

Halaman 1
Di tepi sungai tumbuh sebatang pohon ek yang besar. Batangnya tebal, dahannya gagah. Di sebelahnya tumbuh serumpun buluh — bambu kecil yang ramping. Tubuh buluh bergoyang-goyang setiap kali angin lewat.

Halaman 2
“Lihat dirimu,” kata pohon ek suatu hari. “Angin kecil saja membuatmu membungkuk-bungkuk. Aku tidak pernah membungkuk. Aku kuat! Tidak ada angin yang bisa menggoyahkanku.”
Halaman 3
Buluh menjawab lembut, “Aku memang kecil, Pohon Ek. Aku membungkuk supaya tidak patah. Setelah angin lewat, aku tegak kembali.” Pohon ek tertawa keras. “Membungkuk itu tanda takut!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Suatu malam, datanglah badai besar. Angin menderu-deru turun dari gunung. Hujan jatuh seperti tirai. Buluh membungkuk rendah, rendah sekali, hampir mencium tanah. “Membungkuklah, Ek! Sekali ini saja!” serunya di tengah deru angin.
Halaman 5
Pohon ek berdiri kaku menantang badai. “Aku tidak akan tunduk!” serunya. Angin mendorong makin kuat. Dahan-dahannya berderak. Akarnya bergetar. Dan akhirnya... krakkk! Pohon ek tumbang, rebah panjang di tepi sungai.
Halaman 6
Pagi harinya, badai pergi. Buluh menegakkan tubuhnya kembali, basah tetapi utuh. Ia memandang pohon ek yang terbaring. “Kamu tidak apa-apa, Ek?” tanyanya cemas.
Halaman 7
“Aku masih hidup,” jawab pohon ek pelan. Sebagian akarnya masih tertanam di tanah. “Sekarang aku mengerti. Kamu bukan penakut, Buluh. Kamu bijak. Yang lentur tidak mudah patah.”
Halaman 8
Musim pun berganti. Batang ek yang rebah menjadi jembatan bagi tupai dan landak. “Terima kasih, jembatan besar!” cicit tupai setiap pagi. Tunas-tunas baru tumbuh dari akarnya, dan tunas itu belajar bergoyang bersama angin, seperti buluh.
Halaman 9
Malam ini angin bertiup pelan di tepi sungai. Buluh bergoyang lembut seperti sedang menimang, tunas ek kecil mengangguk-angguk mengantuk. Ikutlah mengangguk pelan... pelan... lalu pejamkan matamu dan tidurlah.
Pohon besar yang tumbang melawan badai dan tumbuhan kecil yang selamat karena membungkuk — perumpamaan ini diceritakan orang sejak zaman Aesop dan digemari para penyair dunia. Dalam versi kami, lawan si pohon ek adalah buluh — bambu kecil yang akrab di mata anak Indonesia.
Kelenturan bambu bukan dongeng: batang yang bisa melengkung tanpa patah itu dipakai orang Indonesia untuk rumah, jembatan, layang-layang, sampai angklung. Beri anak sebilah bambu atau lidi: rasakan bagaimana ia melentur lalu tegak kembali — persis jurus buluh menghadapi badai.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama pohon ek tercabut dan kisah berhenti di sana; versi kami memberinya kehidupan kedua — batangnya menjadi jembatan tupai, dan tunas barunya belajar bergoyang. Bahan obrolan: mengalah bukan berarti kalah; saat "badai" amarah datang, membungkuk sebentar bisa jadi cara yang paling kuat.
Yang lentur dan rendah hati bertahan lebih lama daripada yang kaku dan sombong.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.