

Halaman 1
Asgard, kota para dewa, dikelilingi tembok batu. Tapi di satu sisi, temboknya runtuh dan belum diperbaiki. «Kalau raksasa nakal datang lewat sini, bagaimana?» kata para dewa dengan cemas.

Halaman 2
Suatu pagi datang seorang pembangun asing yang tinggi besar, menuntun kuda jantan gagah bernama Svadilfari. «Aku bisa menyelesaikan tembok kalian dalam satu musim dingin. Bayarannya: matahari dan bulan!»
Halaman 3
«Matahari dan bulan? Tidak mungkin!» Para dewa hampir menolak, tapi Loki berbisik: «Terima saja. Satu musim dingin itu sebentar. Dia pasti tidak akan selesai, dan kita dapat tembok setengah jadi. Gratis!»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Mereka pun sepakat: tembok harus selesai sebelum hari pertama musim semi, dan ia hanya boleh dibantu kudanya. Pembangun itu tersenyum tipis. Malam itu juga, Svadilfari menarik batu-batu sebesar rumah. Kuda itu kuat luar biasa!
Halaman 5
Tembok naik cepat sekali, batu demi batu, tinggi dan rapi. Para dewa mulai panik. Tiga hari sebelum musim semi, tinggal gerbangnya saja yang belum jadi. «Ini semua idemu, Loki!» seru mereka. «Kalau matahari dan bulan hilang, itu salahmu. Perbaiki!»
Halaman 6
Loki memutar otak... lalu menyeringai. Malam itu, dari balik hutan muncul seekor kuda betina yang cantik jelita. Ia meringkik riang dan berlari-lari lincah. Svadilfari menegakkan telinga. Kuda cantik itu mengajaknya bermain!
Halaman 7
Svadilfari melepaskan tali batunya dan mengejar kuda cantik itu ke hutan. Mereka berlari-larian semalaman. Sang pembangun memanggil-manggil sampai suaranya serak: «Svadilfari! Kembali! Batunyaaa!» Tapi kudanya asyik bermain.
Halaman 8
Hari pertama musim semi tiba, dan gerbang belum selesai. Pembangun itu menghela napas. «Aku kalah.» Para dewa memberinya sekantong perak untuk kerja kerasnya. Ia pulang bersama Svadilfari sambil menggerutu — tapi matahari dan bulan tetap di langit.
Halaman 9
Para dewa menyelesaikan gerbang itu bersama-sama, bergotong royong. Beberapa waktu kemudian, Loki datang membawa anak kuda ajaib berwarna abu-abu... berkaki delapan! «Namanya Sleipnir. Untukmu, Odin.» Sleipnir tumbuh menjadi kuda tercepat di dunia.
Halaman 10
Sejak itu tembok Asgard berdiri kokoh, dan Sleipnir berlari secepat angin di atas awan. Malam ini, dengarkan derap kakinya yang menjauh: tuk-tuk-tuk... makin pelan... makin jauh... sampai sunyi. Saatnya tidur, anak manis.
Kisah pembangun tembok Asgard dan lahirnya Sleipnir, kuda berkaki delapan milik Odin, diceritakan Snorri Sturluson dalam Gylfaginning, bagian pertama Edda Prosa dari Islandia abad ke-13. Sleipnir sendiri lebih tua dari buku itu: ia sudah dipahat pada batu-batu bergambar di pulau Gotland, Swedia, sejak sekitar abad ke-8.
Kuda pekerja masih bisa ditemui di Indonesia: kuda delman dan andong di Yogyakarta, kuda beban di Sumba dan Sumbawa. Melihat kuda menarik gerobak penuh membuat anak paham kenapa Svadilfari-lah kunci cerita. Tembok batu tanpa semen pun ada di sini: susunan batu candi di Jawa Tengah yang saling mengunci.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam kanon si pembangun juga meminta Freya, ternyata seorang raksasa, dan dihabisi Thor dengan palunya; Sleipnir pun lahir dari Loki sendiri yang menyamar jadi kuda betina. Versi kami membiarkannya pulang membawa perak dan tidak menjelaskan asal-usul anak kuda itu. Bahan ngobrol: kenapa para dewa tetap membayar orang yang kalah?
Ide yang asal-asalan bisa menyusahkan banyak orang — beranilah mengakui dan memperbaikinya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.