

Halaman 1
Dahulu kala di dekat Kediri ada sebuah desa bernama Dadapan. Di sana tinggal seorang janda baik hati bernama Mbok Randha bersama anak angkatnya, seorang pemuda tampan yang dipanggil Ande-Ande Lumut.

Halaman 2
Di desa seberang sungai tinggal seorang ibu dengan tiga anaknya: Klething Abang, Klething Ijo, dan Klething Biru. Ada pula Klething Kuning, anak tirinya yang rajin bekerja, sabar, dan baik hati.
Halaman 3
Kabar tersiar ke mana-mana: Ande-Ande Lumut sedang mencari istri. Ketiga kakak segera berdandan. “Kuning, kau di rumah saja! Cuci semua pakaian ini!” Klething Kuning hanya mengangguk sambil tersenyum.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Saat Klething Kuning mencuci di sungai, seekor bangau besar hinggap di dekatnya. “Jangan sedih. Bawalah lidi ini,” kata bangau. “Ia akan menolongmu di air.” Pekerjaan mencuci pun cepat selesai.
Halaman 5
Sementara itu ketiga kakak tiba di sungai yang lebar. Muncullah Yuyu Kangkang, kepiting raksasa. “Aku mau menyeberangkan kalian, asal pipi kalian boleh kucium.” Karena buru-buru, mereka pun setuju.
Halaman 6
Klething Kuning menyusul dan menggeleng. “Terima kasih, Yuyu, tapi pipiku bukan upah.” Ia mengangkat lidi pemberian bangau, dan air sungai surut perlahan. Ia menyeberang sendiri dengan selamat.
Halaman 7
Di rumah Mbok Randha, ketiga kakak tampil cantik sekali. Namun Ande-Ande Lumut, yang tahu segala kejadian di sungai, berkata lembut, “Maaf, aku tidak memilih mereka. Mereka sudah menerima ciuman dari Yuyu Kangkang tadi.”
Halaman 8
Klething Kuning datang paling akhir, bajunya sederhana dan terkena lumpur. Ande-Ande Lumut justru turun menyambutnya. “Inilah pilihanku. Hatinya bersih dan teguh,” katanya dengan mata berbinar.
Halaman 9
Ternyata Ande-Ande Lumut adalah Panji Asmarabangun, putra raja Jenggala. Dan Klething Kuning sesungguhnya Dewi Sekartaji, putri Kediri. Pesta pernikahan mereka digelar meriah, dan seluruh desa ikut bergembira.
Halaman 10
Malam turun di Desa Dadapan. Sungai mengalir tenang, bangau tidur dengan kepala di bawah sayapnya. Seperti Klething Kuning yang terlelap dengan hati ringan, pejamkan matamu dan tidurlah dengan tenang.
"Ande-Ande Lumut" adalah cerita rakyat Jawa Timur dari lingkaran kisah Panji: di akhir cerita, Ande-Ande Lumut ternyata Panji Asmarabangun dari Jenggala dan Klething Kuning adalah Dewi Sekartaji dari Kediri. Pasangan yang sama hadir dalam banyak cerita Panji lain — versi desa yang hangat ini adalah salah satu pintu masuknya yang paling ramah anak.
Jangkar dunia nyatanya ada dua. Kediri dan Jenggala adalah nama kerajaan yang sungguh ada dalam sejarah Jawa. Dan "yuyu" adalah kata Jawa untuk kepiting air tawar yang sampai sekarang bisa ditemukan di sawah dan sungai kecil — seru dicari bersama anak saat lewat pematang sawah.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrolnya jelas dan dekat dengan keseharian: ketiga kakak memilih jalan pintas dan membayar dengan hal yang bukan seharusnya, sedangkan Klething Kuning berani berkata tidak. Tanyakan pada anak: kapan kita boleh menolak permintaan, walau semua orang lain setuju?
Kebaikan hati dan keteguhan menjaga diri lebih berharga daripada penampilan yang indah.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.