

Halaman 1
Di sebuah bukit di Kalimantan Barat tinggallah seorang janda miskin bersama anak gadisnya, Darmi. Mereka hidup sederhana dari hasil ladang yang kecil.

Halaman 2
Darmi tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, tetapi malas dan manja. Sepanjang hari ia bercermin dan bersolek, sementara ibunya bekerja seorang diri.
Halaman 3
“Bu, ambilkan air. Bu, belikan baju baru,” pintanya setiap hari. Ibunya selalu menurut meskipun badannya lelah dan uangnya tidak seberapa.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Suatu hari mereka pergi ke pasar di desa seberang. Ibunya berjalan di belakang dengan pakaian lusuh, sedangkan Darmi berjalan di depan dengan baju terbaiknya.
Halaman 5
Di sepanjang jalan orang-orang mengagumi kecantikan Darmi. Seorang pemuda bertanya, “Gadis cantik, siapakah perempuan yang berjalan di belakangmu itu?”
Halaman 6
Darmi menjawab dengan angkuh, “Oh, dia hanya pembantuku.” Hati ibunya terasa perih, tetapi ia diam saja dan terus berjalan.
Halaman 7
Pertanyaan itu terulang lagi dan lagi. Setiap kali Darmi menjawab bahwa perempuan tua itu hanyalah pembantu yang mengikutinya ke pasar.
Halaman 8
Akhirnya sang ibu tidak sanggup menahan sedih. Ia berhenti, menengadah ke langit, dan berdoa, “Ya Tuhan, tegurlah anak yang tidak mau mengakui ibunya.”
Halaman 9
Tiba-tiba kaki Darmi terasa kaku. Perlahan tubuhnya berubah menjadi batu, mulai dari kaki sampai ke dada. Ia menangis dan memohon ampun kepada ibunya.
Halaman 10
Namun tubuhnya telanjur membatu seluruhnya. Dari kedua matanya masih menetes air, sehingga batu itu disebut Batu Menangis sampai hari ini.
"Batu Menangis" datang dari Kalimantan Barat. Ia termasuk keluarga besar cerita "anak durhaka" yang hidup hampir di setiap pulau Nusantara: di Sumatra ada Malin Kundang, di daerah lain ada Sampuraga dan Si Lancang. Bedanya, di sini yang membatu bukan anak lelaki yang pergi merantau, melainkan anak gadis yang malu mengakui ibunya sendiri.
Di beberapa tempat di Kalimantan Barat orang menunjukkan batu yang konon adalah Darmi — dengan tetesan air yang merembes seperti air mata. Cerita serupa dengan batu serupa juga dituturkan di daerah lain; itu tanda betapa pentingnya pesan ini bagi orang tua di mana-mana.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Akhirnya keras, seperti umumnya cerita anak durhaka — bersiaplah menjawab "kenapa ibunya tidak menolong?". Bahan ngobrol yang lebih ringan: kenapa Darmi malu, padahal ibunya tidak melakukan kesalahan apa pun? Malu pada orang yang kita sayangi — perasaan yang dikenal juga oleh anak kecil.
Wajah yang cantik tidak ada artinya tanpa hati yang baik. Jangan pernah malu mengakui orang tua sendiri, bagaimana pun keadaan mereka.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.