

Halaman 1
Di Malaka ada seorang sultan. Ia mendengar cerita tentang Gunung Ledang. "Di puncaknya tinggal seorang putri," kata orang. Sultan penasaran sekali.

Halaman 2
Ia memanggil Hang Tuah, utusan terbaiknya. "Naiklah ke puncak," kata sultan. "Sampaikan salamku. Aku ingin dia menjadi permaisuriku." Hang Tuah membungkuk dan berangkat pagi itu juga.
Halaman 3
Jalan ke puncak curam dan basah. Kabut menempel di daun. Monyet-monyet mengintip dari dahan. Air terjun berdebur di sebelah jalan. Hang Tuah terus mendaki.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di puncak ada kebun bunga yang rapi. Seorang nenek menyambutnya di gerbang bambu. "Aku sudah tahu kau datang dari Malaka," katanya. "Aku berbicara untuk Putri Gunung Ledang."
Halaman 5
"Putri bersedia," kata nenek itu. "Tetapi ada syaratnya. Buatlah jembatan emas dan jembatan perak dari Malaka sampai ke puncak ini." Hang Tuah mencatat dengan tangan gemetar.
Halaman 6
"Lalu tujuh dulang penuh suara nyamuk," lanjut nenek itu. "Dan yang terakhir: secawan embun pagi dari tujuh puncak gunung, dikumpulkan dalam satu pagi yang sama."
Halaman 7
Di istana sultan mendengarkan dengan bersemangat. "Kerjakan semuanya!" katanya. Para pelayan berlarian membawa dulang kecil untuk menangkap suara nyamuk. Nging... nging... dulang itu tetap kosong.
Halaman 8
Tujuh orang mendaki tujuh gunung pada pagi yang sama. Mereka menampung embun di telapak tangan. Matahari naik. Embun itu hilang sebelum mereka sampai ke bawah. Semua pulang dengan cawan kering.
Halaman 9
Sultan duduk lama sekali. "Syarat itu memang tidak mungkin," katanya pelan. "Putri sedang berkata tidak, dan aku harus mendengarnya." Emas untuk jembatan itu dibagikan kepada rakyat Malaka.
Halaman 10
Pagi berikutnya kabut turun dari Gunung Ledang sampai ke kota. Wangi bunga terbawa angin. "Terima kasih sudah mengerti," bisik angin di jendela. Rasa suka tidak boleh dipaksakan. Tidurlah, biar kabut yang menyelimutimu.
Legenda ini datang dari lingkaran cerita istana Malaka, kota pelabuhan tua di tepi Selat Malaka — perempatan laut tempat kapal dagang dari mana-mana bertemu. Tokoh utusannya, Hang Tuah, adalah pahlawan Melayu yang paling termasyhur; hikayat tentangnya, Hikayat Hang Tuah, benar-benar ada dan masih dibaca sampai kini.
Gunung Ledang pun nyata: gunung di negeri Johor, Malaysia, yang dikenal dengan hutan dan air terjunnya. Sampai sekarang orang mendakinya sambil menceritakan sang putri di puncak — persis seperti pendakian Hang Tuah dalam cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi kanon syarat sang putri lebih seram — termasuk semangkuk darah; versi kami menggantinya dengan yang mustahil tetapi jenaka: embun dari tujuh puncak dan tujuh dulang suara nyamuk. Bahan ngobrol: sang putri berkata "tidak" dengan cara halus, dan sultan belajar menerimanya — rasa suka tidak boleh dipaksakan, dan "tidak" juga sebuah jawaban.
Kalau seseorang berkata tidak, hormati jawabannya — rasa suka tidak bisa dipaksakan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.