

Halaman 1
Ada seorang anak perempuan bernama Anna. Ia hidup sendirian di desa kecil. Miliknya hanya baju yang dipakainya, topi rajut, selendang hangat, dan sepotong roti di saku. Suatu sore ia berjalan menyusuri jalan desa.

Halaman 2
Di tepi jalan duduk seorang kakek. Wajahnya lelah sekali. "Aku belum makan seharian, Nak," katanya pelan. Anna merogoh sakunya. "Ambillah rotiku, Kek," jawabnya. "Semoga cepat kuat lagi." Kakek itu tersenyum lebar.
Halaman 3
Anna berjalan terus. Angin mulai dingin. Seorang anak lelaki kecil menghampirinya sambil menggigil. "Kepalaku dingin sekali," katanya. Tanpa berpikir lama, Anna melepas topi rajutnya. "Pakai ini. Kepalamu akan hangat."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tak lama, ia bertemu seorang gadis kecil di tepi jembatan. Bahunya basah oleh embun senja. "Selendangmu bagus sekali," bisik gadis itu. Anna melepas selendangnya dan menyampirkannya ke bahu gadis kecil itu. "Sekarang milikmu," katanya.
Halaman 5
Anna melanjutkan langkahnya ke hutan. Di bawah pohon, ada anak lain yang bajunya sudah robek dan tipis. Anna membuka bajunya yang paling tebal dan memberikannya. Kini Anna hanya memakai kemeja tipis, tapi dadanya terasa hangat.
Halaman 6
Malam turun di antara pepohonan. Anna duduk di padang terbuka. "Tidak ada lagi yang bisa kuberikan," bisiknya. Perutnya lapar, tangannya dingin. Ia menengadah ke langit dan melihat bintang-bintang yang sangat banyak.
Halaman 7
Tiba-tiba satu bintang bergerak. Lalu dua, lalu sepuluh. Bintang-bintang itu meluncur turun seperti hujan perak! "Apa yang terjadi?" seru Anna sambil berdiri. Cahaya mereka jatuh berkilauan tepat di sekelilingnya.
Halaman 8
Saat menyentuh tanah, bintang-bintang itu berubah menjadi keping perak berkilau. Anna membentangkan kemejanya, dan keping-keping itu memenuhi pangkuannya. Di rumput terbentang sehelai kain hangat. "Cukup untuk setahun," bisiknya.
Halaman 9
Keesokan paginya Anna menyusuri jalan yang sama. "Ini untukmu, Kek," katanya sambil memberi keping perak kepada kakek tua itu, lalu kepada anak-anak yang kedinginan. Kalau kamu melihat bintang berkelip, ingatlah anak yang suka memberi. Tidurlah.
Uang Bintang — Die Sterntaler — adalah salah satu dongeng terpendek dan terlembut dalam kumpulan Grimm: hanya seorang anak, jalan desa, dan langit malam. Di negeri asalnya kisah ini diwariskan turun-temurun sebagai cerita tentang memberi tanpa berhitung.
Langit berbintang adalah jangkar terbaiknya: ajak anak menatap langit malam yang cerah, mencari bintang paling terang, atau berjaga menunggu bintang jatuh. Di dongeng, bintang-bintang itulah yang turun sebagai keping perak — bayangan indah bahwa kebaikan yang tak dilihat siapa pun tetap terlihat dari atas.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tuanya sangat singkat dan kental nuansa kesalehan Eropa lama; kami menceritakannya sebagai kisah kebaikan yang universal dan memberi tokohnya nama: Anna. Bahan ngobrol: Anna memberi bukan dari kelebihannya, melainkan dari yang terakhir ia punya — lalu keesokan paginya berbagi lagi.
Memberi tidak membuat kita kekurangan; kebaikan selalu kembali dengan cara yang tak terduga.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.