

Halaman 1
Dahulu di sebuah istana di Tanah Pasundan tinggallah gadis bernama Anteh. Ibunya bekerja di istana, sehingga Anteh tumbuh bersama Putri Endahwarni sebagai sahabat. Suara Anteh merdu, dan ia pandai menenun.

Halaman 2
Ke mana pun Anteh pergi, seekor kucing belang tiga bernama Candramawat selalu mengikutinya. Kalau Anteh menenun sambil bernyanyi, Candramawat melingkar di dekat kakinya sambil mendengkur pelan.
Halaman 3
Suatu hari Pangeran Anantakusuma datang untuk bertunangan dengan sang putri. Namun di taman, ia mendengar Anteh bernyanyi. Suara itu begitu lembut hingga sang pangeran terpaku dan ingin menikahi Anteh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Anteh tahu hati sahabatnya sedih. “Aku tidak mau melukai Putri Endahwarni,” bisiknya kepada Candramawat. “Persahabatan kami lebih berharga.” Maka diam-diam ia berkemas meninggalkan istana.
Halaman 5
Anteh pulang ke kampung neneknya dan hidup dengan menenun kain. Namun sang pangeran terus mencarinya dari desa ke desa. Anteh pun gelisah, sebab ia tak ingin ada hati yang terluka karenanya.
Halaman 6
Pada suatu malam purnama, Anteh duduk di halaman memangku Candramawat. Ia menyanyikan lagu yang paling lembut, memohon kepada langit sebuah tempat yang damai untuk dirinya dan kucing kesayangannya.
Halaman 7
Perlahan cahaya bulan turun seperti tangga perak di depannya. Anteh menggendong Candramawat dan menaiki tangga cahaya itu. Angin malam mengantar mereka naik, tinggi dan tenang, sampai ke bulan yang teduh.
Halaman 8
Di bulan, Anteh hidup damai. Ia menenun kain dari benang-benang cahaya. Kalau sedang rindu pada bumi, ia memandang ke bawah sambil bernyanyi lembut, dan Candramawat mendengkur di sisinya.
Halaman 9
Sejak itu, saat purnama, orang-orang melihat bayangan di bulan: seorang gadis menenun ditemani seekor kucing. Itulah Nyai Anteh. Konon lagunya turun bersama sinar bulan dan membuat anak-anak mengantuk.
Halaman 10
Malam ini, kalau cahaya bulan masuk lewat jendelamu, mungkin Nyai Anteh sedang menenun sambil bernyanyi untukmu. Dengarkan lagunya dalam hati, pejamkan matamu, dan tidurlah dengan nyenyak.
"Nyai Anteh" adalah cerita Sunda tentang bayangan di bulan. Hampir setiap bangsa punya kisahnya sendiri untuk bercak gelap di wajah purnama — ada yang melihat kelinci, ada yang melihat penenun. Orang Sunda melihat seorang gadis menenun ditemani kucing belang tiga, dan itulah Nyai Anteh dengan Candramawat-nya.
Jangkar dunia nyatanya tinggal menunggu langit cerah: saat purnama, ajak anak memandang bulan dan mencari "gambar" di permukaannya. Setiap anak bisa menemukan bentuknya sendiri — dan itu bagian paling serunya: beginilah dulu cerita-cerita bulan dilahirkan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam sebagian versi lama Anteh digambarkan terjebak di bulan selamanya; versi kami memilih menceritakannya sebagai pilihan yang damai — tempat yang tenang untuk dirinya dan kucingnya. Bahan ngobrol: Anteh pergi dari istana demi menjaga hati sahabatnya. Tanyakan pada anak: apa yang pernah ia lakukan demi teman, dan kenapa persahabatan kadang butuh pengorbanan?
Menjaga perasaan sahabat adalah bentuk kasih sayang yang paling halus.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.