

Halaman 1
Hina tinggal di sebuah pulau di Pasifik. Ia paling pandai membuat kain tapa. Tok, tok, tok! Sepanjang hari ia memukul kulit kayu dengan alat pemukulnya, sampai menjadi kain yang halus dan putih.

Halaman 2
Kain tapa buatan Hina terkenal di mana-mana. Semua orang datang meminta. «Hina, buatkan untukku!» «Hina, punyaku juga!» Hina bekerja dari pagi sampai malam. Ia senang membantu, tapi kadang ia bermimpi punya tempat kerja yang luas dan tenang.
Halaman 3
Pada malam bulan purnama, Hina duduk memandang langit. Bulan bersinar bulat, bersih, dan damai. «Seandainya aku bisa bekerja di sana,» bisiknya. «Luas, sejuk, tenang.» Bulan seolah mendengar. Cahayanya turun ke laut membentuk jalan keperakan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Hina memberanikan diri melangkah ke jalan cahaya itu. Selangkah, dua langkah — ia terangkat pelan seperti bulu. «Naiklah, Hina,» sapa Bulan dengan suara lembut. «Sudah lama aku melihatmu bekerja rajin. Di sini ada tempat untukmu.»
Halaman 5
Dari atas jalan cahaya, Hina berpamitan kepada keluarganya. «Aku tidak pergi jauh!» serunya. «Lihatlah ke atas setiap malam, aku akan melambai!» Keluarganya melambai dari pantai. Mereka tahu Hina akan bahagia dan tetap dekat.
Halaman 6
Di bulan, Hina membentangkan alat kerjanya. Tempatnya luas, sejuk, dan tenang. Tok, tok, tok! Ia memukul kain tapa dengan gembira. Kain-kain putihnya dijemur di langit — itulah awan-awan tipis yang melayang di malam hari.
Halaman 7
Kalau kamu menatap bulan purnama, perhatikan bayang-bayang di wajahnya. Orang-orang di Pasifik berkata: itulah Hina yang sedang duduk dengan pemukul kainnya. Ia menoleh ke bumi dan tersenyum kepada anak-anak yang belum tidur.
Halaman 8
Setiap bulan purnama, jalan cahaya keperakan muncul lagi di atas laut. Hina menuruninya untuk memeluk keluarganya, membawa kain tapa selembut awan. «Bulan titip salam,» katanya sambil tertawa. Lalu ia kembali ke tempat kerjanya yang tenang.
Halaman 9
Malam ini Hina menjemur kain barunya di langit. Cahaya bulan jatuh ke tempat tidurmu seperti selimut tipis keperakan. Itu kain tapa dari Hina, katanya untuk menemanimu bermimpi. Tidur yang lelap di bawah selimut cahaya bulan.
Hina adalah salah satu tokoh perempuan paling dikenal di Polinesia: pembuat kain tapa yang berpindah ke bulan. Di Hawaii ia disebut Hina-i-ka-malama, "Hina di bulan", dan bayang-bayang di wajah bulan dianggap sebagai Hina dengan pemukul kainnya; versi serupa diceritakan di Tahiti dan Kepulauan Cook.
Kain tapa dibuat dengan memukul kulit kayu sampai melebar dan halus — di Sulawesi Tengah kerajinan yang sama disebut fuya, dan alat pemukulnya dari batu bernama ike. Indonesia juga punya "perempuan di bulan": dalam cerita Sunda, Nini Anteh menenun di bulan ditemani kucingnya. Saat purnama, ajak anak mencari sosok itu.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Dalam versi Hawaii, Hina pergi karena lelah pada keluarga yang tidak membantunya, dan suaminya sempat menarik kakinya saat ia naik; versi kami menjadikan kepergiannya pilihan yang direstui, dan Hina turun tiap purnama memeluk keluarganya. Bahan ngobrol: Hina punya tempat kerja impian. Kalau kamu boleh memilih tempat paling tenang, di mana?
Mengejar impian tidak berarti melupakan orang-orang yang kita sayangi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.