

Halaman 1
Inilah kisah yang diukir di Candi Prambanan dan dimainkan dalang dalam wayang kulit. Dahulu, Pangeran Rama dari Ayodya mengembara di hutan bersama istrinya, Dewi Sinta, dan adiknya yang setia, Lesmana.

Halaman 2
Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil di tengah hutan Dandaka. Rama berburu dan menjaga, Sinta menanam bunga di halaman, dan Lesmana berjaga di sekitar gubuk. Hidup mereka sederhana namun damai.
Halaman 3
Jauh di seberang laut, raja serakah bernama Rahwana ingin membawa Sinta ke istananya di Alengka. Ia menyuruh Kala Marica yang sakti mengubah diri menjadi seekor kijang emas yang sangat indah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kijang emas itu muncul di dekat gubuk. Bulunya berkilau tertimpa matahari, larinya seperti menari. Sinta terpesona. “Kakang Rama, tangkapkan kijang itu untukku,” pintanya. Rama pun mengejarnya ke dalam hutan.
Halaman 5
Kijang itu gesit sekali, memancing Rama semakin jauh. Ketika panah Rama menyambar, kijang itu lenyap menjadi asap! Kala Marica kembali ke wujudnya, berteriak meniru suara Rama, “Tolooong!”, lalu kabur ketakutan.
Halaman 6
Mendengar teriakan itu, Sinta cemas dan meminta Lesmana menyusul. Sebelum pergi, Lesmana menggambar lingkaran di tanah mengelilingi gubuk. “Kakak, jangan melangkah keluar dari lingkaran ini,” pesannya.
Halaman 7
Datanglah seorang kakek tua meminta air minum. Karena iba, Sinta melangkah keluar dari lingkaran. Seketika kakek itu berubah menjadi Rahwana! Sinta terkejut, tetapi tak ada siapa pun di dekat gubuk itu.
Halaman 8
Rahwana membawa Sinta terbang ke selatan, menuju Alengka. Di angkasa, garuda tua bernama Jatayu menghadang. “Lepaskan Dewi Sinta!” Ia bertarung gigih, namun Rahwana terlalu kuat. Dengan sayap letih, Jatayu turun ke bumi menunggu Rama.
Halaman 9
Rama dan Lesmana menemukan gubuk telah kosong. Jatayu bercerita, “Rahwana membawanya ke Alengka, di seberang laut selatan.” Rama menatap ke kejauhan. “Aku akan menjemputmu, Sinta. Sejauh apa pun jalannya.”
Halaman 10
Malam turun di hutan Dandaka. Rama memandang bintang-bintang dengan hati yang teguh dan tenang: esok perjalanan dimulai, dan sahabat-sahabat baru akan datang menolongnya. Pejamkan matamu, kisah ini akan berlanjut.
Ini adalah bagian pembuka Ramayana dalam tradisi Jawa — kisah yang selama berabad-abad dimainkan para dalang di layar wayang kulit. Episode kijang emas adalah salah satu yang paling dikenal: dari sinilah seluruh perjalanan besar Rama mencari Sinta dimulai.
Kisah ini benar-benar terukir di batu: relief Ramayana menghiasi Candi Prambanan di Jawa Tengah, dan di panggung terbuka dekat candi itu Sendratari Ramayana masih dipentaskan — penari dan gamelan di bawah langit malam. Anak yang kenal ceritanya akan menonton dengan perasaan bertemu tokoh lama.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Satu kejujuran: dalam versi-versi lama Jatayu gugur setelah melawan Rahwana; dalam versi kami ia terluka dan letih, namun sempat menyampaikan pesannya. Cerita ini sengaja berhenti di awal perjalanan — sampaikan pada anak bahwa kisahnya berlanjut di cerita Hanoman. Bahan ngobrol: kijang emas yang terlalu indah dan lingkaran pelindung Lesmana — kadang aturan yang terasa mengekang justru dibuat untuk menjaga kita.
Berhati-hatilah pada sesuatu yang tampak terlalu indah, dan ingatlah pesan orang yang menjaga kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.