

Halaman 1
Di tanah Sunda hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Ia tinggal di tepi hutan bersama anak lelakinya, Sangkuriang, dan seekor anjing setia bernama Tumang.

Halaman 2
Sangkuriang gemar berburu. Ke mana pun ia pergi, Tumang selalu menemaninya menyusuri hutan yang rimbun dan berkabut.
Halaman 3
Suatu hari buruannya lolos karena Tumang tidak menuruti perintahnya. Karena kesal, Sangkuriang mengusir anjing itu jauh ke dalam hutan lalu pulang seorang diri.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayHalaman 4
Dayang Sumbi sangat marah dan sedih. Dalam kemarahannya ia memukul kepala Sangkuriang hingga terluka. Anak itu pergi meninggalkan rumah dan mengembara bertahun-tahun lamanya.
Halaman 5
Waktu berlalu. Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda gagah dan kembali ke tempat itu tanpa mengenali kampung halamannya sendiri. Di sana ia bertemu Dayang Sumbi dan ingin menikahinya.
Halaman 6
Saat menyisir rambut pemuda itu, Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepalanya. Ia terkejut. “Kau Sangkuriang, anakku sendiri!” katanya. Namun pemuda itu tidak mau percaya.
Halaman 7
Dayang Sumbi lalu mengajukan satu syarat. “Bendunglah sungai ini dan buatkan aku sebuah perahu besar. Semuanya harus selesai sebelum fajar menyingsing.”
Halaman 8
Sangkuriang bekerja sepanjang malam dibantu makhluk-makhluk halus. Bendungan hampir jadi dan perahu besar mulai terbentuk. Dayang Sumbi menjadi cemas melihatnya.
Halaman 9
Ia membentangkan kain sutra merah di sebelah timur dan menyuruh para perempuan menumbuk padi. Ayam-ayam pun berkokok dan langit tampak memerah seperti pagi.
Halaman 10
Mengira dirinya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu buatannya hingga terbalik. Perahu itu berubah menjadi gunung yang kini disebut Tangkuban Perahu.
Legenda Sangkuriang adalah cerita orang Sunda tentang bagaimana Gunung Tangkuban Parahu terbentuk: sebuah perahu raksasa yang ditendang hingga tertelungkup. Cerita yang sama juga menjelaskan Gunung Burangrang, Bukit Tunggul, dan danau purba yang dahulu menggenangi cekungan Bandung — jadi ini bukan sekadar dongeng, melainkan cara nenek moyang membaca bentang alam di sekitar mereka.
Jejak tertulisnya tua sekali. Legenda ini disinggung dalam naskah Bujangga Manik, catatan perjalanan yang ditulis pada daun lontar dalam bahasa Sunda Kuno sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16, dan kini tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.
Satu catatan untuk orang tua, supaya tidak kaget bila menemukan versi lain. Dalam tradisi aslinya cerita ini jauh lebih gelap: Tumang bukan sekadar anjing, melainkan dewa yang menjelma dan sesungguhnya ayah Sangkuriang, dan Sangkuriang kelak jatuh cinta kepada perempuan yang ternyata ibunya sendiri — dari situlah muncul syarat mustahil membuat perahu dalam semalam. Versi yang Anda dengar di sini berhenti pada pengenalan lewat bekas luka, tugas yang mustahil, dan kemarahan yang menghancurkan. Cocok untuk usia 5–7 tahun.
Kemarahan yang tidak dikendalikan bisa merusak hal-hal yang paling kita sayangi. Lebih baik menenangkan hati dulu sebelum bertindak.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.