

Halaman 1
Seorang janda punya dua anak gadis. Yang satu bernama Marta, rajin dan ramah. Yang satu lagi bernama Lisa, suka bermalas-malasan. Setiap hari Marta memintal benang di tepi sumur tua di halaman.

Halaman 2
Suatu sore, tangan Marta lelah sekali. Gelendong pintalnya terpeleset, byur, jatuh ke dalam sumur! "Aku harus mengambilnya," bisik Marta. Ia memberanikan diri turun ke sumur. Tahu-tahu, ia mendarat di padang bunga yang cerah dan hangat.
Halaman 3
Marta berjalan melewati sebuah tungku roti. "Tolong! Keluarkan kami, kami sudah matang!" seru roti-roti di dalamnya. Marta mengambil sekop kayu dan mengeluarkan roti satu per satu. "Nah, kalian tidak akan gosong," katanya sambil tersenyum.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Lalu ia tiba di bawah pohon apel. "Goyangkan aku! Apelku sudah masak semua!" seru pohon itu. Marta menggoyang batangnya. Bruk, bruk! Apel merah berjatuhan. Ia menyusunnya rapi dalam tumpukan, lalu melanjutkan perjalanan.
Halaman 5
Di rumah kecil, seorang nenek menunggu. Giginya besar, tapi senyumnya hangat. "Aku Ibu Salju," katanya. "Tinggallah di sini. Tugasmu mengebas kasur buluku setiap pagi. Bila bulunya beterbangan, turunlah salju di dunia manusia."
Halaman 6
Marta bekerja dengan gembira. Setiap pagi ia mengebas kasur kuat-kuat. Bulu-bulu putih beterbangan, dan di bumi, salju turun lembut. Namun lama-lama Marta rindu rumah. "Ibu Salju, bolehkah aku pulang?" tanyanya pelan.
Halaman 7
Ibu Salju mengantarnya ke gerbang besar. Saat Marta melangkah, hujan emas turun menyelimutinya! "Ini upah untuk tanganmu yang rajin," kata Ibu Salju. Di rumah, ayam jantan berkokok, "Kukuruyuk! Gadis emas kita pulang!"
Halaman 8
Lisa jadi ingin emas juga. Ia melompat ke sumur dan tiba di padang yang sama. "Tolong, keluarkan kami!" seru roti-roti dari dalam tungku. "Malas ah, nanti tanganku kotor," jawab Lisa, lalu berjalan terus tanpa menoleh.
Halaman 9
"Goyangkan aku! Apelku sudah masak semua!" pinta pohon apel. "Tidak mau, aku buru-buru," kata Lisa sambil lewat. Tak lama, ia sampai di rumah Ibu Salju. "Aku mau bekerja di sini," katanya, "asal upahnya emas."
Halaman 10
Hari pertama Lisa mengebas kasur dengan rajin. Sesudah itu, kasur bulu tak pernah disentuh lagi. Di gerbang, bukan emas yang turun, melainkan getah hitam yang lengket! Ayam berkokok, "Kukuruyuk! Gadis lengket pulang!" Lisa malu sekali.
Halaman 11
Sejak Lisa ikut bekerja, getah itu pelan-pelan luntur, dan rumah mereka jadi hangat. Malam ini, bila salju atau hujan turun lembut, itu Ibu Salju sedang mengebas kasurnya. Tarik selimutmu sampai ke dagu, dan tidurlah setenang padang bunga itu.
Ibu Salju — Frau Holle dalam bahasa Jerman — adalah salah satu dongeng paling disayangi di negerinya. Tokoh nenek pembuat salju ini berakar pada kepercayaan rakyat Eropa kuno tentang penjaga cuaca, jauh sebelum kisahnya dicatat dalam kumpulan Grimm.
Sampai sekarang, saat salju turun, orang Jerman suka berkata: "Ibu Salju sedang mengebas kasurnya". Anak Indonesia jarang melihat salju — dongeng ini kesempatan bagus menjelaskannya: butiran es selembut bulu yang turun pelan-pelan dari langit dingin, seperti bulu kasur yang beterbangan dalam cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di versi lama gadis pemalas pulang berlumur getah hitam yang tak pernah hilang; di versi kami getah itu pelan-pelan luntur begitu Lisa mulai ikut bekerja — setiap anak boleh memperbaiki diri. Bahan ngobrol: pekerjaan kecil yang dikerjakan sepenuh hati selalu kelihatan hasilnya.
Tangan yang rajin dan suka menolong membawa berkah; kemalasan hanya membawa malu.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.