Google PlayApp Store
Sampul cerita Siap Selem Si Ayam Hitam

Siap Selem Si Ayam Hitam

10 halaman2 menit 56 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di tepi hutan Bali hidup induk ayam hitam bernama Siap Selem. Anaknya tujuh ekor. Si bungsu belum tumbuh bulu, namanya Ulagan. Sore itu, angin dingin berdesir di daun-daun pisang, dan langit tiba-tiba menjadi gelap.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Hujan turun deras sekali. “Anak-anak, kita cari tempat berteduh!” seru Siap Selem. Mereka berlari ke sebuah rumah di seberang sungai. Ternyata itu rumah Meng Kuuk, kucing hutan yang besar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

“Silakan menginap di sini,” kata Meng Kuuk dengan senyum lebar. Namun matanya berbinar aneh. “Besok pagi ada ayam gemuk untuk sarapanku,” pikirnya. Siap Selem melihat lirikan itu dan menjadi curiga.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Tengah malam, Siap Selem berbisik, “Anak-anak, kita harus pulang diam-diam. Satu per satu, terbanglah lewat jendela ke seberang sungai.” Anak-anak ayam mengangguk pelan-pelan tanpa bersuara.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Prrr! Anak pertama terbang. “Suara apa itu?” tanya Meng Kuuk setengah tidur. “Hanya buah kelapa jatuh,” jawab Siap Selem dengan tenang. Prrr! Prrr! Satu per satu anak ayam menyeberang dengan selamat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Tinggal Ulagan si bungsu yang belum bisa terbang. “Bersembunyilah di tumpukan abu dapur, Nak. Tunggu sampai pagi,” bisik ibunya lembut. “Aku berani, Bu,” jawab Ulagan. Lalu Siap Selem ikut terbang menyeberang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Paginya Meng Kuuk terkejut. “Ayamku hilang semua!” Ia mengendus-endus sampai ke dapur. Dari tumpukan abu terdengar suara: “Grrr! Akulah penunggu abu! Jangan ganggu dapurku!” Meng Kuuk melompat mundur.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Meng Kuuk lari keluar rumah sambil mengeong ketakutan. Ulagan cepat-cepat keluar dari tumpukan abu, badannya kelabu penuh debu. Ia menggelindingkan sebutir tempurung kelapa ke tepi sungai.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Ulagan naik ke tempurung itu dan berlayar menyeberangi sungai. “Ibu! Aku datang!” serunya. Siap Selem dan enam kakaknya menyambut di tepi sungai dengan sayap terbuka lebar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam berikutnya mereka tidur di kandang sendiri yang hangat. Ulagan meringkuk paling dekat dengan ibunya. “Kruuk... kruuk...” Siap Selem berkotek pelan, seperti lagu nina bobo. Mereka pun lelap sampai pagi.

Tentang cerita ini

Siap Selem termasuk satua Bali yang paling disayang anak-anak. Judulnya sendiri sudah menjadi kosakata kecil bahasa Bali: siap berarti ayam dan selem berarti hitam. Kisah induk ayam yang menyelamatkan anak-anaknya dari rumah kucing hutan ini masih terus dituturkan dan dibukukan di Bali sampai sekarang.

Jangkarnya ada di halaman rumah: induk ayam kampung yang berkotek mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap menjelang gelap — pemandangan sehari-hari yang persis menggambarkan keberanian tenang Siap Selem. Dari sana mudah menjelaskan mengapa dongeng banyak memakai binatang sehari-hari: yang dekat lebih gampang dibayangkan anak.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: tetap tenang saat takut, mengikuti arahan orang tua dalam keadaan genting, dan berpikir dulu baru bertindak. Beri tepuk tangan juga untuk Ulagan: yang paling kecil, belum bisa terbang, tetapi justru paling berani menunggu sendirian di tumpukan abu.

Untuk orang tua

Pesan moral

Ketenangan dan akal menolong kita keluar dari bahaya.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa Siap Selem curiga kepada Meng Kuuk?
  2. Bagaimana cara anak-anak ayam menyeberang tanpa ketahuan?
  3. Apa akal Ulagan supaya bisa lolos dari Meng Kuuk?
  4. Kalau kamu menjadi Ulagan, beranikah kamu bersembunyi sendirian? Mengapa?

Untuk kelas

berteduhcurigaberdesirmengendustempurungkelabu

Cerita lain: Bali, NTB, NTT

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.