

Halaman 1
Dahulu kala, hiduplah penebang kayu miskin dengan tujuh anak lelaki. Anak bungsunya sangat mungil, sebesar ibu jari. Semua memanggilnya Si Kecil Ibu Jari. Badannya kecil, tapi otaknya cerdik sekali. Ia jarang bicara, tapi selalu memperhatikan.

Halaman 2
Suatu malam, panen gagal dan makanan habis. "Besok kita harus mencari kerja jauh di kota," kata Ayah sedih. Si Kecil Ibu Jari mendengarkan dari balik bangku. "Kalau begitu, aku harus siap-siap," pikirnya. Ia mengisi sakunya dengan kerikil putih.
Halaman 3
Keesokan harinya, mereka berjalan jauh ke dalam hutan. Ayah dan Ibu berjalan cepat mencari jalan ke kota. Diam-diam, Si Kecil Ibu Jari menjatuhkan kerikil satu per satu. Ketika ketujuh anak itu tersesat, kakak-kakaknya menangis ketakutan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Jangan takut," kata Si Kecil Ibu Jari tenang. "Lihat, bulan bersinar di atas kerikilku." Kerikil putih itu berkilau seperti rantai bintang di tanah. Mereka mengikutinya sampai ke pintu rumah. Ayah dan Ibu memeluk mereka erat-erat.
Halaman 5
Beberapa hari kemudian, makanan habis lagi. Ayah mengajak mereka mencari kayu jauh ke dalam hutan, dan mereka tersesat. Hujan turun, malam menjadi gelap. Dari puncak pohon, Si Kecil Ibu Jari melihat satu cahaya kecil. "Ada rumah di sana!" serunya.
Halaman 6
Pintu dibuka seorang nyonya baik hati. "Masuklah cepat, Nak. Tapi hati-hati, suamiku raksasa, dan ia suka menakut-nakuti anak-anak." Ia menyembunyikan mereka di bawah tempat tidur. Bum, bum! Langkah raksasa itu menggetarkan lantai.
Halaman 7
Raksasa itu makan tujuh mangkuk sup, lalu tertidur di kursinya sambil mendengkur keras. Grook! Grook! Si Kecil Ibu Jari melihat sepatu bot besar di kakinya. "Itu sepatu ajaib yang bisa berjalan tujuh mil dalam satu langkah," bisik nyonya itu.
Halaman 8
Pelan-pelan, Si Kecil Ibu Jari menarik sepatu bot itu. Ajaib, sepatu besar itu mengecil pas di kakinya! Ia menggiring kakak-kakaknya keluar. "Ayo, jalan berjinjit, jangan berisik." Mereka melangkah keluar tanpa suara sedikit pun.
Halaman 9
Dengan sepatu tujuh mil, Si Kecil Ibu Jari mengantar kakak-kakaknya pulang secepat angin. Kemudian ia bekerja sebagai pengantar pesan Raja, dan sejak itu keluarganya tidak pernah kelaparan lagi.
Halaman 10
Malam itu, tujuh bersaudara berbaring berjajar di rumah yang hangat. Sepatu tujuh mil diletakkan rapi di dekat pintu. Si Kecil Ibu Jari tersenyum, lalu terlelap. Kamu juga, sayang: letakkan kepalamu, dan berangkatlah ke negeri mimpi.
Si Kecil Ibu Jari — "Le Petit Poucet" — adalah dongeng Charles Perrault tentang si bungsu mungil yang menyelamatkan enam kakaknya dengan akal. Dari kisah inilah sepatu tujuh mil melangkah masuk ke banyak dongeng Eropa: sekali melangkah, tujuh mil terlampaui.
Dalam adaptasi kami tokoh menyeramkannya disebut dengan kata yang akrab di telinga anak Indonesia: raksasa, seperti dalam cerita-cerita Nusantara sendiri. Jejak kerikil putih di bawah cahaya bulan juga enak dimainkan: buat jejak dari kancing atau kerikil menuju "harta" di rumah, lalu biarkan anak menyusurinya seperti Si Kecil Ibu Jari.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Raksasa pemakan orang dalam buku tua Perrault jauh lebih menyeramkan; di versi kami ia hanya menakutkan lewat ukuran dan suara, dan tidak seorang pun terluka. Bahan ngobrol: yang paling kecil dan paling pendiam justru paling jeli memperhatikan. Tanyakan: apa untungnya mengamati dulu sebelum bicara?
Badan boleh kecil, tetapi pikiran yang tenang dan cerdik bisa menolong seluruh keluarga.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.