Google PlayApp Store
Sampul cerita Putri Duyung Kecil

Putri Duyung Kecil

10 halaman3 menit 39 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Jauh di dasar laut, berdiri istana karang. Di sana tinggal raja laut dan enam putri duyung. Yang bungsu paling pendiam. Kebunnya ditanami bunga laut merah. Ia suka duduk di sana, memandang ke atas, ke arah cahaya yang jauh.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

"Di atas sana ada kapal, kota, dan burung-burung," cerita nenek laut. "Saat umurmu lima belas tahun, kau boleh naik melihatnya." Duyung kecil menghitung hari. "Aku ingin sekali melihat dunia atas," bisiknya pada bunga-bunga lautnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Akhirnya hari itu tiba. Duyung kecil naik ke permukaan. Di sana ada kapal besar dengan lampu warna-warni. Di geladaknya, seorang pangeran muda merayakan ulang tahun. Kembang api mekar di langit. "Indah sekali!" bisiknya terpesona.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Malam itu badai datang. Ombak besar memecah kapal, dan pangeran jatuh ke laut. "Bertahanlah!" seru duyung kecil sambil berenang menolongnya. Dipeluknya kepala pangeran sampai ke pantai. Sebelum pangeran bangun, ia menyelam pergi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Duyung kecil tak bisa melupakan pangeran. Ia berenang ke gua Penyihir Laut. "Kuberi kau kaki, bayarannya suaramu," kata penyihir. "Tapi bila pangeran menikahi gadis lain, kau kembali pada laut dan menjadi bagian dari cahayanya."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Di pantai, pangeran menemukan gadis bisu berwajah lembut. Ia membawanya ke istana. Mereka menjadi teman baik. Duyung kecil menari untuk pangeran, walau kakinya terasa berat. "Senyummu seperti seseorang yang pernah kukenal," kata pangeran heran.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Suatu hari pangeran berkata, "Aku akan menikah dengan putri kerajaan seberang. Kurasa dialah yang menyelamatkanku dulu." Duyung kecil ingin berkata jujur, tapi suaranya tidak ada. Diam-diam hatinya menangis, namun ia tetap tersenyum.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Malam pernikahan pangeran, duyung kecil berdiri di tepi kapal, memandang ombak. Kakak-kakaknya muncul dari air. "Pulanglah bersama kami, adik kecil," ajak mereka lembut. Duyung kecil menggeleng pelan. "Aku ingin pangeran tetap bahagia," bisiknya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Saat fajar merekah, sesuatu yang ajaib terjadi. Putri-putri udara yang bercahaya turun mengelilinginya. "Hatimu penuh kasih tanpa pamrih," kata mereka. "Jadilah saudari kami, cahaya laut." Tubuh duyung kecil menjadi ringan, hangat, dan berkilau.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sejak itu, di atas ombak sering terlihat cahaya lembut keperakan. Itulah duyung kecil, pengantar angin sejuk dan mimpi indah bagi anak-anak pantai. Malam ini pun ia berkeliling. Pejamkan matamu, biarkan mimpi indahmu datang bersama angin.

Tentang cerita ini

Putri Duyung Kecil mungkin dongeng Hans Christian Andersen yang paling dicintai — dan paling menyentuh. Kisah putri laut yang menukar suaranya demi melihat dunia atas ini begitu melekat pada Denmark sampai menjadi lambang negerinya.

Sang duyung kecil bisa dikunjungi sungguhan: di tepi pelabuhan Kopenhagen, ibu kota Denmark, duduk patung perunggu putri duyung di atas sebuah batu, menatap laut. Patung mungil ini termasuk patung paling terkenal di dunia — kartu nama kotanya, seperti Monas bagi Jakarta.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Buku aslinya lebih sedih: sang duyung nyaris lenyap menjadi buih laut sebelum diangkat para putri udara. Versi kami menyimpan cahayanya saja — ia menjadi "cahaya laut" pengantar mimpi indah, dan sedihnya tinggal sebagai rindu yang lembut. Bahan ngobrol: duyung kecil ingin pangeran bahagia walau bukan bersamanya — sayang yang tulus tidak selalu meminta balasan.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kasih sayang yang tulus tidak selalu meminta balasan. Duyung kecil memilih kebahagiaan orang yang disayanginya, dan ketulusannya membuat dirinya bercahaya.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa yang duyung kecil berikan sebagai bayaran untuk sepasang kaki?
  2. Kenapa duyung kecil tidak memberi tahu pangeran bahwa dialah penyelamatnya?
  3. Kenapa duyung kecil tidak ikut pulang bersama kakak-kakaknya?
  4. Menjadi apa duyung kecil di akhir cerita?
  5. Pernahkah kamu mengalah supaya orang lain senang? Bagaimana rasanya?
ketulusankasih sayangmerelakankeberanian

Untuk kelas

karanggeladakbisubadaipamrihfajarkeperakan

Cerita lain: Andersen

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.