

Halaman 1
Di sebuah kerajaan, hidup sebelas pangeran dan adik mereka, Elisa. Mereka sangat rukun. Setiap sore mereka bermain bersama di taman istana. "Kita bersaudara selamanya," kata kakak tertua sambil menggandeng Elisa kecil.

Halaman 2
Suatu hari raja menikah lagi. Ratu baru itu ternyata seorang penyihir yang iri hati. Ia tidak suka melihat raja menyayangi kedua belas anaknya. Diam-diam ia menyiapkan sihir jahat.
Halaman 3
Pagi berikutnya ratu menyihir sebelas pangeran menjadi angsa-angsa liar, lalu menyuruh mereka terbang jauh. Elisa sendiri dikirim ke sebuah desa yang jauh dari istana. Kerajaan pun menjadi sepi dan sedih.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Elisa tumbuh menjadi gadis baik hati. Ia mencari kakak-kakaknya sampai ke tepi laut. Saat matahari terbenam, sebelas angsa putih mendarat di dekatnya. Begitu cahaya terakhir hilang, mereka berubah menjadi manusia! "Elisa, adikku!" seru mereka.
Halaman 5
Menjelang pagi kakak-kakaknya kembali menjadi angsa. Mereka menganyam jala dari ranting, lalu Elisa duduk di dalamnya. Sebelas angsa membawanya terbang jauh di atas ombak, menuju negeri seberang laut tempat mereka tinggal.
Halaman 6
Dalam mimpi, Elisa bertemu peri baik. "Ada cara menolong kakakmu," kata peri. "Anyamlah sebelas baju dari jelatang, tumbuhan liar yang membuat gatal. Selama bekerja, kau tak boleh bicara sepatah pun. Kalau bicara, semuanya gagal."
Halaman 7
Elisa mulai memetik jelatang. Tangannya perih dan gatal, tapi ia tidak mengeluh. Ia menganyam siang dan malam tanpa bicara. Kakak-kakaknya mengerti apa yang ia lakukan. Air mata mereka menetes di tangan Elisa, dan rasa perihnya berkurang.
Halaman 8
Seorang raja muda yang baik menemukan Elisa di hutan. Ia membawa Elisa ke istananya. Elisa tetap membisu dan terus menganyam. Orang-orang istana berbisik, "Gadis yang aneh. Kenapa ia tidak mau bicara?" Elisa hanya menunduk dan bekerja.
Halaman 9
Bisik-bisik makin ramai, tapi Elisa tidak berhenti. Malam-malam ia memetik jelatang segar di kebun. Sepuluh baju sudah selesai, tinggal satu. Jari-jarinya lelah sekali, namun hatinya berkata, "Sedikit lagi. Demi kakak-kakakku."
Halaman 10
Pagi itu Elisa membawa baju jelatang ke halaman. Angin bertiup, dan dari langit terdengar seruan burung. Sebelas angsa turun! Elisa melemparkan baju ke tubuh mereka, dan mereka berubah menjadi pangeran. Hanya si bungsu yang masih punya satu sayap.
Halaman 11
"Sekarang aku boleh bicara!" seru Elisa, dan ia menceritakan semuanya. Ratu penyihir sudah lama pergi dari istana, dan sihirnya lenyap bersamanya. Malam itu dua belas bersaudara berkumpul lagi, hangat dan lengkap. Tidur manis, ya.
Angsa-Angsa Liar karya Hans Christian Andersen sekeluarga dengan dongeng-dongeng Eropa tentang saudara yang disihir menjadi burung — Grimm punya kerabatnya, Enam Angsa. Tetapi versi Andersen punya jiwa sendiri: laut luas, sebelas angsa yang membawa jala terbang di atas ombak, dan seorang adik yang memilih membisu demi kakak-kakaknya.
Jelatang yang dianyam Elisa adalah tumbuhan sungguhan: daunnya berbulu halus yang membuat kulit perih dan gatal bila tersentuh — di Indonesia kerabatnya dikenal sebagai daun gatal. Karena itulah pengorbanan Elisa terasa nyata: bayangkan menganyam sebelas baju dari daun seperti itu tanpa mengeluh sekali pun.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam buku tua Elisa sempat dituduh penyihir dan nyaris dihukum; versi kami memilih jalan yang tenang — sihir lenyap bersama perginya ratu jahat. Bahan ngobrol: ada sayang yang diucapkan, ada yang dikerjakan diam-diam. Tanyakan: siapa yang pernah menolongmu tanpa banyak bicara?
Kesabaran dan kasih sayang pada keluarga bisa mengalahkan sihir paling kuat. Elisa bertahan dalam diam dan perih demi kakak-kakaknya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.