

Halaman 1
Di sebuah istana, lahir seorang putri. Kulitnya seputih salju. Rambutnya sehitam kayu eboni. Pipinya semerah apel. Ia dinamai Putri Salju. Semua orang di istana menyayanginya.

Halaman 2
Ratu baru datang ke istana itu. Ia punya cermin ajaib. "Cermin, cermin di dinding, siapa yang paling cantik?" tanyanya. Cermin menjawab, "Putri Salju yang paling cantik." Wajah ratu menjadi merah karena iri.
Halaman 3
Ratu memanggil seorang pemburu. "Bawa Putri Salju jauh ke hutan. Jangan biarkan ia pulang!" Di tengah hutan, pemburu itu berbisik sedih, "Larilah, Putri. Carilah tempat yang aman." Putri Salju pun berlari di antara pohon-pohon tinggi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Menjelang senja, ia menemukan pondok mungil. Ada tujuh kursi kecil, tujuh piring kecil, tujuh tempat tidur kecil. "Rumah siapa ini?" bisiknya. Karena lelah sekali, ia berbaring dan tertidur pulas.
Halaman 5
Malamnya, tujuh kurcaci pulang dari tambang. "Lihat! Ada gadis tidur di sini!" seru yang paling kecil. Putri Salju menceritakan semuanya. "Tinggallah bersama kami," kata mereka. "Tapi ingat, jangan bukakan pintu untuk orang asing."
Halaman 6
Di istana, cermin berkata Putri Salju masih yang tercantik. Ratu terkejut, lalu menyamar jadi nenek penjual apel. Ia menyihir sebuah apel merah. "Siapa menggigitnya akan tertidur panjang," gumamnya, lalu berangkat ke pondok di balik tujuh bukit.
Halaman 7
"Apel merah yang manis, cicipilah, Nak," bujuk nenek itu di jendela. Putri Salju lupa pesan kurcaci. Ia menggigit apel itu. Seketika matanya terpejam, dan ia jatuh tertidur. Nenek itu menghilang di antara pepohonan.
Halaman 8
Kurcaci pulang dan menemukan Putri Salju tak mau bangun. Mereka menangis semalaman. Karena tak sanggup berpisah, mereka membaringkannya di dalam peti kaca di tengah padang bunga, lalu menjaganya bergantian.
Halaman 9
Suatu pagi, seorang pangeran berkuda melewati padang itu. "Izinkan aku membawanya ke istanaku," pintanya. Saat peti kaca diangkat, seorang pembawa tersandung akar. Potongan apel terlepas dari mulut Putri Salju, dan ia membuka mata!
Halaman 10
Di istana, ratu bertanya lagi kepada cermin ajaibnya. "Putri Salju hidup, dan ia yang paling cantik," jawab cermin. Karena marah, ratu memukul kaca itu. Prakk! Cermin ajaibnya retak. Ratu pergi dari istana, dan tak pernah kembali.
Halaman 11
Putri Salju tinggal di istana pangeran, dan tujuh kurcaci sering berkunjung. Malam ini padang bunga tenang. Tujuh lentera kecil padam satu per satu. Tidurlah nyenyak seperti Putri Salju, yang aman di antara sahabat-sahabatnya.
Putri Salju mungkin dongeng Grimm yang paling dikenal di dunia — kebanyakan anak mengenalnya lewat film kartun. Versi kami justru kembali ke buku tua Jerman: tujuh kurcaci di sini adalah penambang yang pulang dari tambang, dan peti kaca diletakkan di tengah padang bunga.
Kalau anakmu hafal versi kartunnya, ajak ia mencari bedanya: di buku tua — dan di versi kami — Putri Salju terbangun bukan karena ciuman, melainkan karena potongan apel terlepas saat peti kaca terguncang. Bagian akhirnya kami lembutkan: sang ratu tidak dihukum, ia memecahkan cermin ajaibnya sendiri karena marah, lalu pergi dan tak kembali.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: rasa iri membuat ratu kehilangan segalanya, sedangkan Putri Salju punya tujuh sahabat yang menjaganya. Tanyakan juga: kenapa Putri Salju lupa pesan kurcaci untuk tidak membuka pintu — dan apa yang bisa kita pelajari dari itu?
Iri hati tidak pernah membuat kita bahagia; kebaikan dan persahabatanlah yang menjaga kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.