

Halaman 1
Dahulu kala, di sebuah pulau di tengah Samudra Pasifik, hiduplah Maui. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Badannya paling kecil, tapi akalnya paling banyak. Orang-orang menyebutnya Maui si cerdik.

Halaman 2
Pada zaman itu, matahari berlari terlalu cepat. Pagi baru saja tiba, eh, sore sudah datang. Ibu Maui tidak sempat menjemur kain tapa, kain dari kulit kayu. Para nelayan pulang dengan jala kosong. «Hari ini pendek sekali!» keluh semua orang.
Halaman 3
Maui memandang matahari yang terburu-buru itu. «Aku akan menjeratnya!» katanya. Kakak-kakaknya tertawa. «Matahari itu panas dan besar, Maui. Kau terlalu kecil!» «Kecil boleh saja,» jawab Maui, «tapi aku punya rencana.» Kakak-kakaknya saling pandang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Maui mengajak kakak-kakaknya memilin tali dari harakeke, tanaman serat yang kuat. Mereka memilin siang dan malam, sampai jadilah tali-tali panjang yang tidak bisa putus. «Sekarang ikutlah aku ke timur,» kata Maui, «ke tempat matahari bangun tidur.»
Halaman 5
Lima bersaudara itu berjalan pada malam hari supaya tidak kepanasan. Sampai di tepi lubang besar tempat matahari terbit, mereka memasang jerat tali. Lalu mereka bersembunyi di balik batu. Semua menunggu sambil menahan napas.
Halaman 6
Perlahan langit memerah. Matahari muncul dari lubangnya, siap berlari seperti biasa. «Tarik!» seru Maui. Tali-tali harakeke menjerat matahari erat-erat. Matahari meronta-ronta, panasnya menyala-nyala, tapi jerat itu tidak putus.
Halaman 7
«Lepaskan aku!» gerutu matahari. Maui maju mendekat sambil memegang tali kuat-kuat. «Aku akan melepasmu,» katanya, «tapi berjanjilah berjalan pelan-pelan. Kami butuh hari yang panjang untuk bekerja dan bermain.»
Halaman 8
Matahari terdiam. Ia memang lelah karena berlari terus. «Baiklah,» katanya akhirnya. «Aku berjanji berjalan pelan menyeberangi langit.» Maui tersenyum dan melepaskan jerat. Matahari pun naik perlahan-lahan, hangat dan ramah.
Halaman 9
Sejak hari itu, siang menjadi panjang. Ibu Maui bisa menjemur kain tapa sampai kering. Para nelayan pulang membawa banyak ikan. Anak-anak bermain di pantai sampai puas. «Terima kasih, Maui!» seru semua orang.
Halaman 10
Sore itu matahari turun perlahan, langit berwarna jingga lembut. Maui berbaring di pasir yang masih hangat dan menguap. «Hari panjang yang menyenangkan,» bisiknya. Ombak bernyanyi pelan. Selamat tidur di ujung hari yang panjang.
Maui adalah pahlawan cerdik paling terkenal di Polinesia — dari Selandia Baru sampai Hawaii, hampir setiap pulau punya cerita tentangnya. Versi dengan tali dari serat harakeke berasal dari tradisi lisan orang Maori; di Hawaii kawah Haleakala disebut "rumah matahari" karena kisah yang sama.
Harakeke adalah tanaman sungguhan: rami Selandia Baru, seratnya sampai kini dipilin jadi tali dan tikar. Kain tapa dari kulit kayu pun ada di Indonesia — orang Sulawesi Tengah menyebutnya fuya. Soal panjang hari: di Indonesia yang dekat khatulistiwa siang hampir selalu 12 jam, sedangkan di Selandia Baru siang musim panas jauh lebih panjang daripada musim dingin.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi Maori, Maui memukuli matahari dengan tulang rahang neneknya sampai matahari menyerah; versi kami mengganti pukulan dengan perundingan dan janji. Bahan ngobrol: masalah sebesar matahari pun bisa dipecah jadi rencana — tali dulu, lalu jerat. Masalah apa di rumah yang bisa dipecah jadi langkah kecil?
Masalah yang tampak mustahil bisa diselesaikan dengan rencana yang cerdik dan kerja sama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.