

Halaman 1
Di hutan Selandia Baru, hiduplah burung-burung. Dahulu kala, semuanya bisa terbang. Termasuk kiwi, burung kecil yang lincah. Setiap pagi mereka bernyanyi bersama di pucuk-pucuk pohon yang tinggi.

Halaman 2
Suatu hari, Tane si penjaga hutan berjalan di antara pepohonan. Wajahnya sedih. Ia melihat daun-daun menguning. «Pohon-pohonku sakit,» katanya. «Serangga kecil menggerogoti akarnya di tanah yang gelap. Hutan ini butuh pertolongan.»
Halaman 3
Tane memanggil semua burung. «Siapa yang mau turun dan tinggal di lantai hutan? Ia harus menjaga akar pohon dan memakan serangga di tanah yang lembap dan gelap.» Burung-burung saling memandang. Hutan menjadi hening.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
«Tui, maukah kau?» tanya Tane. Tui menggeleng. «Aku takut gelap di bawah sana.» «Pukeko, kau?» «Tanahnya dingin dan basah, aku tidak suka.» «Pipit, kau?» «Aku sibuk membangun sarangku di atas.» Satu per satu, semua punya alasan.
Halaman 5
Lalu terdengar suara kecil. «Aku mau.» Semua menoleh. Kiwi maju perlahan. «Kalau aku tinggal di bawah, aku tidak bisa terbang lagi, kan?» «Benar,» jawab Tane pelan. «Sayapmu akan mengecil.» Kiwi menarik napas. «Tidak apa-apa. Hutan lebih penting.»
Halaman 6
Tane meletakkan tangannya di kepala kiwi. «Terima kasih, burung kecil yang berhati besar.» Sejak hari itu, kiwi tinggal di lantai hutan. Sayapnya mengecil, bulunya menjadi cokelat lembut seperti daun kering. Kakinya menjadi kuat untuk berjalan.
Halaman 7
Setiap malam, kiwi bekerja. Ia mengendus tanah dengan paruhnya yang panjang, lalu memakan serangga yang mengganggu akar. Pohon-pohon kembali hijau dan segar. Daun-daun berbisik, «Terima kasih, Kiwi,» setiap kali angin lewat.
Halaman 8
Tane tidak melupakan jasa kiwi. «Mulai sekarang,» katanya, «kiwi menjadi burung yang paling dikasihi di negeri ini.» Sampai hari ini, orang Selandia Baru sangat menyayangi kiwi. Mereka bahkan menyebut diri mereka «orang kiwi».
Halaman 9
Malam ini kiwi meringkuk di sarangnya yang hangat di antara akar pohon. Di atasnya, hutan yang sehat berdesir pelan, seperti berterima kasih. Tidurnya nyenyak, hatinya tenang, karena ia sudah menolong. Tidurlah setenang kiwi malam ini.
Cerita ini sering disebut legenda Maori, padahal ia karangan modern: ditulis di Selandia Baru pada abad ke-20, meminjam Tane sang penjaga hutan dan burung-burung asli dari tradisi Maori. Kini ia dibacakan di sekolah-sekolah di sana dan sudah terasa seperti dongeng rakyat — kami menyebutnya apa adanya.
Kiwi sungguhan persis seperti dalam cerita: aktif di malam hari, sayapnya tinggal sisa kecil, dan lubang hidungnya di ujung paruh untuk mengendus serangga di tanah. Tui dan pukeko juga burung nyata Selandia Baru. Indonesia punya burung besar yang memilih lantai hutan juga — kasuari di Papua, berkaki kuat dan tak bisa terbang. Dan buah kiwi dinamai menurut burung ini karena bulunya cokelat serupa.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita aslinya sudah lembut, dan versi kami setia padanya; hanya nada Tane dibuat lebih hangat. Bahan ngobrol: kiwi kehilangan sayap tapi mendapat kaki kuat dan hutan yang sehat. Adakah sesuatu yang pernah kamu lepaskan supaya orang lain terbantu?
Menolong kadang butuh pengorbanan — dan hati yang rela membuat kita dikasihi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.