

Halaman 1
Di tepi hutan, ada rumah kecil. Di sana tinggal Hansel dan Gretel bersama ayah mereka, seorang penebang kayu. Hidup mereka sangat miskin. Malam itu, roti di rumah tinggal sepotong kecil saja.

Halaman 2
Ibu tiri berbisik, "Besok kita antar anak-anak jauh ke dalam hutan, lalu kita pulang berdua saja." Hansel mendengarnya dari kamar. Diam-diam ia keluar dan mengumpulkan kerikil putih yang berkilau. "Ini akan menolong kita," bisiknya pada Gretel.
Halaman 3
Di hutan, ayah menyalakan api unggun. "Tunggulah di sini," katanya sedih, lalu pergi. Malam tiba, dan mereka sendirian. Gretel menggenggam tangan kakaknya. "Lihat, bulan sudah naik," bisik Hansel. Kerikil putih berkilau menunjukkan jalan pulang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Beberapa hari kemudian, mereka dibawa ke hutan lagi. Kali ini Hansel tak sempat mengambil kerikil. Ia menjatuhkan remah roti di sepanjang jalan. Tapi burung-burung hutan memakan semua remahnya. Hansel dan Gretel pun tersesat.
Halaman 5
Mereka berjalan dan berjalan. Tiba-tiba Gretel berseru, "Lihat! Rumah dari kue!" Dindingnya roti jahe, atapnya cokelat, jendelanya gula jernih. Perut mereka lapar sekali. Krauk, krauk! Mereka mencicipi atap yang manis itu.
Halaman 6
Pintu terbuka pelan. Seorang nenek keluar. "Masuklah, anak-anak manis," katanya. Ternyata ia penyihir jahat yang suka menangkap anak-anak! Ia mengunci Hansel di kamar berjeruji besi. "Gretel, kau harus bekerja untukku!" perintahnya.
Halaman 7
Setiap pagi penyihir berseru, "Hansel, tunjukkan jarimu!" Mata penyihir itu rabun. Hansel yang cerdik menyodorkan ranting kecil. "Hmm, masih kurus!" gerutu penyihir. Begitulah berhari-hari, dan Hansel tetap selamat di kamarnya.
Halaman 8
Suatu pagi, penyihir tertidur. Kunci rumah kue tergantung di paku, dan di kunci itulah sihirnya tersimpan. Gretel mengambilnya. "Sihirmu habis sekarang!" serunya. Jeruji besi terbuka, dan penyihir berubah jadi gagak lalu terbang jauh.
Halaman 9
Di rumah kue itu ada peti penuh mutiara dan permata. Mereka mengisi saku, lalu berjalan pulang. Seekor burung putih menunjukkan arah. Di depan rumah, ayah berlari memeluk mereka. "Anak-anakku! Ibu tiri sudah pergi. Sekarang kita bertiga saja."
Halaman 10
Malam itu, rumah kecil terasa hangat. Tak ada lagi lapar, tak ada lagi takut. Hansel dan Gretel berbaring berdampingan. Karena saling menjaga, mereka selalu menemukan jalan pulang. Mata mereka terpejam pelan. Selamat tidur, Hansel dan Gretel.
Hansel dan Gretel adalah salah satu dongeng Jerman paling terkenal dari kumpulan Grimm. Ia termasuk keluarga cerita tentang kakak-beradik yang tersesat namun selamat berkat akal dan saling menjaga — dan rumah kue di tengah hutan membuatnya dikenang anak-anak di seluruh dunia.
Rumah roti jahe itu sungguh ada di dapur orang Jerman: menjelang akhir tahun banyak keluarga memanggang Hexenhaus, rumah kue jahe kecil dengan atap cokelat dan jendela dari gula, persis seperti dalam dongeng. Di rumah, ajak anak menyusun rumah-rumahan dari biskuit dan cokelat — cara paling manis mengenang cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam buku tua nasib penyihir jauh lebih seram — ia berakhir di dalam tungku; di versi kami sihirnya tersimpan di kunci rumah kue, dan ia terbang pergi sebagai gagak. Bahan ngobrol: Hansel dan Gretel selamat karena saling menjaga. Tanyakan pada anak: ide siapa yang paling cerdik?
Kakak dan adik yang saling menjaga dapat melewati kesulitan apa pun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.