

Halaman 1
Di Kerajaan Daha hiduplah dua putri kakak beradik, Candra Kirana dan Dewi Galuh. Candra Kirana bertunangan dengan seorang pangeran bernama Raden Inu Kertapati.

Halaman 2
Dewi Galuh diam-diam iri karena ia juga menyukai pangeran itu. Ia pun pergi menemui seorang nenek sihir dan meminta bantuan.
Halaman 3
Nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi seekor keong emas lalu membuangnya ke sungai. “Sihir ini hilang bila kau bertemu tunanganmu,” katanya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Keong emas itu hanyut sampai ke sebuah desa dan tersangkut di jala seorang nenek pencari ikan. Karena cangkangnya indah, nenek itu membawanya pulang.
Halaman 5
Esoknya, sepulang mencari ikan, nenek itu terkejut. Di meja sudah tersedia masakan yang hangat dan lezat, padahal pintu rumah dalam keadaan terkunci.
Halaman 6
Hal itu terjadi berhari-hari. Nenek itu lalu berpura-pura pergi kemudian mengintip. Ternyata keong emas berubah menjadi seorang gadis cantik yang memasak untuknya.
Halaman 7
“Aku Candra Kirana, putri dari Kerajaan Daha,” kata gadis itu sambil menceritakan semua yang menimpanya. Nenek itu pun merawatnya seperti anak sendiri.
Halaman 8
Sementara itu Raden Inu Kertapati mencari tunangannya ke mana-mana. Ia menyamar sebagai rakyat biasa dan berjalan dari desa ke desa.
Halaman 9
Setelah lama berjalan dan kehausan, ia singgah di sebuah rumah kecil untuk meminta air minum. Di sanalah ia bertemu Candra Kirana.
Halaman 10
Sihir itu pun sirna. Mereka kembali ke istana, dan kebaikan hati sang nenek dibalas dengan penghidupan yang layak seumur hidupnya.
"Keong Emas" adalah bagian dari lingkaran cerita Panji — kisah-kisah Jawa Timur tentang Raden Inu Kertapati dan Candra Kirana yang lahir di zaman kerajaan Kediri dan Majapahit. Cerita Panji menyebar jauh melampaui Jawa, sampai ke Bali, Melayu, Thailand, dan Kamboja, dan pada 2017 naskah-naskah Panji diakui UNESCO sebagai Ingatan Kolektif Dunia.
Nama keong emas juga akrab bagi anak-anak Indonesia dari tempat lain: di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta berdiri Teater Keong Emas, gedung bioskop raksasa yang bentuknya persis seperti keong dalam cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita ini enak dipakai membicarakan iri hati: Dewi Galuh tidak jahat sejak lahir — ia membiarkan rasa iri tumbuh sampai menjadi perbuatan buruk. Tanyakan pada anak: apa bedanya ingin punya seperti milik orang lain, dan ingin merebut milik orang lain?
Iri hati merusak persaudaraan, sedangkan kesabaran dan hati yang tulus akhirnya membawa kebahagiaan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.