

Halaman 1
Musim panas tiba di tepi danau. Rumput tumbuh tinggi dan hangat. Di dalam sarang, seekor induk itik mengerami telur-telurnya. Ia menunggu lama sekali. Akhirnya telur-telur itu retak. "Piip! Piip!" Anak-anak itik keluar satu per satu.

Halaman 2
Satu telur paling besar belum juga menetas. Induk itik sabar menunggu. Akhirnya, krak! Keluarlah anak itik yang besar dan berbulu abu-abu. "Kok dia berbeda sendiri?" bisik itik-itik lain. "Dia tidak mirip dengan kita."
Halaman 3
Di halaman peternakan, semua menertawakannya. "Lihat, itik buruk rupa!" ejek ayam-ayam. Saudara-saudaranya pun ikut menjauh. Anak itik menunduk, hatinya sedih sekali.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malam itu ia pergi diam-diam, sampai ke rawa yang luas. Angin mulai dingin, daun-daun berguguran. Musim gugur telah tiba. Anak itik berenang sendirian supaya badannya tetap hangat. "Andai ada teman menemaniku," bisiknya pelan.
Halaman 5
Suatu senja, serombongan burung putih terbang tinggi di langit. Leher mereka panjang, sayap mereka lebar berkilau. Itulah angsa-angsa yang terbang ke negeri hangat. "Indahnya..." gumam anak itik. Dadanya berdebar, rindu entah pada apa.
Halaman 6
Lalu musim dingin datang. Air danau membeku dan salju turun perlahan. Anak itik meringkuk di antara alang-alang, menahan dingin yang panjang. Dalam hatinya ia berkata, "Aku harus bertahan sampai musim semi tiba."
Halaman 7
Akhirnya matahari kembali hangat. Es mencair, bunga-bunga bermekaran. Anak itik mengepakkan sayapnya. Wah, sayapnya kini kuat dan lebar! Untuk pertama kali ia terbang tinggi, melayang menuju taman hijau di tepi sungai.
Halaman 8
Di sana, tiga angsa putih berenang dengan anggun. Anak itik mendekat perlahan. "Kalau mereka mengusirku, tidak apa-apa," pikirnya. "Aku hanya ingin berada di dekat mereka." Ia menundukkan kepala ke permukaan air yang jernih.
Halaman 9
Di air, ia melihat bayangannya sendiri. Bukan itik abu-abu, melainkan angsa putih yang indah! Angsa-angsa lain berenang menyambutnya. Anak-anak di taman berseru, "Ada angsa baru! Dialah yang paling indah!"
Halaman 10
Angsa muda itu tidak menyombongkan diri. Ia malah mengajak itik-itik kecil di tepian ikut bermain. Malam turun, alang-alang berbisik pelan di tepi air. Ia menyelipkan kepala di bawah sayap. Tidurlah tenang, seperti angsa di antara alang-alang.
Itik Buruk Rupa lahir dari pena Hans Christian Andersen, penulis besar dari Denmark. Berbeda dengan Grimm bersaudara yang mengumpulkan cerita rakyat, Andersen mengarang sendiri dongeng-dongengnya — dan kisah ini yang paling dekat dengan hidupnya. Ia lahir di kota kecil Odense sebagai anak tukang sepatu miskin, sering diejek karena dianggap aneh, lalu tumbuh menjadi pencerita yang dicintai dunia.
Ada fakta alam yang manis di balik cerita ini: anak angsa sungguhan memang berbulu abu-abu kusam, dan baru setelah besar berubah putih berkilau. Itik sendiri sahabat lama anak Indonesia — barisannya mudah ditemui di sawah dan kampung. Kalau bertemu, ajak anak membandingkan: yang mana itik, yang mana angsa?
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: si itik tidak pernah membalas ejekan, dan begitu menjadi angsa ia justru mengajak itik-itik kecil bermain. Tanyakan pada anak: bagaimana rasanya diejek — dan kenapa kata-kata kita bisa menghangatkan atau melukai?
Setiap anak tumbuh dengan waktunya sendiri. Yang hari ini tampak berbeda bisa menjadi indah pada waktunya, jadi jangan menilai diri sendiri atau teman hanya dari penampilan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.