

Halaman 1
Ada seorang pangeran muda. Ia ingin menikah dengan putri sejati. Tapi putri sejati itu seperti apa? Pangeran sendiri belum tahu. "Aku akan tahu kalau bertemu," katanya yakin. Maka ia berkeliling dunia untuk mencarinya.

Halaman 2
Pangeran mengunjungi banyak kerajaan. Ia bertemu banyak putri, tapi selalu ada yang terasa kurang pas. Akhirnya ia pulang dengan hati sedih. "Mungkin putri sejati memang tidak ada," katanya pada ibunya, sang ratu tua.
Halaman 3
Suatu malam, badai besar datang. Petir menyambar, hujan turun deras sekali. Tok! Tok! Tok! Ada yang mengetuk gerbang istana. Raja tua membuka pintu. Di depannya berdiri seorang gadis yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Aku putri sejati," kata gadis itu sambil menggigil. "Badai membuatku tersesat." Air menetes dari bajunya dan sepatunya. Ratu tua memandangnya dan berpikir, "Putri sejati? Hmm, kita lihat saja nanti." Tapi ia tidak berkata apa-apa.
Halaman 5
Diam-diam ratu pergi ke kamar tamu. Ia menaruh sebutir kacang polong kecil di atas ranjang. Lalu ia menumpuk dua puluh kasur di atas kacang itu. Di atasnya lagi ia susun dua puluh selimut bulu. Ranjang itu menjulang tinggi sekali!
Halaman 6
Gadis itu memanjat tangga kecil untuk naik ke tempat tidurnya yang tinggi. "Tidur yang nyenyak, ya," kata ratu ramah. Lampu dipadamkan. Di luar, hujan masih rintik-rintik membasahi jendela istana.
Halaman 7
Paginya, ratu bertanya, "Bagaimana tidurmu semalam?" Gadis itu menghela napas. "Aduh, hampir tidak bisa tidur! Ada yang keras sekali di ranjangku. Badanku sampai pegal-pegal." Ratu dan pangeran saling berpandangan.
Halaman 8
"Dialah putri sejati!" seru pangeran gembira. "Hanya putri sejati yang kulitnya sehalus itu. Sebutir kacang di bawah empat puluh lapis pun terasa olehnya!" Pangeran melamarnya, dan sang putri tersenyum bahagia.
Halaman 9
Setelah pesta pernikahan mereka, kacang polong kecil itu disimpan di kotak kaca sebagai kenang-kenangan. Nah, ranjangmu malam ini pasti empuk, tanpa kacang satu pun. Berbaringlah yang nyaman, dan tidurlah seperti putri sejati.
Putri dan Kacang Polong adalah dongeng jenaka Hans Christian Andersen dari Denmark: sebutir kacang kecil menjadi ujian rahasia bagi seorang putri. Menara kasur yang menjulang dengan kacang tersembunyi di dasarnya termasuk gambar paling dikenang dalam sejarah dongeng dunia.
Kisah ini meninggalkan ungkapan yang masih hidup: orang yang sangat peka sering dijuluki "putri dan kacang polong". Di rumah, dongeng ini paling enak langsung dimainkan: selipkan satu benda kecil di bawah tumpukan bantal dan selimut, lalu minta "putri" atau "pangeran" kecilmu menebak ada apa di bawahnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ceritanya ringan dan hampir tidak kami ubah — kacang polong itu sampai akhir disimpan sebagai kenang-kenangan, seperti dalam buku aslinya. Bahan ngobrol: ratu tidak langsung percaya ucapan tamunya, dan itu tidak membuatnya jahat — kadang kita perlu cara yang lembut untuk mengenal orang baru.
Yang sejati akan terlihat dari hal-hal kecil, bukan dari penampilan luar. Kepekaan dan kelembutan hati tidak bisa dibuat-buat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.