Google PlayApp Store
Sampul cerita Asal Usul Burung Enggang

Asal Usul Burung Enggang

10 halaman3 menit 5 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu kala, di pedalaman Kalimantan, ada sebuah kampung Dayak di tepi sungai. Orang-orangnya tinggal bersama dalam rumah betang, rumah panjang untuk banyak keluarga. Di sekeliling kampung, hutan berdiri rapat dan hijau.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Suatu masa, warga kampung mulai sering bertengkar. Ada yang berebut ladang, ada yang berebut ikan. Kayu di hutan ditebang sembarangan. Burung-burung pergi, dan sungai pun keruh. Kampung itu kehilangan kedamaiannya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Di negeri atas langit, seorang pemimpin orang langit memandang ke bawah. Hatinya sedih melihat kampung itu. “Anak-anak bumi mulai lupa cara hidup rukun,” katanya pelan. “Aku akan turun dan mengingatkan mereka.”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Maka turunlah ia dalam wujud seekor burung besar yang gagah. Paruhnya melengkung, di kepalanya ada tanduk indah, sayapnya lebar, ekornya panjang. Itulah enggang, yang juga disebut rangkong. Ia hinggap di pohon tertinggi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Anak-anak kampung melihatnya lebih dulu. “Burung apa itu? Besar sekali!” seru mereka. Orang-orang berkumpul di bawah pohon. Burung itu memandang mereka dengan tenang, lalu berbicara dengan suara dalam seperti gong.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

“Lihat sayapku,” kata sang enggang. “Sayap yang kuat gunanya untuk melindungi, bukan untuk menakuti. Dan lihat ekorku yang panjang: itu tanda hidup berkecukupan, bila kalian mau berbagi dan menjaga hutan bersama.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Warga kampung tertunduk malu. Mereka berjanji berhenti bertengkar. Ladang dibagi dengan adil, ikan ditangkap secukupnya, dan pohon-pohon muda ditanam kembali. Perlahan-lahan hutan menghijau dan sungai jernih lagi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Ketika kampung telah damai, sang enggang mengepakkan sayapnya. “Tugasku selesai. Hiduplah rukun, dan aku akan menjaga kalian dari atas,” pesannya. Ia terbang tinggi, meninggalkan sehelai bulu yang jatuh melayang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

“Simpan bulu ini baik-baik!” kata tetua kampung. Sejak itu orang Dayak menghormati burung enggang. Gambarnya diukir di rumah betang, dan tarian-tarian menirukan kepak sayapnya yang tenang dan gagah berwibawa.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam ini, bayangkan sayap lebar itu terbentang pelan di atas kampung, seperti selimut yang hangat. Di bawah jagaannya semua tertidur nyenyak. Kamu juga, ya. Tarik selimutmu, pejamkan mata, tidur yang lelap.

Tentang cerita ini

Cerita ini lahir dari pedalaman Kalimantan, dari masyarakat Dayak yang tinggal bersama dalam rumah betang, rumah panjang untuk banyak keluarga. Dalam tradisi Dayak, enggang atau rangkong dipandang sebagai burung yang datang dari dunia atas — lambang kegagahan yang melindungi dan hidup yang berkecukupan.

Enggang mudah dikenali anak: paruhnya besar melengkung dengan "tanduk" di atas kepala, dan kepakan sayapnya terdengar dari jauh seperti napas raksasa. Sampai sekarang ukiran enggang menghiasi rumah betang, dan gerak sayapnya ditirukan dalam tarian Dayak — bila berkunjung ke Kalimantan atau kebun binatang, burung ini nyata bisa dilihat.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tidak ada yang menakutkan di sini: burung besar itu datang bukan untuk menghukum, melainkan mengingatkan. Bahan ngobrol: apa artinya kuat — sayap kuat untuk melindungi, bukan menakuti — dan mengapa hutan dan sungai perlu dijaga bersama-sama.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kekuatan yang sejati dipakai untuk melindungi, dan hidup rukun membuat semua berkecukupan.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa kampung itu kehilangan kedamaiannya?
  2. Apa arti sayap yang kuat dan ekor yang panjang menurut sang enggang?
  3. Bagaimana warga kampung berubah setelah mendengar pesan enggang?
  4. Kalau kamu punya badan yang kuat, untuk apa sebaiknya dipakai?

Untuk kelas

rumah betangenggangpedalamanrukunberkecukupandiukir

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.