

Halaman 1
Dahulu kala di Yunani kuno, hiduplah gadis bernama Atalanta yang dibesarkan di hutan. Sejak kecil ia berlari bersama rusa dan mengenal semua jalan setapak. Lama-lama tidak ada rusa yang bisa menyusulnya. Atalanta menjadi pelari tercepat di Yunani.

Halaman 2
Kabar kecepatannya tersebar, dan banyak pangeran ingin menikahinya. Atalanta, yang lebih suka hutan daripada istana, membuat syarat: «Kalahkan aku berlari, dan aku bersedia. Kalah? Pulanglah baik-baik.» Ia yakin tidak ada yang menang.
Halaman 3
Satu per satu pelari hebat mencoba. Pangeran dari utara, juara dari selatan — semuanya kalah jauh. Atalanta bahkan sempat menunggu di garis akhir sambil menguncir rambutnya. «Ada lagi yang mau mencoba?» tanyanya sambil tersenyum.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di antara penonton ada pemuda bernama Hippomenes. Semakin sering melihat Atalanta berlari, semakin kagum ia — bukan hanya pada kecepatannya, tapi juga pada tawanya yang riang. «Aku tak mungkin menang dengan kaki,» pikirnya. «Mungkin ada jalan lain.»
Halaman 5
Hippomenes memohon kepada Aphrodite, dewi cinta. Dewi itu tersenyum dan memberinya tiga apel emas dari tamannya. «Atalanta cepat,» katanya, «tapi ia juga punya rasa ingin tahu. Gunakan ketiganya di saat yang tepat.» Hippomenes pun mendaftar lomba.
Halaman 6
Lomba dimulai! Atalanta melesat seperti angin, langsung memimpin. Hippomenes menggelindingkan apel emas pertama ke samping jalur. Kilaunya menari-nari di rumput. Atalanta menoleh... berbelok memungutnya... dan Hippomenes menyusul ke depan!
Halaman 7
Atalanta tertawa dan melesat lagi — sekejap ia kembali memimpin. Apel kedua menggelinding lebih jauh dari jalur. Atalanta memungutnya dan tetap bisa menyusul! Larinya seperti kijang emas. Garis akhir semakin dekat, penonton bersorak.
Halaman 8
Di tikungan terakhir, Hippomenes melempar apel ketiga jauh ke sisi bukit. Atalanta menimbang sekejap... rasa ingin tahunya menang! Ia berlari memungut apel itu, dan Hippomenes — dengan sisa tenaganya — menyentuh garis akhir selangkah lebih dulu.
Halaman 9
Atalanta tiba sambil memeluk tiga apel emas — dan tertawa lepas. «Kau menang dengan akal yang jenaka, Hippomenes. Aku suka itu.» Mereka pun menikah, dan konon setiap sore keduanya berlomba lari di padang rumput.
Halaman 10
Malam turun di padang rumput Yunani. Atalanta dan Hippomenes duduk beristirahat, tiga apel emas berkilau lembut di antara mereka. Kaki yang lelah berlari seharian kini boleh diselonjorkan. Seperti kakimu di balik selimut. Selamat tidur.
Atalanta adalah kejutan mitologi Yunani: pelari tercepat negeri itu seorang perempuan yang dibesarkan hutan, dan para pangeran hanya bisa melihat punggungnya. Kisah lomba lari dengan apel emas dituturkan Ovidius sekitar dua ribu tahun lalu.
Namanya masih berlari sampai sekarang: klub sepak bola Atalanta dari kota Bergamo di Italia — yang bisa muncul di siaran Liga Italia di rumah — dinamai menurut sang pelari cepat. Kejutan kecil untuk orang tua penggemar bola.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tua berakhir dengan hukuman dewata dan perubahan wujud; bagian itu kami lepas — di versi kami Atalanta tertawa lepas, mengaku kalah dengan lapang dada, dan tetap berlomba lari setiap sore. Bahan ngobrol: menang dan kalah dengan riang; dan trik apel emas Hippomenes — kapan akal-akalan itu jenaka, kapan jadi curang? Pertanyaan yang seru untuk diperdebatkan sekeluarga.
Kalah atau menang, yang penting berlari dengan gembira dan hati yang jujur.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.