ia jatuh — byurrr! — ke laut biru di dekat sebuah pulau kecil. Untunglah ombak di situ tenang. Ikarus muncul ke permukaan, terbatuk-batuk dan menangis.
Halaman 9
Daedalus menukik cepat, menariknya ke pantai, dan memeluknya erat-erat. «Maafkan aku, Ayah,» isak Ikarus. «Aku lupa pesanmu.» Daedalus mengusap rambutnya. «Yang penting kau selamat.» Sejak itu, pulau kecil tempat Ikarus jatuh dinamai Pulau Ikaria.
Halaman 10
Setelah sayap Ikarus diperbaiki, mereka terbang rendah dan hati-hati sampai ke negeri yang aman. Malam itu mereka berbaring di pantai, lelah tapi bahagia. Di atas, bintang-bintang berkelip tenang — indah dipandang dari bawah sini saja. Selamat tidur.
Daedalus dan Ikarus adalah salah satu mitos Yunani yang paling banyak dikutip di dunia; kisah lengkapnya dituliskan penyair Romawi Ovidius sekitar dua ribu tahun lalu. Ungkapan "terbang terlalu dekat ke matahari" hidup di banyak bahasa — dan lahir dari cerita ini.
Pulau Ikaria di akhir cerita sungguh ada di Laut Aegea, dan menurut legenda namanya memang diambil dari Ikarus. Seru dicari di peta bersama anak: Kreta tempat menara Raja Minos, lalu pulau-pulau kecil ke arah utara yang dilewati dua penerbang pertama itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua Ikarus tenggelam; di versi kami ayahnya sempat menariknya dari air, dan pesan cerita tetap utuh tanpa akhir yang menyesakkan. Bahan ngobrol: pesan Daedalus "jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah" adalah aturan keselamatan tertua di dunia dongeng — aturan apa di rumah kita yang mirip seperti itu, dan kenapa orang tua membuatnya?
Dengarkanlah nasihat orang tuamu — nasihat itu lahir dari sayang dan pengalaman.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.