

Halaman 1
Di tepi sungai ada rumah kayu kecil. Di sana tinggal Mak Minah bersama dua anaknya. Yang besar bernama Melur, yang kecil bernama Pekan. Mak Minah bekerja sendirian untuk mereka berdua.

Halaman 2
Suatu hari Mak Minah menangkap ikan bertelur. Ia menyisihkan telur ikan itu di atas piring daun. "Simpan untuk ibu, ya," katanya. "Sudah lama sekali ibu ingin memakannya." Lalu ia pergi mencari kayu.
Halaman 3
Siang itu Melur dan Pekan lapar sekali. "Sedikit saja," kata Pekan. "Sedikit saja," kata Melur. Sedikit, sedikit, lalu piring daun itu kosong.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sore hari Mak Minah pulang membawa kayu. Ia melihat piring daun yang sudah kosong. Ia tidak marah dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di tangga, letih sekali.
Halaman 5
Malam itu Mak Minah berjalan ke hulu sungai. Di sana ada batu besar yang bisa membuka dan menutup. Orang menyebutnya Batu Belah Batu Bertangkup. "Bukalah, aku ingin beristirahat sebentar," pintanya.
Halaman 6
Batu itu terbuka. Di dalamnya hangat, ada cahaya lembut seperti bulan. Mak Minah melangkah masuk. Melur dan Pekan berlari sambil berteriak, "Ibu! Tunggu!" Batu itu menutup pelan-pelan.
Halaman 7
Kedua anak itu menempelkan tangan mereka di batu. "Maafkan kami, Bu," tangis Melur. "Kami yang menghabiskan telur ikan itu," kata Pekan. Angin berhenti sejenak.
Halaman 8
Dari dalam batu terdengar suara ibu mereka, hangat dan pelan. "Ibu dengar kalian. Ibu istirahat dulu di sini. Kalau kalian sudah bisa saling menjaga, ibu pulang."
Halaman 9
Setiap sore Melur dan Pekan datang ke batu itu. Mereka membawa sepiring daun dan selalu menyisakan bagian ibu. "Hari ini kami memasak sendiri, Bu," kata Melur. Angin menjawab pelan dari dalam batu.
Halaman 10
Pada senja ketujuh batu itu terbuka pelan. Mak Minah melangkah keluar, wajahnya tidak letih lagi. "Ibu pulang," katanya, dan kedua anaknya memeluknya erat. Sisakan selalu untuk orang yang kau sayangi. Tidurlah, rumah kalian sudah lengkap lagi.
Batu Belah Batu Bertangkup adalah dongeng Melayu yang tersebar luas — dari Riau sampai Semenanjung Malaya, hampir setiap daerah punya versinya. Intinya sama di mana-mana: seorang ibu yang letih, bagian makanannya yang dihabiskan anak-anak, dan batu ajaib yang bisa membuka dan menutup di hulu sungai.
Yang bisa dibawa pulang dari cerita ini sangat sehari-hari: kebiasaan Melayu menyisakan makanan untuk orang rumah yang belum pulang. Sesudah membaca, kebiasaan kecil itu bisa dimulai di rumah sendiri — "ini bagian ibu, ini bagian ayah".
Cocok untuk usia 4–8 tahun, dengan catatan: dalam versi-versi lama batu itu menelan sang ibu dan tidak pernah terbuka lagi. Versi kami berbeda — batu hanya tempat beristirahat, dan setelah tujuh senja anak-anak belajar saling menjaga, ibu pulang. Bahan ngobrol: ibu dalam cerita tidak marah, hanya letih — ajak anak menebak perasaan yang tidak diucapkan, lalu pikirkan bersama apa yang bisa dibantu di rumah.
Sisakan selalu bagian untuk orang yang menyayangimu, dan belajarlah menjaga satu sama lain.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.