

Halaman 1
Di tepi Sungai Singapura tinggal seorang pemuda. Namanya Badang. Badannya kurus, tetapi ia paling rajin di kampung. Setiap pagi ia menebas semak dan memasang perangkap ikan.

Halaman 2
Perangkapnya dari bambu, namanya lukah. Tetapi setiap pagi lukah itu kosong. Hanya sisik dan tulang ikan yang tertinggal. "Siapa yang memakan ikanku?" gumam Badang.
Halaman 3
Malam itu Badang bersembunyi di balik pohon. Bulan naik. Air sungai berkecipak. Sesosok makhluk kecil penunggu sungai keluar dan membuka lukahnya. Badang melompat dan memegangnya erat.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Lepaskan aku!" pinta makhluk itu. "Kau menghabiskan ikanku setiap malam," kata Badang. "Maafkan aku. Sebagai gantinya, mintalah satu hal," jawab makhluk sungai itu.
Halaman 5
Badang berpikir sebentar. "Berilah aku tenaga untuk bekerja," katanya. Makhluk itu meniup kedua telapak tangan Badang. Tangannya terasa hangat. Lalu makhluk itu menghilang ke dalam air.
Halaman 6
Pagi-pagi Badang mencoba tenaganya. Ia memeluk sebatang pohon tumbang. Hup! Pohon itu terangkat seperti ranting. Ladang yang biasanya digarap sebulan kini selesai dalam satu pagi.
Halaman 7
Berita itu sampai ke istana. Raja Singapura memanggilnya. "Benarkah kau sekuat itu, Badang?" tanya raja. Badang mengangkat gong besar istana dengan satu tangan. Raja tertawa senang.
Halaman 8
Dari negeri seberang datang seorang pegulat. Badannya besar seperti lemari. "Aku ingin menguji orang kuat raja," katanya. "Lihat batu di depan istana. Siapa melempar paling jauh, dia menang."
Halaman 9
Pegulat itu mengangkat batu sampai lutut, lalu terduduk. Badang memeluk batu besar itu, berputar dua kali, lalu melempar. Byuur! "Lihat! Sampai ke muara!" teriak seseorang. Badang membantu pegulat itu berdiri.
Halaman 10
Sore itu Badang duduk di tepi sungai bersama pegulat tadi. Mereka tertawa berdua. "Tenaga itu untuk menolong, bukan untuk membanggakan diri," kata Badang. Tidurlah, sungainya berbisik sampai pagi.
Badang adalah orang kuat legendaris dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), hikayat istana yang juga melahirkan kisah Sang Nila Utama. Ia digambarkan sebagai pemuda biasa yang rajin bekerja di tepi sungai, lalu mendapat tenaga luar biasa — dan memakainya untuk menolong, bukan untuk pamer.
Legenda ini punya jejak yang mengejutkan: batu besar yang menurut hikayat dilempar Badang ke muara Sungai Singapura dikaitkan dengan Batu Singapura, dan pecahannya yang bertulisan kuno kini disimpan di Museum Nasional Singapura. Batu dari dongeng yang benar-benar bisa dilihat di museum.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi tua, syarat mendapat kekuatan itu aneh dan menjijikkan; di versi kami makhluk sungai cukup meniup telapak tangan Badang. Bahan ngobrol: ketika boleh meminta apa saja, Badang meminta "tenaga untuk bekerja" — kira-kira anak akan meminta apa? Dan perhatikan: sehabis menang, Badang membantu lawannya berdiri.
Kekuatan menjadi berharga kalau dipakai untuk bekerja dan menolong, bukan untuk menyombongkan diri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.