

Halaman 1
Dahulu kala di negeri Prancis, hiduplah seorang gadis yang baik hati. Namanya Cinderella. Ia tinggal bersama ibu tiri dan dua kakak tirinya. Mereka suka menyuruh-nyuruh Cinderella sepanjang hari.

Halaman 2
Cinderella mencuci, memasak, dan menyapu dari pagi sampai malam. Malam hari ia duduk di dekat tungku, di antara abu yang hangat. "Sabar, ya," bisiknya pada dirinya sendiri. "Besok pasti ada hari yang lebih baik."
Halaman 3
Suatu hari, datang undangan dari istana. Raja mengadakan pesta dansa untuk Pangeran! Kedua kakak tiri melompat girang. "Aku akan memakai gaun sutra!" seru kakak sulung. "Aku pakai pita emas!" seru kakak kedua. Cinderella tidak boleh ikut.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Aku juga ingin pergi ke pesta," bisik Cinderella. Air matanya menetes. Tiba-tiba, cahaya lembut memenuhi dapur. Seorang Ibu Peri tersenyum di depannya. "Jangan menangis, Nak. Malam ini kamu akan pergi ke pesta."
Halaman 5
Ibu Peri mengayunkan tongkatnya. Sim salabim! Labu berubah menjadi kereta emas, enam tikus menjadi kuda putih. Gaun Cinderella berkilau seperti bintang, di kakinya sepatu kaca. "Ingat, pulanglah sebelum lonceng tengah malam!" pesan Ibu Peri.
Halaman 6
Di istana, semua orang terpana. "Siapa putri secantik itu?" bisik para tamu. Pangeran mengajak Cinderella berdansa. Mereka berputar-putar seperti dua kupu-kupu. Bahkan kakak-kakak tirinya tidak mengenalinya.
Halaman 7
Teng! Teng! Lonceng tengah malam berbunyi. "Aku harus pulang!" seru Cinderella. Ia berlari menuruni tangga istana. Satu sepatu kacanya terlepas dan tertinggal. Pangeran memungutnya. "Aku akan mencari pemilik sepatu ini!" katanya.
Halaman 8
Keesokan harinya, utusan istana berkeliling membawa sepatu kaca itu. Semua gadis di negeri mencobanya. Kedua kakak tiri memaksakan kaki mereka ke dalam sepatu itu. "Aduh, sempit sekali!" Sepatu itu tidak muat pada siapa pun.
Halaman 9
"Bolehkah aku mencoba?" tanya Cinderella pelan. Sepatu kaca itu pas sekali di kakinya! Kedua kakak tiri menunduk malu. "Maafkan kami, Cinderella. Dulu kami jahat padamu." Cinderella tersenyum. "Aku sudah memaafkan kalian."
Halaman 10
Beberapa hari kemudian, Cinderella menikah dengan Pangeran. Malam turun di atas istana, dan lampu-lampu padam satu per satu. Ia menutup mata dengan hati yang penuh syukur. Seperti Cinderella, pejamkan matamu perlahan-lahan. Selamat tidur, sayang.
Cinderella yang kita kenal datang dari Prancis: Charles Perrault menerbitkannya pada 1697 dalam kumpulan yang dijuluki "Dongeng Ibu Angsa" — buku kecil yang mengubah sejarah dongeng dunia. Ibu peri, labu yang menjadi kereta, dan sepatu kaca adalah sentuhan khas Perrault yang tidak ada pada versi-versi lebih tua.
Sepatu kaca itu bahkan punya perdebatan termasyhur: sebagian orang menduga Perrault sebenarnya bermaksud "vair" — bulu tupai, yang dalam bahasa Prancis terdengar sama dengan "verre", kaca. Tetapi dalam bukunya jelas tertulis kaca, dan sepatu mustahil itu justru intinya: hanya pas di kaki pemilik sejatinya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Akhir versi kami setia pada Perrault: Cinderella memaafkan kakak-kakak tirinya — jauh lebih lembut daripada versi-versi lain yang keras. Bahan ngobrol: Cinderella tetap sabar dan rajin tanpa menjadi kasar. Tanyakan pada anak: kenapa memaafkan kadang membuat hati kita sendiri yang paling lega?
Kebaikan hati dan sikap memaafkan membuat hidup lebih indah daripada gaun terindah mana pun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.