Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Gunung Batu Bangkai

Legenda Gunung Batu Bangkai

10 halaman3 menit 25 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di pegunungan Loksado, Kalimantan Selatan, tinggallah seorang ibu tua bersama anaknya, Andung Kuswara. Hidup mereka sederhana sekali. Andung pandai mengobati orang sakit, ilmu yang diwariskan mendiang ayahnya kepadanya.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Suatu malam Andung berkata, “Bu, izinkan aku merantau mencari kehidupan yang lebih baik.” Ibunya menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Pergilah, Nak. Tapi berjanjilah, jangan pernah melupakan ibumu.” Andung berjanji.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Andung berjalan jauh menyusuri sungai dan hutan. Di setiap kampung yang dilewatinya, ia menolong orang sakit dengan ramuan daunnya. Namanya mulai dikenal orang, dan langkahnya sampai ke sebuah negeri yang besar.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Di negeri itu, putri raja sedang sakit dan tak seorang pun bisa menyembuhkannya. Andung mencoba dengan ramuannya. Beberapa hari kemudian sang putri sembuh! Andung diberi rumah besar, pakaian indah, dan hidup berkelimpahan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Tahun demi tahun berlalu. Andung menikah dengan putri bangsawan dan makin kaya. Ketika istrinya bertanya tentang keluarganya, ia menunduk. “Aku... aku tidak punya siapa-siapa,” jawabnya. Janjinya pada ibu mulai ia kubur.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Suatu hari Andung dan istrinya berpesiar sampai ke kaki pegunungan Loksado. Kabar itu terdengar oleh ibunya yang sudah bungkuk. Ia berlari kecil menyongsong anaknya. “Andung! Ini ibu, Nak! Ibu rindu sekali padamu!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Di depan istrinya, wajah Andung menjadi merah. “Aku tidak mengenal perempuan tua ini!” katanya dingin. Ibunya terpaku. Air matanya jatuh ke tanah. Langit di atas gunung mendadak gelap, dan angin bertiup kencang sekali.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Guntur bergemuruh memenuhi lembah. Dada Andung terasa berat oleh janji yang dilanggarnya. “Ibu... maafkan...” Belum selesai kata itu diucapkan, tubuhnya perlahan mengeras, berubah menjadi batu yang sedang menunduk.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Hujan reda. Sang ibu mendekat dan mengusap batu itu pelan. “Ibu tetap sayang padamu, Nak,” bisiknya. Orang-orang menamai tempat itu Gunung Batu Bangkai, sebab batunya berbentuk seperti orang yang menunduk diam.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Kini gunung itu tenang berselimut kabut. Sebelum tidur, peluklah ayah dan ibumu dalam hatimu, dan ucapkan terima kasih pelan-pelan. Lalu pejamkan mata. Kabut gunung turun lembut, membawa tidurmu yang nyenyak.

Tentang cerita ini

Legenda ini berasal dari Loksado di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Ia sekeluarga dengan "Malin Kundang" dan "Batu Menangis" — kisah anak yang malu mengakui ibunya — tetapi tokohnya berbeda: Andung Kuswara bukan anak manja, melainkan tabib yang baik hati, yang perlahan-lahan mengubur janjinya sendiri.

Loksado nyata dan indah: kampung-kampung Dayak Meratus di lereng gunung, dan wisata menyusuri Sungai Amandit dengan rakit bambu. Gunung Batu Bangkai berdiri di daerah itu, dan orang setempat menunjuk batunya yang berbentuk seperti orang menunduk.

Cocok untuk usia 5–8 tahun. Berbeda dari kisah-kisah sekeluarganya, di sini ibu tidak mengutuk: sesudah semuanya terjadi, ia mengusap batu itu dan berkata tetap sayang. Justru itu bahan ngobrolnya — sayang ibu tidak hilang walau anak berbuat salah. Untuk anak yang sensitif, tutup dengan halaman terakhir: peluk ayah-ibu dalam hati, lalu ucapkan terima kasih.

Untuk orang tua

Pesan moral

Sejauh apa pun kita melangkah, jangan pernah malu mengakui dan menyayangi orang tua sendiri.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa janji Andung kepada ibunya sebelum merantau?
  2. Mengapa Andung berkata tidak mengenal ibunya?
  3. Bagaimana perasaan sang ibu ketika anaknya tidak mengakuinya?
  4. Apa yang terjadi pada Andung setelah ia melanggar janjinya?
  5. Bagaimana caramu menunjukkan sayang kepada ayah dan ibumu?

Untuk kelas

merantauramuanmendiangmenyusuriberkelimpahanmenyongsong

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.