

Halaman 1
Dahulu, di tanah Banjar, ada kerajaan bernama Negara Dipa. Rajanya telah tua dan tidak punya penerus. Seorang panglima bijak bernama Lambung Mangkurat pun berjanji mencari raja baru yang terbaik bagi negerinya.

Halaman 2
Menurut pesan para tetua, penerus takhta bukan orang biasa: ia akan datang dari dalam sungai. Maka Lambung Mangkurat membuat rakit dari batang pisang, lalu hanyut perlahan mengikuti arus sungai besar, berhari-hari dengan hening dan sabar.
Halaman 3
Pada hari ketujuh, air di depan rakit berputar-putar. Dari pusaran naik buih putih bertumpuk-tumpuk, berkilau seperti awan kecil di atas air. Dari dalam buih terdengar suara halus seorang gadis yang berkata-kata.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Aku akan naik ke daratan,” kata suara itu, “tetapi penuhi dahulu permintaanku. Bawakan sehelai kain langgundi kuning, ditenun empat puluh gadis dalam setengah hari. Siapkan juga usungan indah untuk membawaku ke istana.”
Halaman 5
Lambung Mangkurat segera kembali dan mengumpulkan empat puluh penenun terbaik. “Bisakah selesai setengah hari?” tanyanya cemas. “Kami kerjakan bersama-sama!” jawab para gadis. Empat puluh alat tenun berbunyi serentak.
Halaman 6
Menjelang tengah hari, kain langgundi kuning itu selesai: halus, ringan, dan berkilau. Semua orang berkumpul di tepi sungai membawa usungan yang dihias bunga. Air sungai mulai berputar pelan, buih naik makin tinggi.
Halaman 7
Dari puncak buih muncullah seorang putri yang jelita. Rambutnya hitam berkilau, dan kain kuning itu melayang membungkusnya dengan pas. Rakyat bersorak gembira. Ia dinamai Putri Junjung Buih, putri yang dijunjung buih.
Halaman 8
Putri Junjung Buih menjadi ratu Negara Dipa. Ia memerintah dengan lembut dan adil. “Dengarkan dulu, baru memutuskan,” begitu pesannya kepada para menteri. Negeri itu pun tumbuh damai, ramai, dan berkecukupan.
Halaman 9
Sampai sekarang orang Banjar masih menuturkan kisahnya: ratu bijak yang datang dari buih sungai. Konon bila buih putih berkumpul di tepian, orang berkata, “Lihat, seperti kain Putri Junjung Buih sedang lewat.”
Halaman 10
Malam ini, bayangkan buih putih yang lembut itu: ringan, empuk, seperti bantalmu. Letakkan kepalamu pelan-pelan. Biarkan sungai bercerita sampai ujung mimpi, dan tidurlah setenang air yang mengalir.
Ini salah satu legenda besar orang Banjar di Kalimantan Selatan. Kisah putri yang muncul dari buih sungai tercatat dalam Hikayat Banjar, cerita panjang tentang asal para raja Banjar: Putri Junjung Buih dikenang sebagai leluhur mereka, dan panglima Lambung Mangkurat adalah tokoh yang namanya masih harum di sana.
Jejaknya mudah ditunjukkan: warna kuning — warna kain langgundi sang putri — sampai kini dianggap warna istimewa dalam adat Banjar, dipakai pada kain dan hiasan upacara. Nama Lambung Mangkurat pun diabadikan di Kalimantan Selatan, antara lain menjadi nama museum di Banjarbaru.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita ini enak dipakai untuk bicara tentang pemimpin yang baik: sang putri berpesan "dengarkan dulu, baru memutuskan". Coba juga hitung bersama: empat puluh penenun menyelesaikan satu kain dalam setengah hari — kerja berat jadi ringan bila dikerjakan bersama.
Kesabaran dan kerja sama membuat hal yang tampak mustahil menjadi mungkin.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.