

Halaman 1
Ibu kambing punya tujuh anak. Suatu pagi ia hendak ke hutan mencari makan. "Anak-anak, jangan bukakan pintu untuk serigala," pesannya. "Ciri-cirinya mudah: suaranya kasar dan kakinya hitam." Tujuh anak kambing mengangguk patuh.

Halaman 2
Tak lama, tok tok tok! "Buka pintu, anak-anakku, Ibu pulang," terdengar suara kasar. Anak kambing tertua berseru, "Kau bukan ibu kami! Suara ibu kami lembut, suaramu kasar. Kau serigala!" Serigala pun pergi dengan kesal.
Halaman 3
Serigala makan sebatang kapur agar suaranya lembut. Tok tok tok! "Buka pintu, Ibu pulang," katanya halus. Tapi kaki hitamnya menempel di jendela. "Ibu kami kakinya putih! Kau serigala!" seru anak-anak kambing. Serigala menggeram, grrr.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Serigala berlari ke tempat penggilingan. Ia mencelupkan kakinya ke tepung sampai putih semua. Tok tok tok! Suara lembut, kaki putih di jendela. "Itu Ibu!" seru si bungsu. Klek! Pintu terbuka. Ternyata... serigala!
Halaman 5
Anak-anak kambing lari bersembunyi. Di bawah meja, di dalam lemari, di belakang tungku! Serigala berjalan pelan sambil mengendus. Satu per satu ia menemukan enam ekor dan memasukkan mereka ke dalam karung besarnya.
Halaman 6
Hanya si bungsu yang selamat. Ia meringkuk diam di dalam kotak jam dinding, dan serigala tidak melihatnya. Karung itu berat sekali. Serigala menyeretnya ke padang, lalu tertidur nyenyak di bawah pohon.
Halaman 7
Ibu kambing pulang. Pintu terbuka, kursi terguling. "Anak-anakku, di mana kalian?" panggilnya. Suara kecil menjawab dari jam dinding, "Ibu, aku di sini!" Si bungsu keluar sambil menangis dan menceritakan semuanya.
Halaman 8
Mereka menemukan serigala mendengkur di bawah pohon. Krrr... krrr... Di sebelahnya, karung besar bergerak-gerak pelan. Ibu kambing menempelkan jari di bibir, sst! Ia membuka simpul karung, dan enam anak kambing keluar satu per satu tanpa suara.
Halaman 9
"Cepat, kumpulkan batu!" bisik ibu kambing. Anak-anak memasukkan batu-batu bulat ke dalam karung. Ibu mengikat simpulnya rapat seperti semula. Lalu mereka semua bersembunyi di balik semak sambil menahan napas.
Halaman 10
Serigala bangun dengan haus. Ia menyeret karungnya ke sumur. "Kok berat sekali, ya?" herannya. Saat ia membungkuk, karung batu itu menariknya, byur! Serigala basah kuyup. Ia memanjat keluar, kedinginan dan malu, lalu lari jauh.
Halaman 11
Malam itu kandang kecil hangat sekali. Tujuh anak kambing meringkuk di sisi ibunya. "Kami akan selalu mendengar pesan Ibu," bisik mereka. Ibu kambing bersenandung pelan. Mata kecil itu terpejam satu per satu. Tidurlah, embik kecil, sampai pagi.
Serigala dan Tujuh Anak Kambing datang dari Jerman, dari kumpulan Grimm, dan satu keluarga dengan dongeng-dongeng serigala penipu Eropa lainnya. Intinya pesan keselamatan yang diulang para ibu sejak ratusan tahun: jangan bukakan pintu untuk orang asing.
Tipuan serigala memakai barang yang bisa kamu tunjukkan langsung di dapur: kapur untuk melembutkan suara, tepung untuk memutihkan kaki. Anak kambing sendiri akrab bagi anak Indonesia — suara embiknya terdengar di banyak kampung. Coba minta anak menyebutkan tanda-tanda palsu yang akhirnya berhasil menipu si bungsu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua nasib para tokohnya jauh lebih keras; di versi kami serigala memasukkan anak-anak kambing ke dalam karung — bukan menelannya — dan akhirnya hanya tercebur ke sumur, basah kuyup, lalu lari jauh. Bahan ngobrol: cara memeriksa siapa di balik pintu, dan bahwa boleh berkata tidak walau tamu memaksa.
Pesan orang tua melindungi kita; dengarkan baik-baik sebelum membuka pintu untuk siapa pun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.