

Halaman 1
Dahulu kala, sebelum kota-kota Yunani berdiri, para titan raksasa dan para dewa Olympus berselisih tentang siapa yang memimpin dunia. Perselisihan itu panjang dan menggetarkan gunung-gunung. Akhirnya para dewa menang, dan Zeus menjadi raja langit.

Halaman 2
Titan terkuat bernama Atlas. Untuknya, Zeus menyiapkan tugas istimewa. «Kau paling kuat dari semua titan,» kata Zeus. «Pikullah langit di bahumu, supaya ia tidak jatuh menimpa bumi. Berdirilah di ujung barat dunia.»
Halaman 3
Atlas berjalan ke ujung barat, tempat matahari terbenam. Ia berlutut, menumpukan kedua tangannya ke tanah, lalu berdiri perlahan dengan seluruh langit di bahunya. Berat sekali — seperti seribu gunung. Tapi Atlas berdiri tegak dan tidak mengeluh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Mula-mula Atlas kesepian. Siang terasa panjang, dan bahunya pegal. Tapi ketika malam pertama turun, ia mendongak — dan terpesona. Ribuan bintang berkelip di langit yang ia pikul. «Ooo,» bisiknya. «Ternyata aku menggendong sesuatu yang seindah ini.»
Halaman 5
Malam demi malam, Atlas berkenalan dengan bintang-bintang. Ia memberi nama satu per satu dan menghitungnya seperti menghitung domba. Ia tahu bintang mana yang muncul lebih dulu, mana yang paling terang, mana yang suka bersembunyi di balik awan.
Halaman 6
Atlas punya tetangga: para Hesperides, peri-peri taman. Setiap senja mereka bernyanyi untuknya, dan Atlas ikut bersenandung dengan suaranya yang dalam seperti gemuruh jauh. Naga Ladon, penjaga taman apel emas itu, pun mendesis pelan mengikuti irama.
Halaman 7
Suatu hari, pahlawan berjubah kulit singa datang — Herkules. Ia memikul langit sebentar menggantikan Atlas: itulah satu-satunya istirahat Atlas sepanjang masa. Atlas sempat berjalan-jalan, memetik apel emas, dan bersiul riang.
Halaman 8
Para pelaut yang berlayar jauh ke barat sering melihat siluetnya di senja hari: raksasa tenang memikul langit penuh bintang. Mereka menamai gunung besar di sana Gunung Atlas, dan lautan luas di belakangnya Samudra Atlantik.
Halaman 9
«Apa kau tidak lelah, Atlas?» tanya para Hesperides. Atlas tersenyum. «Kadang-kadang. Tapi lihatlah ke atas. Kalau aku menyerah, bintang-bintang berjatuhan. Karena aku bertahan, semua bisa tidur tenang di bawah langit yang aman.»
Halaman 10
Malam ini pun Atlas berdiri di ujung barat dunia, tenang dan setia. Langit duduk nyaman di bahunya, bintang-bintang berkelip seperti selimut bercahaya untuk seluruh bumi. Tidurlah dengan tenang — langitmu dijaga raksasa yang baik. Selamat tidur.
Atlas datang dari lapisan mitos Yunani yang paling tua — kisah sebelum zaman para pahlawan, tentang bagaimana dunia diatur. Versi kami sengaja menggesernya: Atlas bukan tokoh yang merana, melainkan penjaga tenang yang jatuh cinta pada bintang-bintang yang ia pikul.
Namanya tersebar sampai sekarang: Samudra Atlantik — lautan luas di belakang tempat Atlas berdiri dalam mitos — dinamai menurut sang titan. Dan jejaknya ada di tubuh kita sendiri: tulang leher paling atas, yang menyangga kepala, dalam ilmu anatomi disebut "atlas".
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kisah ini bergandengan dengan seri Herkules kami: hari ketika sang pahlawan memikul langit menggantikan Atlas diceritakan di "Herkules dan Apel Emas Hesperides". Bahan ngobrol: pekerjaan berat yang dilakukan dengan setia setiap hari — dan siapa saja yang "menjaga langit" kita saat kita tidur: orang tua, dokter jaga, petugas ronda.
Tanggung jawab yang dipikul dengan setia membuat kita kuat dan dihormati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.