Google PlayApp Store
Sampul cerita Tikus Kota dan Tikus Desa

Tikus Kota dan Tikus Desa

10 halaman3 menit 3 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di sebuah desa yang tenang, tinggallah seekor tikus desa. Rumahnya di bawah pohon. Suatu hari, sepupunya datang berkunjung dari kota. Bulunya rapi, jalannya cepat.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Tikus desa menyuguhkan makanan sederhana: biji gandum, kacang, dan sepotong ubi. “Silakan, Sepupu,” katanya ramah. Tikus kota mencicipi sedikit. “Hmm... sederhana sekali,” katanya. “Di kota, aku makan keju dan kue setiap hari!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

“Ikutlah denganku ke kota,” ajak tikus kota. “Kamu akan melihat hidup yang sesungguhnya!” Tikus desa penasaran. Ia pun ikut. Mereka berjalan jauh, sampai lampu-lampu kota berkelip di depan mata.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Rumah tikus kota ada di celah dinding sebuah rumah besar. Di meja makan, sisa pesta masih terhampar: keju kuning, roti manis, kue-kue kecil. “Wah!” mata tikus desa berbinar. “Banyak sekali makanannya!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Baru saja mereka menggigit keju — BRAK! Pintu terbuka. Langkah kaki manusia berdebum masuk. “Sembunyi!” bisik tikus kota. Mereka berlari ke celah dinding, jantung mereka berdebar kencang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Setelah sepi, mereka keluar lagi. Baru menggigit kue — “Meooong!” Seekor kucing besar melompat ke atas meja! Kedua tikus lari tunggang-langgang, masuk ke lubang yang paling kecil. Kumis mereka gemetar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

“Apakah selalu begini?” bisik tikus desa dengan napas terengah. Tikus kota mengangguk. “Yah... beginilah kota. Makanannya enak, tapi kita harus selalu waspada.” Perut tikus desa masih lapar, tetapi kakinya sudah lemas ketakutan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

“Terima kasih atas jamuannya, Sepupu,” kata tikus desa. “Tapi aku mau pulang. Lebih baik makan ubi dengan tenang daripada makan kue sambil ketakutan.” Tikus kota mengantarnya sampai ke gerbang kota.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Tikus desa tiba di rumahnya di bawah pohon. Ia mengunyah biji gandum sambil mendengarkan jangkrik bernyanyi. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang mengagetkan. “Ah, tenangnya,” katanya sambil tersenyum.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Angin desa berdesir lembut di daun-daun. Tikus desa menggulung diri di kasur jeraminya, hangat dan aman. Hidup sederhana yang tenang terasa nikmat sekali. Peluk gulingmu, hangatkan dirimu, dan terlelaplah dengan tenang.

Tentang cerita ini

Tikus kota dan tikus desa sudah diceritakan orang selama berabad-abad, karena pertanyaannya tak kunjung selesai: hidup ramai yang penuh kejutan, atau hidup sederhana yang tenang? Fabel Aesop ini tidak menghakimi — ia membiarkan setiap keluarga menemukan jawabannya sendiri.

Di Indonesia, dua dunia itu saling mengunjungi setiap tahun: jutaan orang mudik dari kota ke kampung halaman. Perjalanan pulang kampung berikutnya bisa menjadi jangkar cerita ini — ajak anak membandingkan bunyi malam di kota dan di desa: klakson dan lampu, atau jangkrik dan angin.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: cerita ini tidak berkata kota itu buruk — tikus kota pun ramah dan suka berbagi; ia hanya bertanya apa yang membuat hati kita tenang. Tanyakan pada anak: apa yang paling kamu sukai dari rumah kita sendiri?

Untuk orang tua

Pesan moral

Hidup sederhana yang tenang lebih berharga daripada kemewahan yang penuh kekhawatiran.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa perbedaan makanan di desa dan makanan di kota?
  2. Apa saja yang membuat kedua tikus ketakutan di kota?
  3. Mengapa tikus desa memilih pulang ke desanya?
  4. Apa hal sederhana di rumahmu yang membuatmu merasa nyaman?

Untuk kelas

sepupumenyuguhkancelahberdebumtunggangwaspadajerami

Cerita lain: Aesop

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.