

Halaman 1
Dahulu, di Muara Kaman di tepi Sungai Mahakam, berdiri sebuah kerajaan kecil. Rajanya seorang putri bernama Aji Bidara Putih. Ia cantik, pandai, dan sangat menyayangi rakyatnya. Negeri itu damai dan berkecukupan.

Halaman 2
Kabar tentang putri yang bijaksana itu terbawa sampai jauh. Kapal-kapal dagang datang silih berganti membawa kain, guci, dan rempah. Suatu hari, sebuah kapal besar dari negeri seberang laut berlabuh di muara sungai.
Halaman 3
Utusan kapal itu menghadap sambil membawa peti hadiah. “Pangeran kami ingin mempersunting Tuan Putri,” katanya dengan hormat. Aji Bidara Putih tersenyum. “Beri aku waktu semalam untuk berpikir,” jawabnya tenang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malamnya, putri mengutus seorang punggawa menyeberang diam-diam ke kapal. Punggawa itu mengintip sang pangeran saat makan. Ternyata pangeran itu kasar sekali: makannya berantakan dan ia suka membentak para pelayannya.
Halaman 5
Esoknya putri menolak dengan halus. Namun sang pangeran tersinggung. Ia memerintahkan anak buahnya naik ke darat sambil berteriak-teriak, hendak memaksa putri ikut ke kapal. Rakyat Muara Kaman menjadi ketakutan.
Halaman 6
Aji Bidara Putih tetap tenang. Ia duduk di serambi istana sambil mengunyah daun sirih. Lalu ia berbisik, “Tanahku, airku, jagalah kami.” Sepah sirih dari mulutnya ia semburkan ke arah pasukan yang datang itu.
Halaman 7
Ajaib! Setiap butir sepah berubah menjadi lipan, hewan kecil yang berkaki banyak. Satu, sepuluh, seribu, berlaksa-laksa! Lipan-lipan itu merayap memenuhi tanah lapang seperti permadani yang bergerak-gerak.
Halaman 8
Pasukan itu gemetar melihat tanah yang seakan hidup. “Mundur! Kembali ke kapal! Negeri ini ada penjaganya!” teriak pemimpin mereka. Mereka berlari tunggang-langgang, mendayung sekuat tenaga menjauhi Muara Kaman.
Halaman 9
Lipan-lipan berhenti di tepian. Tanah tempat mereka berkumpul perlahan turun, lalu terisi air menjadi danau yang tenang. “Terima kasih, penjaga kecilku,” kata putri lembut. Danau itu dinamai Danau Lipan sampai kini.
Halaman 10
Malam ini Danau Lipan hening. Airnya menjadi cermin bagi bulan, dan negeri di sekitarnya tidur dengan aman. Kamu pun aman di tempat tidurmu. Pejamkan matamu pelan-pelan, dan biarkan mimpi datang mengalir.
Cerita ini dituturkan di Muara Kaman, hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Tokohnya Aji Bidara Putih, putri raja yang memerintah sendiri dan melindungi negerinya bukan dengan pedang, melainkan dengan ketenangan — salah satu kisah pahlawan perempuan yang disayangi orang Kutai.
Muara Kaman sendiri tempat yang istimewa: di sanalah para ahli menemukan prasasti batu peninggalan Kerajaan Kutai, kerajaan tertua yang dikenal di Nusantara. Danau Lipan pun sungguh ada namanya di sana sampai kini, dan sirih yang dikunyah sang putri masih dikenal sebagai tradisi orang tua di banyak daerah.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama pasukan penyerang binasa oleh lipan; dalam adaptasi kami mereka ketakutan dan pulang, tak ada yang terluka. Bahan ngobrol: menilai orang dari perilakunya kepada pelayan, bukan dari hadiahnya — persis cara sang putri memutuskan.
Sopan santun menunjukkan isi hati; dan yang kecil pun, bila bersatu, mampu menjaga negerinya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.