

Halaman 1
Kakak-kakak Maui adalah nelayan. Setiap pagi mereka mendayung waka, perahu kayu panjang, ke tengah laut. Tapi mereka tidak pernah mengajak Maui. «Kau terlalu kecil,» kata mereka. «Nanti perahu penuh dengan kejahilanmu!»

Halaman 2
Maui tidak kehabisan akal. Malam-malam, ia menyelinap ke dalam waka dan bersembunyi di bawah tikar. Ia membawa kail pusaka dari neneknya — kail ajaib yang berkilau seperti mutiara. Pagi-pagi, kakak-kakaknya mendayung tanpa curiga.
Halaman 3
Jauh di tengah laut, Maui keluar dari persembunyiannya. «Selamat pagi, Kakak-kakak!» Kakak-kakaknya kaget setengah mati. «Maui! Turun kau... eh, tidak bisa, ini tengah laut!» Maui tertawa. «Kalau begitu, biarkan aku ikut memancing.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Maui melempar kail pusakanya jauh ke dalam laut biru. Kail itu turun, turun, terus turun, sampai ke dasar samudra. Tiba-tiba — sentak! Ada yang menarik kailnya kuat sekali, sampai waka berputar-putar. «Wah, ini bukan ikan biasa!» seru Maui.
Halaman 5
«Tolong pegangi aku!» teriak Maui. Empat kakaknya memeluk pinggang Maui dan ikut menarik. Tali kail menegang. Laut bergelombang dan berbuih. «Tarik! Tarik!» Sedikit demi sedikit, sesuatu yang sangat besar naik dari dalam laut.
Halaman 6
Byuur! Dari dalam laut muncul... daratan! Luas dan hijau, dengan bukit-bukit dan pantai berpasir. Maui telah memancing sebuah pulau! Burung-burung camar langsung berdatangan. Kakak-kakaknya melongo, tidak percaya.
Halaman 7
«Pulau ini akan menjadi rumah baru,» kata Maui. «Tempat orang menanam ubi, membangun rumah, dan anak-anak bermain.» Ia menancapkan kailnya di puncak bukit sebagai penanda. Konon, kail itu berubah menjadi lengkungan tanjung yang indah.
Halaman 8
Satu per satu, keluarga-keluarga pindah ke pulau baru. Mereka membawa bibit kelapa dan ubi. Mereka membangun rumah di dekat pantai. Kakak-kakak Maui berkata bangga, «Adik kami yang kecil ini yang memancing pulau sebesar itu!»
Halaman 9
Sampai sekarang, orang Polinesia suka bercerita: pulau-pulau di laut mereka dulu dipancing oleh Maui. Kalau kamu melihat pulau dari jauh, bentuknya memang mirip punggung ikan raksasa yang mengapung tenang di air.
Halaman 10
Malam itu Maui tidur di dalam waka yang ditambatkan di pantai pulau baru. Ombak kecil menimang-nimang perahunya, pelan dan lembut, seperti buaian. Maui tersenyum dalam tidurnya. Biarlah ombak juga menimangmu ke dalam mimpi.
Ini cerita Maori paling terkenal tentang Maui. Orang Maori menyebut Pulau Utara Selandia Baru Te Ika-a-Maui, "ikan Maui", dan Pulau Selatan sebagai perahunya; Tanjung Kidnappers di pantai timur dianggap kail yang tersangkut. Versi serupa ada di Hawaii dan Tonga — memancing pulau adalah motif bersama Polinesia.
Buka peta bersama anak: Pulau Utara memang mirip ikan pari dengan ekor di selatan dan kepala di utara. Kail pusaka itu punya wujud nyata — liontin hei matau dari batu giok atau tulang yang masih dipakai orang Maori sebagai lambang keselamatan di laut. Dari kapal feri, pulau di cakrawala pun tampak seperti punggung ikan besar.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi Maori, kakak-kakak Maui tidak sabar dan mencincang ikan raksasa itu — jadilah gunung dan lembah yang kasar; versi kami berhenti ketika pulau muncul utuh. Bahan ngobrol: kakak-kakak menganggap Maui terlalu kecil, lalu justru mereka yang memegangi pinggangnya. Kapan si kecil di rumah pernah mengejutkan yang besar?
Jangan meremehkan yang kecil — setiap orang punya kelebihan yang bisa mengejutkan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.