

Halaman 1
Ada seekor keledai tua. Bertahun-tahun ia memikul karung gandum. Kini tenaganya berkurang. "Kau sudah tidak kuat bekerja," kata pemiliknya. Keledai pun pergi. "Aku akan ke Kota Bremen," pikirnya. "Suaraku bagus. Aku akan menjadi pemusik!"

Halaman 2
Di jalan, keledai bertemu anjing tua yang duduk lesu. "Kenapa kau murung?" tanya keledai. "Aku sudah tua, tak bisa lagi berburu. Tak ada yang mau memeliharaku," jawab anjing. "Ikutlah ke Bremen! Kau bisa menabuh genderang," ajak keledai.
Halaman 3
Tak lama, mereka melihat kucing bermuka masam di pagar. "Ada apa, Kucing?" tanya keledai. "Aku sudah tua, tak lincah menangkap tikus. Aku tak dibutuhkan lagi," keluh kucing. "Kau pandai bernyanyi malam-malam. Ayo ikut jadi pemusik!"
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di sebuah pagar, ayam jantan berkokok keras sekali. "Kukuruyuk! Ini kokokku yang penghabisan, besok aku tak lagi dibutuhkan!" "Jangan sedih," kata keledai. "Suaramu nyaring. Ikutlah, kita bentuk kelompok musik!" Ayam terbang ke punggung keledai.
Halaman 5
Malam tiba, dan Bremen masih jauh. Di tengah hutan, ayam melihat cahaya kecil. Mereka mendekat. Itu rumah para perampok! Dari jendela terlihat meja penuh roti, keju, dan buah. Perut keempat sahabat berbunyi, kruyuk-kruyuk.
Halaman 6
"Aku punya rencana," bisik keledai. Ia berdiri di bawah jendela. Anjing naik ke punggungnya. Kucing naik ke punggung anjing. Ayam hinggap di kepala kucing. "Satu... dua... tiga... sekarang bunyikan musik kita!"
Halaman 7
"Hiiiaaa! Guk guk! Meooong! Kukuruyuuuk!" Prang! Jendela terbuka lebar, dan empat bayangan besar masuk. Para perampok ketakutan. "Ada raksasa bersuara seribu!" teriak mereka, lalu lari tunggang-langgang ke dalam hutan gelap.
Halaman 8
Keempat sahabat makan sampai kenyang. "Rumah ini nyaman juga," kata kucing sambil menjilat bibir. Lampu dipadamkan. Keledai tidur di halaman, anjing di balik pintu, kucing di dekat tungku hangat, dan ayam di atas balok atap.
Halaman 9
Tengah malam, satu perampok menyelinap kembali. Di kegelapan, mata kucing menyala. "Hisss!" Anjing menggeram, keledai menghentak, bum! Ayam berseru, "Kukuruyuk!" Perampok lari terbirit-birit. "Ada penyihir di sana!" Mereka tak pernah kembali.
Halaman 10
Keempat pemusik itu tinggal di rumah hutan yang hangat. Setiap malam mereka bernyanyi pelan, lalu tidur di tempat kesukaan masing-masing. Angin malam ikut bersenandung di atap. Seperti empat sahabat itu, carilah posisi ternyamanmu, dan terlelaplah.
Pemusik Kota Bremen adalah dongeng Jerman tentang empat hewan tua yang dianggap tak berguna lalu membuktikan sebaliknya. Kisah penuh humor ini termasuk yang paling dicintai dari kumpulan Grimm, dan menjadi lambang kotanya sendiri.
Bremen adalah kota sungguhan di Jerman utara. Di samping balai kotanya berdiri patung perunggu empat pemusik — keledai, anjing, kucing, dan ayam bertumpuk ke atas — dan wisatawan memegang kaki depan keledai sambil membuat harapan. Lucunya, di dongeng keempat sahabat itu tidak pernah sampai ke Bremen: mereka menemukan rumah nyaman di hutan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tidak ada yang terluka di kisah ini: para perampok lari ketakutan oleh "musik" dan tak pernah kembali. Bahan ngobrol: yang tua tetap berharga — tanyakan pada anak apa kehebatan masing-masing hewan, dan bagaimana suara yang berbeda-beda justru menjadi kekuatan bersama.
Tidak ada yang terlalu tua untuk berguna; bersama sahabat, kita selalu punya tempat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.