

Halaman 1
Orang Maori di Selandia Baru punya cerita tentang awal dunia. Dahulu sekali, Langit dan Bumi saling berpelukan erat. Langit bernama Rangi. Bumi bernama Papa. Pelukan mereka begitu rapat, sampai dunia menjadi gelap dan sempit.

Halaman 2
Di antara pelukan itu tinggal anak-anak mereka, para raksasa. Ada Tane, raksasa hutan. Ada Tangaroa, raksasa laut. Ada Tawhiri, raksasa angin. Mereka berdesak-desakan dalam gelap. «Sempit sekali,» bisik mereka. «Kita tidak bisa melihat apa-apa.»
Halaman 3
Para raksasa berkumpul. «Bagaimana kalau kita angkat Langit ke atas?» usul Tane. «Ayah dan Ibu tetap bisa saling memandang.» Rangi dan Papa mendengar. «Baiklah, asal kalian bahagia,» bisik mereka. Para raksasa mulai mendorong. Langit tidak bergerak.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tangaroa mendorong dengan ombaknya. Gagal. Tawhiri meniup dengan anginnya. Gagal juga. Akhirnya Tane punya cara lain. Ia berbaring, menempelkan bahunya di Bumi, lalu menekan Langit dengan kedua kakinya yang panjang seperti batang pohon.
Halaman 5
Tane mendorong pelan-pelan, semakin kuat, semakin kuat. Perlahan-lahan Langit terangkat. Cahaya masuk untuk pertama kalinya, lembut dan keemasan. Para raksasa terpana. «Indahnya!» Dunia menjadi luas dan terang.
Halaman 6
Rangi si Langit kini berada tinggi di atas. Papa si Bumi terhampar hijau di bawah. Tane menanami Bumi dengan pepohonan. Tangaroa mengisi lautan dengan ikan. Tawhiri menggiring awan-awan supaya langit tidak sepi.
Halaman 7
Tapi Rangi dan Papa saling merindukan. Kadang-kadang, air mata Rangi jatuh dari langit — itulah hujan yang menyirami Bumi. Dan pagi-pagi, Papa mengirim salam berupa kabut lembut yang naik perlahan ke atas. «Aku di sini,» bisik mereka.
Halaman 8
Anak-anak raksasa menghibur orang tua mereka. «Supaya Ayah tidak kesepian,» kata Tane, ia menghiasi dada Rangi dengan bintang-bintang. Lalu ia menyelimuti Papa dengan hutan hijau yang hangat. Langit dan Bumi pun tidak kesepian lagi.
Halaman 9
Malam ini, coba lihat ke luar jendela. Bintang-bintang Rangi berkelip di atas, Bumi Papa memelukmu hangat dari bawah. Hujan dan kabut saling berkirim salam. Di antara keduanya, kamu boleh tidur dengan tenang. Nyenyak, ya.
Ranginui dan Papatuanuku, Langit Ayah dan Bumi Ibu, adalah pusat cerita penciptaan orang Maori di Selandia Baru. Anak-anak mereka dikenal luas dalam tradisi ini: Tane penguasa hutan, Tangaroa penguasa laut, Tawhirimatea penguasa angin. Kisah ini masih hidup dalam nyanyian dan ukiran rumah adat Maori.
Hujan sebagai air mata Langit dan kabut pagi sebagai salam Bumi bisa langsung diamati: ajak anak melihat kabut yang naik dari sawah sehabis hujan. Di Selandia Baru, pohon kauri terbesar diberi nama Tane Mahuta seperti tokoh cerita ini; kerabat dekatnya di Indonesia adalah pohon damar di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi Maori, salah satu anak mengusulkan membunuh orang tua mereka, Tane memisahkan mereka dengan paksa, dan Tawhirimatea marah lalu mengirim badai; di versi kami Rangi dan Papa memberi izin, dan tidak ada perang. Bahan ngobrol: mereka berjauhan tapi tetap saling menyapa. Bagaimana kita mengirim "kabut pagi" untuk kakek-nenek yang jauh?
Kasih sayang tetap bisa saling menyapa, meskipun berjauhan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.