

Halaman 1
Jauh di dasar laut, berdiri istana karang. Di sana tinggal raja laut dan enam putri duyung. Yang bungsu paling pendiam. Kebunnya ditanami bunga laut merah. Ia suka duduk di sana, memandang ke atas, ke arah cahaya yang jauh.

Halaman 2
"Di atas sana ada kapal, kota, dan burung-burung," cerita nenek laut. "Saat umurmu lima belas tahun, kau boleh naik melihatnya." Duyung kecil menghitung hari. "Aku ingin sekali melihat dunia atas," bisiknya pada bunga-bunga lautnya.
Halaman 3
Akhirnya hari itu tiba. Duyung kecil naik ke permukaan. Di sana ada kapal besar dengan lampu warna-warni. Di geladaknya, seorang pangeran muda merayakan ulang tahun. Kembang api mekar di langit. "Indah sekali!" bisiknya terpesona.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malam itu badai datang. Ombak besar memecah kapal, dan pangeran jatuh ke laut. "Bertahanlah!" seru duyung kecil sambil berenang menolongnya. Dipeluknya kepala pangeran sampai ke pantai. Sebelum pangeran bangun, ia menyelam pergi.
Halaman 5
Duyung kecil tak bisa melupakan pangeran. Ia berenang ke gua Penyihir Laut. "Kuberi kau kaki, bayarannya suaramu," kata penyihir. "Tapi bila pangeran menikahi gadis lain, kau kembali pada laut dan menjadi bagian dari cahayanya."
Halaman 6
Di pantai, pangeran menemukan gadis bisu berwajah lembut. Ia membawanya ke istana. Mereka menjadi teman baik. Duyung kecil menari untuk pangeran, walau kakinya terasa berat. "Senyummu seperti seseorang yang pernah kukenal," kata pangeran heran.
Halaman 7
Suatu hari pangeran berkata, "Aku akan menikah dengan putri kerajaan seberang. Kurasa dialah yang menyelamatkanku dulu." Duyung kecil ingin berkata jujur, tapi suaranya tidak ada. Diam-diam hatinya menangis, namun ia tetap tersenyum.
Halaman 8
Malam pernikahan pangeran, duyung kecil berdiri di tepi kapal, memandang ombak. Kakak-kakaknya muncul dari air. "Pulanglah bersama kami, adik kecil," ajak mereka lembut. Duyung kecil menggeleng pelan. "Aku ingin pangeran tetap bahagia," bisiknya.
Halaman 9
Saat fajar merekah, sesuatu yang ajaib terjadi. Putri-putri udara yang bercahaya turun mengelilinginya. "Hatimu penuh kasih tanpa pamrih," kata mereka. "Jadilah saudari kami, cahaya laut." Tubuh duyung kecil menjadi ringan, hangat, dan berkilau.
Halaman 10
Sejak itu, di atas ombak sering terlihat cahaya lembut keperakan. Itulah duyung kecil, pengantar angin sejuk dan mimpi indah bagi anak-anak pantai. Malam ini pun ia berkeliling. Pejamkan matamu, biarkan mimpi indahmu datang bersama angin.
Putri Duyung Kecil mungkin dongeng Hans Christian Andersen yang paling dicintai — dan paling menyentuh. Kisah putri laut yang menukar suaranya demi melihat dunia atas ini begitu melekat pada Denmark sampai menjadi lambang negerinya.
Sang duyung kecil bisa dikunjungi sungguhan: di tepi pelabuhan Kopenhagen, ibu kota Denmark, duduk patung perunggu putri duyung di atas sebuah batu, menatap laut. Patung mungil ini termasuk patung paling terkenal di dunia — kartu nama kotanya, seperti Monas bagi Jakarta.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Buku aslinya lebih sedih: sang duyung nyaris lenyap menjadi buih laut sebelum diangkat para putri udara. Versi kami menyimpan cahayanya saja — ia menjadi "cahaya laut" pengantar mimpi indah, dan sedihnya tinggal sebagai rindu yang lembut. Bahan ngobrol: duyung kecil ingin pangeran bahagia walau bukan bersamanya — sayang yang tulus tidak selalu meminta balasan.
Kasih sayang yang tulus tidak selalu meminta balasan. Duyung kecil memilih kebahagiaan orang yang disayanginya, dan ketulusannya membuat dirinya bercahaya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.