

Halaman 1
Ini cerita lain dari Australia, dari zaman yang sangat tua, ketika bumi baru saja lahir. Waktu itu daratan masih datar dan sunyi. Tidak ada gunung. Tidak ada lembah. Tidak ada sungai. Semua tertidur di bawah tanah.

Halaman 2
Jauh di bawah tanah, tidur seekor ular raksasa yang indah. Sisiknya berwarna-warni: merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu. Ialah Ular Pelangi. Suatu hari, ia membuka matanya. «Sudah waktunya bangun,» katanya. «Bumi menungguku.»
Halaman 3
Ular Pelangi mendorong tanah di atasnya dan keluar ke permukaan. Sinar matahari menyentuh sisiknya — berkilauan seperti seribu warna! Ia memandang daratan yang datar. «Sunyi sekali,» katanya. «Aku akan berkeliling membangunkan dunia.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ular Pelangi mulai merayap. Tubuhnya yang besar dan berat menekan tanah. Ke mana pun ia pergi, jejaknya membentuk alur yang dalam dan berkelok-kelok. Ia merayap ke kiri, ke kanan, melingkar-lingkar, sampai daratan penuh alur panjang.
Halaman 5
Di beberapa tempat, Ular Pelangi mendorong tanah tinggi-tinggi — jadilah bukit dan gunung. Di tempat lain ia menggali dalam-dalam — jadilah lembah dan cekungan. Bumi tidak datar lagi. «Hmm, lebih bagus,» katanya sambil memandang hasil kerjanya.
Halaman 6
Lalu Ular Pelangi memanggil, «Bangunlah, katak-katak!» Katak-katak keluar dari tanah dengan perut penuh air. Ia menggelitik mereka dengan ujung ekornya. Mereka tertawa, dan air tumpah mengisi alur-alur jejaknya. Itulah sungai-sungai pertama.
Halaman 7
Air sungai mengalir gemericik. Rumput dan pohon tumbuh di tepinya. Ikan berenang, burung berdatangan, kanguru dan wombat minum di tepian. Bumi yang sunyi kini ramai dan hijau. Ular Pelangi tersenyum lebar. «Nah, ini baru dunia.»
Halaman 8
Setelah pekerjaannya selesai, Ular Pelangi memilih kolam yang paling dalam dan tenang. Ia menggulung tubuhnya dan beristirahat di dasar air. «Kalau hujan turun, aku akan naik menyapa,» janjinya sebelum memejamkan mata.
Halaman 9
Karena itu, sehabis hujan muncul lengkung warna-warni di langit. Kata orang: itulah Ular Pelangi yang naik sebentar melihat sungai-sungainya. Sekarang ia sudah kembali ke kolamnya, tidur bergelung. Yuk, bergelung juga di selimutmu, dan tidur.
Ular Pelangi adalah tokoh paling luas dikenal dalam cerita masyarakat Aborigin Australia: tiap wilayah punya namanya sendiri — Ngalyod di Arnhem Land, Wagyl di barat daya. Gambarnya di gua-gua Kakadu berumur ribuan tahun, dan bagi banyak komunitas ia tetap sakral. Versi dengan katak yang digelitik hingga air tumpah dikenal lewat buku bergambar seniman Aborigin pada 1970-an.
Sungai yang berkelok-kelok memang mirip jejak ular besar — ajak anak melihat peta: Kapuas dan Mahakam berliku persis begitu. Pelangi pun bisa "dipanggil" di halaman: berdiri membelakangi matahari sore, semprotkan air halus dari selang, dan lengkung warna muncul di kabutnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi asli, Ular Pelangi juga menghukum — menelan pelanggar aturan atau mengirim banjir; versi kami menyimpan sisi pembangunnya saja, sebagai warisan cerita, bukan ajaran. Bahan ngobrol: bumi jadi indah sedikit demi sedikit. Apa yang kita bangun pelan-pelan di rumah — kebun, menara balok, kebiasaan baru?
Bumi yang indah terbentuk sedikit demi sedikit — hal besar butuh kesabaran.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.