

Halaman 1
Dahulu kala, ada sepasang suami istri. Mereka tinggal di sebelah kebun yang tinggi temboknya. Kebun itu milik seorang penyihir. Di sana tumbuh selada rapunzel yang segar. Sang istri sangat ingin memakannya.

Halaman 2
Suami memanjat tembok untuk memetik selada. Tiba-tiba penyihir muncul. "Berani sekali kau mengambil seladaku!" serunya. "Ambillah, tapi ada syaratnya. Bayimu kelak harus tinggal bersamaku." Dengan takut, suami itu mengangguk.
Halaman 3
Bayi itu tumbuh menjadi gadis bernama Rapunzel. Penyihir menyimpannya di menara tinggi tanpa pintu dan tanpa tangga. Setiap sore penyihir berseru dari bawah, "Rapunzel, Rapunzel, ulurkan rambutmu!" Rambut emas yang panjang pun turun dari jendela.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Rapunzel sering bernyanyi sendirian. Suaranya lembut seperti angin senja. Seorang pangeran yang berkuda di hutan itu berhenti tiba-tiba. "Suara siapa yang seindah ini?" bisiknya. Dari balik pohon, ia melihat rahasia rambut emas itu.
Halaman 5
Sore berikutnya, pangeran berseru, "Rapunzel, Rapunzel, ulurkan rambutmu!" Rambut emas pun turun, dan ia memanjat ke atas. Rapunzel terkejut, lalu tersenyum. Mereka bercerita sampai bintang muncul. Sejak itu pangeran datang setiap senja.
Halaman 6
Suatu hari Rapunzel keceplosan, "Nek, kenapa menarik Nenek ke atas lebih berat daripada menarik pangeran?" Penyihir sangat marah. "Jadi ada tamu diam-diam!" Ia memotong rambut emas itu, lalu membawa Rapunzel jauh ke lembah yang sunyi.
Halaman 7
Senja itu pangeran memanjat seperti biasa. Tapi di jendela, penyihir yang menunggu! "Rapunzel sudah tidak di sini!" serunya. Penyihir meniupkan kabut sihir kelabu. Mata pangeran tertutup kabut, dan ia tak dapat melihat apa-apa lagi.
Halaman 8
Pangeran berjalan meraba-raba sambil memanggil lirih, "Rapunzel, di mana kau?" Suatu pagi, langkahnya sampai di sebuah lembah yang hijau. Angin membawa sepotong lagu ke telinganya. Lagu yang sangat ia kenal! Hatinya berdebar kencang.
Halaman 9
"Rapunzel!" seru pangeran. Rapunzel berlari memeluknya sambil menangis bahagia. Air matanya jatuh ke mata pangeran. Ajaib! Kabut kelabu itu larut, dan pangeran bisa melihat lagi. Jauh di menara, sihir penyihir itu pudar untuk selamanya.
Halaman 10
Rapunzel dan pangeran pulang ke istana. Malam turun pelan di atas kerajaan. Di jendela, Rapunzel mengepang rambutnya yang mulai panjang lagi. Tak ada lagi menara terkunci, hanya bintang yang ramah. Pelan-pelan matanya terpejam. Mimpi indah, Rapunzel.
Kisah gadis berambut panjang di menara dikenal di banyak negeri Eropa; versi yang kita baca datang dari Jerman, dari kumpulan Grimm. Nama Rapunzel sendiri bukan nama orang: itu nama sayuran selada yang tumbuh di kebun penyihir dan sangat diinginkan ibu sang bayi.
Di Jerman ada jalur wisata sungguhan bernama Deutsche Märchenstraße, "Jalan Dongeng", yang menghubungkan kota-kota tempat kisah-kisah Grimm hidup. Salah satu pemberhentiannya adalah kastil tua dengan menara tinggi yang dijuluki menara Rapunzel — pengunjung memandangnya sambil membayangkan rambut emas terulur dari jendela.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama nasib kedua tokohnya lebih berat: Rapunzel dibuang ke tempat sunyi dan pangeran lama kehilangan penglihatan. Versi kami memilih kabut sihir yang larut oleh air mata tulus. Bahan ngobrol: suara dan lagu bisa menjadi penunjuk jalan — bagaimana pangeran menemukan Rapunzel kembali?
Suara hati orang yang saling menyayangi akan selalu menemukan jalan untuk bertemu lagi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.