

Halaman 1
Di tepi hutan Bali hidup induk ayam hitam bernama Siap Selem. Anaknya tujuh ekor. Si bungsu belum tumbuh bulu, namanya Ulagan. Sore itu, angin dingin berdesir di daun-daun pisang, dan langit tiba-tiba menjadi gelap.

Halaman 2
Hujan turun deras sekali. “Anak-anak, kita cari tempat berteduh!” seru Siap Selem. Mereka berlari ke sebuah rumah di seberang sungai. Ternyata itu rumah Meng Kuuk, kucing hutan yang besar.
Halaman 3
“Silakan menginap di sini,” kata Meng Kuuk dengan senyum lebar. Namun matanya berbinar aneh. “Besok pagi ada ayam gemuk untuk sarapanku,” pikirnya. Siap Selem melihat lirikan itu dan menjadi curiga.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tengah malam, Siap Selem berbisik, “Anak-anak, kita harus pulang diam-diam. Satu per satu, terbanglah lewat jendela ke seberang sungai.” Anak-anak ayam mengangguk pelan-pelan tanpa bersuara.
Halaman 5
Prrr! Anak pertama terbang. “Suara apa itu?” tanya Meng Kuuk setengah tidur. “Hanya buah kelapa jatuh,” jawab Siap Selem dengan tenang. Prrr! Prrr! Satu per satu anak ayam menyeberang dengan selamat.
Halaman 6
Tinggal Ulagan si bungsu yang belum bisa terbang. “Bersembunyilah di tumpukan abu dapur, Nak. Tunggu sampai pagi,” bisik ibunya lembut. “Aku berani, Bu,” jawab Ulagan. Lalu Siap Selem ikut terbang menyeberang.
Halaman 7
Paginya Meng Kuuk terkejut. “Ayamku hilang semua!” Ia mengendus-endus sampai ke dapur. Dari tumpukan abu terdengar suara: “Grrr! Akulah penunggu abu! Jangan ganggu dapurku!” Meng Kuuk melompat mundur.
Halaman 8
Meng Kuuk lari keluar rumah sambil mengeong ketakutan. Ulagan cepat-cepat keluar dari tumpukan abu, badannya kelabu penuh debu. Ia menggelindingkan sebutir tempurung kelapa ke tepi sungai.
Halaman 9
Ulagan naik ke tempurung itu dan berlayar menyeberangi sungai. “Ibu! Aku datang!” serunya. Siap Selem dan enam kakaknya menyambut di tepi sungai dengan sayap terbuka lebar.
Halaman 10
Malam berikutnya mereka tidur di kandang sendiri yang hangat. Ulagan meringkuk paling dekat dengan ibunya. “Kruuk... kruuk...” Siap Selem berkotek pelan, seperti lagu nina bobo. Mereka pun lelap sampai pagi.
Siap Selem termasuk satua Bali yang paling disayang anak-anak. Judulnya sendiri sudah menjadi kosakata kecil bahasa Bali: siap berarti ayam dan selem berarti hitam. Kisah induk ayam yang menyelamatkan anak-anaknya dari rumah kucing hutan ini masih terus dituturkan dan dibukukan di Bali sampai sekarang.
Jangkarnya ada di halaman rumah: induk ayam kampung yang berkotek mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap menjelang gelap — pemandangan sehari-hari yang persis menggambarkan keberanian tenang Siap Selem. Dari sana mudah menjelaskan mengapa dongeng banyak memakai binatang sehari-hari: yang dekat lebih gampang dibayangkan anak.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: tetap tenang saat takut, mengikuti arahan orang tua dalam keadaan genting, dan berpikir dulu baru bertindak. Beri tepuk tangan juga untuk Ulagan: yang paling kecil, belum bisa terbang, tetapi justru paling berani menunggu sendirian di tumpukan abu.
Ketenangan dan akal menolong kita keluar dari bahaya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.