

Halaman 1
Dahulu kala, hiduplah seorang saudagar dengan tiga anak perempuan. Si bungsu bernama Bella. Ia lembut dan suka membaca. Kedua kakaknya suka gaun dan perhiasan. Suatu hari, kapal-kapal saudagar itu hilang di laut, dan mereka menjadi miskin.

Halaman 2
Saudagar itu harus pergi jauh mengurus dagangannya. "Kalian mau oleh-oleh apa?" tanyanya. "Gaun sutra!" kata kakak pertama. "Kalung mutiara!" kata kakak kedua. Bella tersenyum. "Aku cukup setangkai mawar saja, Ayah."
Halaman 3
Dalam perjalanan pulang, saudagar tersesat di hutan bersalju. Ia menemukan kastil yang megah dan sunyi. Di tamannya, mawar-mawar bermekaran indah. Ia memetik satu untuk Bella. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar, "Kamu memetik mawarku!"
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Seekor makhluk besar berbulu berdiri di depannya. "Ampun, Tuan," kata saudagar gemetar. "Mawar ini untuk putriku." Makhluk itu terdiam sejenak. "Kalau begitu, biarkan salah satu putrimu datang tinggal di sini. Aku tidak akan menyakitinya, aku janji."
Halaman 5
Bella mendengar cerita ayahnya dan berkata dengan tenang, "Aku yang akan pergi, Ayah." Ayahnya menggeleng sedih, tetapi Bella sudah bersiap. Ia mengemasi buku-buku kesayangannya. "Jangan khawatir, Ayah. Aku berani," bisiknya.
Halaman 6
Bella tiba di kastil dan disambut makanan hangat. "Panggil aku Buruk Rupa," kata makhluk itu. Mereka mengobrol di perpustakaan setiap hari. "Wajahku menakutkan, ya?" "Kamu punya hati yang paling lembut dari semua orang yang aku kenal," jawab Bella.
Halaman 7
Suatu hari, Bella melihat ayahnya sakit di dalam cermin ajaib. "Aku harus menjenguknya," katanya. Buruk Rupa menunduk sedih. "Pergilah. Tapi kembalilah dalam tujuh hari, ya. Aku akan menunggumu di taman mawar." Bella berjanji akan kembali.
Halaman 8
Di rumah, Bella merawat ayahnya sampai sembuh. Kakak-kakaknya menahannya berhari-hari. Hari ketujuh lewat, dan Bella terbangun cemas. "Buruk Rupa pasti menungguku!" Ia bergegas kembali ke kastil dan berlari ke taman mawar.
Halaman 9
Buruk Rupa terbaring lemas di antara mawar. "Bangun, sahabatku!" seru Bella sambil menangis. "Aku menyayangimu apa adanya." Cahaya hangat menyelimuti taman. Sihir tua pun luruh, dan berdirilah seorang pangeran yang tersenyum lembut.
Halaman 10
Mereka menikah, dan kastil itu selalu wangi mawar. Setiap malam, mereka membaca cerita sampai lilin meredup. "Selamat tidur, Bella." "Selamat tidur." Tarik selimutmu, sayang, dan bawalah wangi mawar itu ke dalam mimpimu.
Si Cantik dan Si Buruk Rupa datang dari Prancis, tetapi bukan dari Perrault: penulisnya Madame Leprince de Beaumont, seorang pendidik yang menerbitkannya pada 1756 dalam buku bacaan untuk murid-muridnya. Dongeng ini memang lahir untuk diobrolkan: tentang melihat hati, bukan wajah.
Kalau anak mengenal kisah ini dari film animasi, versi kami justru lebih dekat ke buku tuanya: Bella suka membaca, dan persahabatan mereka tumbuh dari obrolan di perpustakaan kastil. Jangkarnya pun sederhana dan wangi — setangkai mawar sungguhan, hadiah termurah sekaligus termahal dalam cerita ini; cium satu bersama anak.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kisahnya sejak awal lembut dan hampir tidak perlu kami ubah — Buruk Rupa menepati janjinya untuk tidak menyakiti siapa pun, dan Bella menepati janjinya untuk kembali. Bahan ngobrol: Bella menilai sahabatnya dari sikap, bukan rupa. Tanyakan pada anak: dari mana kita tahu seseorang baik hati?
Yang penting bukan tampilan luar, tetapi hati yang baik — dan janji kepada sahabat perlu ditepati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.