

Halaman 1
Di Pulau Timor hiduplah anak bungsu bernama Suri Ikun. Kakak-kakaknya banyak dan suka menyuruh-nyuruhnya. Suri Ikun tidak pernah mengeluh. Ia senang bersiul menirukan suara burung.

Halaman 2
Suatu masa, ladang jagung keluarga diserbu babi hutan setiap malam. “Malam ini kau yang menjaga ladang, Suri Ikun. Sendirian,” kata kakak-kakaknya. Mereka tertawa, lalu pulang meninggalkannya.
Halaman 3
Malam di ladang gelap dan sunyi. Suri Ikun duduk di dekat api kecil. Tiba-tiba ia mendengar gemerisik. Ternyata dua anak burung terjatuh dari sarangnya. Suri Ikun memungut dan menghangatkan mereka.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Jangan takut, aku jaga kalian,” bisiknya sambil memberi remah jagung bakar. Semalaman ia menjaga kedua anak burung itu. Babi hutan yang datang malah lari mendengar Suri Ikun berteriak sambil memukul-mukul bambu.
Halaman 5
Paginya kakak-kakaknya datang. Melihat ladang aman, mereka justru iri, sebab ayah memuji Suri Ikun. “Besok jaga lagi. Terus saja kau di sini,” kata mereka. Berhari-hari Suri Ikun ditinggal di ladang yang jauh.
Halaman 6
Kedua anak burung itu tumbuh menjadi burung besar yang indah, hijau dan biru. Suatu senja mereka berkata, “Suri Ikun, naiklah ke punggung kami. Kami tahu tempat yang lebih baik untukmu.”
Halaman 7
Suri Ikun terbang di antara awan senja. Di balik bukit ada lembah yang subur: pohon buah-buahan, mata air jernih, dan sebuah rumah kecil yang hangat. “Ini rumahmu sekarang,” kata kedua burung itu.
Halaman 8
Suri Ikun hidup senang di lembah itu. Ia berkebun, dan kedua burung menemaninya sambil bernyanyi. Lama-kelamaan, kabar tentang lembah indah itu sampai ke kampung. Ayah dan kakak-kakaknya datang mencarinya.
Halaman 9
“Maafkan kami, Suri Ikun. Kami sering meninggalkanmu sendirian,” kata kakak-kakaknya sambil menunduk. Suri Ikun tersenyum. “Aku tidak pernah benar-benar sendirian. Ayo, lembah ini cukup untuk kita semua.”
Halaman 10
Keluarga itu pun pindah ke lembah dan hidup rukun. Malam ini, dua burung indah bertengger di atap rumah, menyanyikan lagu yang pelan dan panjang. Lagu itu untuk Suri Ikun, dan untukmu juga. Selamat tidur.
Suri Ikun adalah cerita rakyat dari Pulau Timor tentang anak bungsu yang disuruh-suruh kakak-kakaknya, lalu justru diselamatkan oleh dua burung yang pernah ia rawat. Kisah si bungsu yang tersisih tetapi berhati baik termasuk keluarga dongeng yang paling tersebar di dunia.
Latar ladang jagungnya diambil dari kehidupan nyata: jagung memang makanan pokok di Nusa Tenggara Timur, hadir di meja antara lain sebagai jagung bose. Menjaga ladang dari babi hutan pun pekerjaan yang sungguh ada di sana — sunyi, gelap, dan butuh nyali seperti yang ditunjukkan Suri Ikun. Sambil makan jagung rebus, cerita ini enak diulang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama yang tercatat, perlakuan kakak-kakaknya jauh lebih kejam; versi kami menahannya pada "ditinggal sendirian", lalu menutup dengan permintaan maaf dan lembah yang cukup untuk semua. Bahan ngobrol: rasanya tidak diajak atau ditinggal, dan merawat makhluk kecil yang kelak membalas dengan caranya sendiri.
Kebaikan kecil kepada makhluk lain akan kembali sebagai pertolongan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.