

Halaman 1
Dahulu kala, hiduplah seorang ibu dengan dua anak perempuannya. Si Sulung suka marah-marah dan malas. Si Bungsu rajin dan lembut hatinya. Setiap hari, Si Bungsu mengambil air dari mata air yang jauh di luar desa.

Halaman 2
Suatu siang, seorang nenek tua duduk di dekat mata air. "Nak, bolehkah aku minta minum?" tanyanya lirih. "Tentu, Nek. Minumlah yang segar," jawab Si Bungsu ramah. Ia membilas kendinya dan menuangkan air paling jernih untuk nenek itu.
Halaman 3
Nenek itu tersenyum, lalu berubah menjadi peri bercahaya! "Karena hatimu baik, setiap kali kamu berbicara, bunga dan berlian akan jatuh dari bibirmu," kata Peri. Benar saja! Di rumah, mawar berjatuhan saat Si Bungsu bercerita.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ibu terbelalak kagum. "Sulung, cepat pergi ke mata air! Bawakan minum untuk nenek tua di sana!" Si Sulung cemberut. "Malas sekali berjalan jauh," gerutunya. Tapi ia ingin berlian. Ia mengambil kendi dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki.
Halaman 5
Di mata air, seorang putri bergaun indah menghampiri. "Nak, bolehkah aku minta minum?" Si Sulung mendengus. "Ambil saja sendiri! Aku bukan pelayanmu!" Putri itu ternyata Peri. "Karena kata-katamu kasar, ucapanmu akan mengeluarkan katak."
Halaman 6
Si Sulung pulang dengan kesal. "Ibu, aku bertemu..." Plok! Plok! Dua katak kecil melompat dari mulutnya. Ibu menjerit kaget. Semakin Si Sulung mengomel, semakin banyak katak melompat-lompat di lantai. Si Sulung pun menangis sedih.
Halaman 7
Si Bungsu memeluk kakaknya. "Jangan sedih, Kak. Ayo kita berlatih pelan-pelan," katanya lembut. Setiap hari mereka berlatih berkata baik. "Terima kasih." "Tolong." "Maafkan aku." Lama-lama, hati Si Sulung ikut menjadi lembut.
Halaman 8
Suatu pagi, Peri datang berkunjung ke rumah mereka. Si Sulung menunduk. "Maafkan aku, Peri. Dulu aku kasar padamu." Peri tersenyum senang. "Kata maafmu tulus sekali." Ia mengayunkan tangannya, dan katak-katak pun hilang. Rumah kecil itu penuh tawa.
Halaman 9
Malam pun tiba di desa kecil itu. Kedua kakak beradik berbaring berdampingan, saling berbisik kata-kata manis. "Selamat tidur, Kak." "Selamat tidur, Adik." Bisikkan satu kata manis sebelum tidur, sayang, selembut kelopak mawar yang jatuh.
Kisah ini berasal dari "Les Fées", dongeng Charles Perrault dari Prancis. Sejak dulu ia dipakai para orang tua untuk satu pelajaran sederhana: kata-kata yang keluar dari mulut kita punya wujud — bisa seindah bunga dan berlian, bisa juga sedingin katak.
Peri di sini menyamar dua kali: menjadi nenek tua di depan si adik, menjadi putri bergaun indah di depan si kakak. Yang ia uji hati, bukan penampilan lawan bicara. Di rumah, ujian itu bisa menjadi permainan harian: hitung bersama "bunga" hari ini — berapa kali terucap tolong, terima kasih, dan maaf.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perrault membiarkan si kakak terhukum sampai akhir; versi kami memberi jalan pulang — sang adik mengajaknya berlatih kata-kata baik, dan katak-katak pun hilang. Bahan ngobrol: ucapan kasar sering datang dari kebiasaan, bukan dari hati yang jahat, dan kebiasaan bisa dilatih ulang pelan-pelan — persis seperti Si Sulung.
Kata-kata lembut seindah bunga dan berlian, kata kasar hanya membawa susah — dan siapa pun bisa belajar berkata baik.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.