

Halaman 1
Maui punya satu kebiasaan: ia selalu ingin tahu. Suatu malam, ia menatap api unggun di desanya. «Dari mana asalnya api?» pikirnya. «Kalau semua api padam, ke mana kita mencarinya?» Rasa penasarannya menggelitik seperti semut.

Halaman 2
Diam-diam, malam itu Maui menyiram semua api unggun di desa. Psss! Padam semua. Paginya, desa menjadi dingin. Tidak ada yang bisa memasak. «Siapa yang memadamkan api?» tanya Ibu. Maui menunduk. «Aku, Bu. Tapi aku akan mencari api yang baru!»
Halaman 3
«Api tinggal bersama Mahuika, nenek penjaga api, di gunung yang berasap,» kata Ibu. «Pergilah dengan sopan, dan jangan jahil.» Maui berjalan jauh, mendaki lereng yang hangat, sampai tiba di depan gua yang bercahaya kemerahan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
«Permisi, Nenek Mahuika,» kata Maui sopan. Dari dalam gua muncul nenek berambut berkilau seperti bara. «Cucuku Maui! Ada apa?» «Api di desa kami padam, Nek. Bolehkah aku minta api?» Mahuika mencabut kuku apinya yang menyala. «Bawalah, hati-hati.»
Halaman 5
Di tengah jalan, Maui melewati sungai kecil. Rasa penasarannya datang lagi. «Kalau kuku api ini kena air, apa yang terjadi, ya?» Ia mencelupkannya sedikit... psss! Apinya padam. «Wah,» kata Maui, «aku harus kembali ke Nenek.»
Halaman 6
Mahuika memberinya kuku api yang kedua. Tapi di jalan, Maui mencoba meniupnya kencang. Wusss... padam lagi! Ketika Maui datang ketiga kalinya, Mahuika berkacak pinggang. «Maui, Maui. Apiku hampir habis karena kejahilanmu. Ini yang terakhir.»
Halaman 7
Mahuika melemparkan api terakhirnya tinggi-tinggi. Api itu melayang dan masuk ke dalam pohon kaikomako, pohon berkayu kering. Tepat saat itu, hujan turun rintik-rintik. «Lihatlah,» kata Mahuika. «Sekarang api bersembunyi di dalam kayu.»
Halaman 8
«Bagaimana cara memanggilnya keluar, Nek?» tanya Maui. Mahuika tersenyum. «Ambil dua batang kayu kering. Gosokkan yang rajin, jangan menyerah.» Maui menggosok dan menggosok. Muncul asap tipis, lalu — percikan kecil! Api menyala.
Halaman 9
Maui pulang membawa rahasia api. Ia menyalakan api unggun untuk seluruh desa dan meminta maaf kepada Ibu. «Rasa ingin tahu itu bagus,» kata Ibu sambil memeluknya, «tapi jangan sampai merepotkan orang lain, ya.» Maui mengangguk sungguh-sungguh.
Halaman 10
Malam itu seluruh desa hangat kembali. Anak-anak memanggang ubi, lalu menguap satu per satu. Maui berbaring dekat api unggun yang menyala tenang. Bara kecil berkedip seperti mengucap selamat malam. Pejamkan matamu, biarkan hangatnya menemanimu.
Mahuika, penjaga api dengan kuku-kuku yang menyala, adalah tokoh mitologi Maori dari Selandia Baru; dalam tradisi lisan mereka ia disebut nenek atau bibi Maui. Cerita ini menjelaskan mengapa api "tinggal di dalam kayu" — pohon kaikomako yang disebut di sini memang dipakai orang Maori untuk membuat api dengan cara digosok.
Membuat api dengan gesekan kayu adalah ilmu tua yang juga hidup di Nusantara: di banyak daerah orang memakai gesekan bambu kering, dan di pedalaman Papua cara itu masih dipraktikkan. Gunung berasap tempat Mahuika tinggal pun tidak asing — Indonesia punya lebih dari seratus gunung berapi aktif.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi Maori, Maui sengaja memadamkan kuku api satu demi satu sampai Mahuika murka dan hutan terbakar; versi kami menjadikan Maui anak yang terlalu penasaran, bukan penipu, dan Mahuika tetap sabar. Bahan ngobrol: rasa ingin tahu itu bagus, tapi eksperimen boleh dicoba tanpa merepotkan sekampung. Siapa yang perlu diberi tahu dulu?
Rasa ingin tahu itu baik, tapi kesalahan yang kita buat harus kita perbaiki sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.