

Halaman 1
Ada seorang pemuda pedagang. Ayahnya meninggalkan banyak harta untuknya. Sayangnya, ia suka sekali berfoya-foya. Uangnya cepat habis. Pada akhirnya ia hanya punya sepasang sandal tua dan sebuah peti kayu besar.

Halaman 2
"Peti ini untuk mengemasi barang," kata temannya. Pemuda itu masuk ke dalam peti dan duduk di sana. Klik! Ia menekan kunci peti tanpa sengaja. Tiba-tiba peti itu melayang naik, keluar dari cerobong asap, dan terbang tinggi ke awan!
Halaman 3
Peti itu terbang jauh melewati laut dan gurun pasir. Akhirnya mendarat di sebuah negeri asing. Pemuda itu menyembunyikan petinya di bawah pohon. Ia mendengar cerita orang-orang tentang seorang putri yang tinggal di menara tinggi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Putri itu dijaga rapat di menara," kata seorang penduduk. "Konon ia belum pernah tertawa sekali pun." Pemuda itu berpikir sejenak. "Kalau begitu aku akan menghiburnya," katanya. Malam itu ia naik ke petinya dan terbang ke jendela menara.
Halaman 5
Putri sedang tertidur di kursinya saat peti mendarat pelan. Ia terbangun dan terkejut. "Siapa kamu?" tanyanya. Pemuda itu tersenyum, "Aku pengembara yang datang dari langit, dan aku membawa cerita." Putri pun duduk mendengarkan.
Halaman 6
Pemuda itu bercerita tentang burung yang bisa bicara, tentang pohon yang tumbuh sampai bintang. Putri tertawa untuk pertama kalinya. "Ceritamu paling seru yang pernah kudengar," katanya. "Datanglah lagi besok malam, ya?"
Halaman 7
Setiap malam peti kayu itu mendarat di jendela menara. Setiap malam ada cerita baru. Suatu hari raja dan ratu ingin bertemu si pencerita. "Ceritakan sesuatu untuk kami juga," pinta mereka. Maka pemuda itu bersiap untuk cerita yang paling bagus.
Halaman 8
Untuk merayakannya, ia membeli banyak kembang api. Ia menyalakannya di langit malam supaya seluruh kota melihat. Wusss! Duar! Bunga api merah dan emas mekar di atas kota. Semua orang keluar rumah dan bersorak kagum.
Halaman 9
Namun percikan api jatuh mengenai peti kayu di bawah pohon. Peti itu terbakar habis menjadi abu. Pemuda itu terduduk, sedih sekali. "Sekarang aku tidak bisa terbang lagi," bisiknya. "Aku harus mencari jalan lain menuju menara."
Halaman 10
Maka ia berjalan berkeliling negeri, bercerita di alun-alun untuk siapa saja. Suatu hari ceritanya sampai ke telinga putri, dan mereka bertemu lagi di taman istana. Nah, ceritamu malam ini juga sudah selesai. Terbanglah pelan ke negeri mimpi.
Peti Terbang membawa tanda tangan Hans Christian Andersen yang paling pribadi: kegemarannya mengembara. Penulis Denmark ini menjelajah Eropa sepanjang hidupnya dan meninggalkan kalimat termasyhur: "bepergian adalah hidup". Dalam dongeng ini ia menerbangkan tokohnya melewati laut dan gurun ke negeri asing yang jauh.
Yang membuat sang putri jatuh hati bukan peti ajaibnya, melainkan cerita. Ini dongeng tentang kekuatan mendongeng itu sendiri — dan mudah dibawa ke kehidupan nyata: sesekali bertukar peran, biarkan anak yang bercerita sebelum tidur, tentang apa saja, dan dengarkan seserius putri di menara itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam buku tua si pemuda tidak pernah kembali menemui sang putri — akhir getir khas Andersen; versi kami membiarkan cerita mempertemukan mereka lagi di taman istana. Bahan ngobrol: peti terbakar karena kembang api yang berlebihan — kesenangan besar kadang perlu rem. Apa yang hilang, dan apa yang tetap dimiliki si pencerita?
Harta bisa habis dan barang ajaib bisa hilang, tetapi bakat dan kebaikan yang kita miliki tetap tinggal bersama kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.