

Halaman 1
Di negeri di atas awan tinggal dua kakak beradik. Putri Santubong pandai menenun songket, kain bersulam benang emas. Putri Sejinjang pandai menumbuk padi.

Halaman 2
Di bawah, dua kampung di tepi sungai sedang bertengkar. "Turunlah dan damaikan mereka," kata raja negeri awan. "Tetapi jangan sekali-kali kalian sendiri bertengkar."
Halaman 3
Kedua putri turun bersama kabut pagi. Santubong tinggal di kampung hulu. Sejinjang tinggal di kampung hilir. Penduduk memandang mereka dengan heran.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Santubong memasang alat tenun di beranda. Klik-klak, klik-klak. Perempuan kampung datang belajar. "Kainmu seperti matahari sore!" kata mereka kagum.
Halaman 5
Sejinjang mengajar orang menumbuk padi. Tuk, tuk, tuk. Beras putih memenuhi bakul. "Sekarang tidak ada lagi yang lapar," katanya sambil tersenyum.
Halaman 6
Kedua kampung akhirnya berdamai. Mereka berpesta bersama di tepi sungai. Kain baru dipakai, nasi hangat dibagi. Malam itu semua tertawa sampai larut.
Halaman 7
Tetapi kemudian kedua kakak beradik itu mulai berselisih. "Kain lebih penting, tanpa kain orang kedinginan," kata Santubong. "Nasi lebih penting, tanpa nasi orang lapar," balas Sejinjang.
Halaman 8
Suara mereka makin keras. Kedua kampung ikut memilih pihak. Damai yang baru dibangun mulai retak. "Berhentilah," seru suara dari awan. Kedua putri tidak mau berhenti.
Halaman 9
Pagi berikutnya kampung menjadi sunyi. Kabut turun tebal sekali. "Kak… maafkan aku," terdengar pelan dari dalam kabut. Ketika kabut naik, di sana berdiri dua gunung yang saling berhadapan.
Halaman 10
"Lihat, kabutnya bersalaman," kata seorang nenek setiap subuh. Kabut memang menyeberang dari gunung yang satu ke gunung yang lain. Dua pekerjaan yang sama-sama baik tidak perlu berebut. Selamat malam; gunung-gunung itu tidur lebih dulu.
Ini legenda dari Sarawak, tanah Melayu di pulau Kalimantan bagian Malaysia: kisah dua putri dari negeri di atas awan yang menjadi dua gunung. Cerita ini dituturkan orang di sekitar Kuching untuk menjelaskan asal Gunung Santubong, gunung di tepi laut yang terlihat dari kota.
Kuching sendiri kota yang menyenangkan untuk diceritakan pada anak: namanya berarti "kucing", dan di sana benar-benar berdiri patung-patung kucing di sudut-sudut kota. Kalau suatu hari melihat foto Gunung Santubong berselimut kabut pagi, ingatlah kalimat nenek dalam cerita: "kabutnya bersalaman".
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama kedua putri berkelahi sungguhan sampai terluka; versi kami menjadikannya perselisihan kata — tentang pekerjaan siapa yang lebih penting — yang berakhir dengan permintaan maaf di dalam kabut. Bahan ngobrol: menenun dan menumbuk padi sama-sama perlu; pekerjaan yang berbeda tidak usah berebut nomor satu.
Dua pekerjaan yang sama-sama berguna tidak perlu berebut siapa yang paling penting.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.